
Pulang sekolah...
Kak Dave masih bersikap seperti biasa.
Tidak ada raut sedih di wajahnya.
Justru hanya senyum dan keramahan yang Kak Dave suguhkan padaku.
Hari ini, pertama kalinya aku canggung menghadapinya.
Dia memintaku untuk tidak banyak bicara dan ikuti saja apa yang dia inginkan.
Beberapa menit kemudian...
"Kak Dave kita mau kemana? arah pulang kan belok kiri?" Ucap ku heran.
"Kamu diam aja, nanti kamu juga tahu kita mau kemana." Jawab Kak Dave sambil mengendarai motornya.
Jalan yang kami lalui seperti tidak asing.
Taman yang ada danaunya !!!!
Oh iya , pasti tempat itu.
Tapi Kak Dave bilang, dia hanya akan pergi kesana saat rindu sang Ibu.
Apa mungkin dia merindukannya?
Sesampainya di sana...
Aku dan Kak Dave berjalan menuju tempat pertama kali Ayah Haris dan Ibu nya bertemu.
Kami duduk di kursi yang tersedia di sekitar tempat itu.
"Tetaplah di sisiku, jangan pernah mencoba lari lagi. Aku tahu betapa sulitnya kamu menahan perasaan sayangmu padaku." Ucap Kak Dave sambil menatap lurus ke depan.
"Apa yang kamu katakan Kak? jangan terlalu perduli denganku, hubungan kita sudah berakhir." Jawab ku yang memicu debaran aneh di jantungku, seakan tidak setuju dengan kata yang aku ucapkan.
"Jangan banyak bicara, aku sudah mengatakannya dari awal. Kamu hanya perlu diam. Dengarkan baik-baik apa yang aku inginkan. Aku hanya akan mengatakannya satu kali saja." Ucap Kak Dave dengan serius.
Kali ini Kak Dave terlihat sangat berbeda. Seperti seorang pria kesepian yang butuh di dengarkan.
Aku merasa Kak Dave begitu sedih..
"Lily, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Meski Ibu dan Ayah menentang hubungan kita." Ucap Kak Dave sambil menatap kedua mataku.
Mata nya sangat indah, aku tidak mampu menatapnya terlalu lama.
"Jangan memalingkan wajah dariku. Aku tidak bisa kalau kamu terus seperti itu, Dek." Ucap Kak Dave yang melihatku enggan menatapnya.
"Kita hanya harus berjuang, kita belum kalah. Soal hubungan yang rumit ini, aku sudah menyiapkan segalanya. Kamu hanya perlu menunggu." Ucap Kak Dave menambahkan.
"Maaf Kak Dave, apa sekarang aku boleh bicara?" Tanya ku yang sedari tadi terluka mendengarkan kesedihan yang nyata dari Kak Dave.
"Karena kamu ingin, bicaralah." Ucap Kak Dave.
Aku memeluk tubuh Kak Dave.
__ADS_1
Aku menangis, merasa tidak berdaya.
"Kak Dave, maafkan aku karena telah melukai hatimu. Aku ingin kita selalu bersama. Tapi emosi sesaat membuat ku hilang akal. Ibu adalah hal terpenting dalam hidupku. Jika beliau ingin aku bersama Kak Daniel, hatiku tidak kuasa menolak meski aku tidak mau melakukannya." Ucap ku masih dengan memeluk Kak Dave dan berderai air mata.
"Jika kamu yakin dan percaya, aku akan membuat hubungan kita berjalan dengan restu kedua orang tua kita." Ucap Kak Dave.
"Bagaimana caranya Kak?" Tanyaku.
Aku melepas pelukanku dan Kak Dave memegang kedua tanganku.
"Dek, kalau kamu memang cinta. Katakan saja, aku sudah bilang jangan memikirkan orang lain. Ibu dan Ayah urusan ku. Kamu hanya perlu mencintaiku seumur hidupmu. Kalau aku meminta mu untuk melupakanku apakah kamu sanggup?" Tanya Kak Dave.
"Jangan menyuruhku untuk melakukan hal yang mustahil." Jawab ku sambil mengelap air mata dengan tanganku.
Kak Dave tersenyum melihatku.
"Hmm, aku tahu kamu itu sangat menyukaiku." Ucap Kak Dave percaya diri.
"Sok tahu." Jawab ku ketus.
"Loh, bener ini. Buku diary kamu itu buktinya. Kamu mendetail sekali dalam menggambarkanku di setiap tulisanmu." Ucap Kak Dave menggodaku.
"Namanya juga Fans. Kalau bukan ya mana mungkin aku mau susah-susah cari tahu tentang kamu." Jawabku malas.
"Udahlah, kita baikan ya?" Tanya Kak Dave sambil memberikan jari kelingking padaku.
"Untuk apa jari kelingking itu?" Tanya ku heran.
"Di drakor yang pernah aku tonton, kalau baikan katanya pakai jari kelingking." Jawab Kak Dave yang memicu tawaku.
"Hahahaha... sejak kapan Kak Dave Winanta seorang pesepak bola cool nonton drakor?" Tanya ku.
"Cih, banyak gaya kamu Kak." Ucapku yang melihat gaya sok cool Kak Dave seperti aktor yang ku suka Lee Min Hoo.
"Ayo baikan dulu." Jawab Kak Dave sambil mengaitkan kedua jari kelingking kami.
"Kita sudah baikan deh. Kalau nanti Ibu atau Daniel bilang sesuatu, kamu cerita sama aku. Okay?" Ucap Kak Dave menambahkan.
Aku menggangguk.
"Kak Dave, kamu rindu Ibumu?" Tanyaku hati-hati.
"Iya. Setiap aku sedih, aku selalu merindukannya. Saat bahagiapun sama. Seakan ingin berbagi suka dan duka bersamanya setiap waktu." Jawab Kak Dave yang kembali melow.
"Sama, aku juga rindu ayah." Ucap ku ikutan melow.
"Yah, jadi sedih lagi deh." Jawab Kak Dave.
"Baper aja Kak, lihat kamu rindu Ibumu." Ucapku.
"Kita tidak usah sedih-sedih lagi. Kita mending pulang aja. Nanti, aku masakin makanan kesukaanmu deh." Jawab Kak Dave dengan tersenyum.
"Hore!!! kakakku mau masak ayam goreng kesukaanku." Ucapku yang kegirangan seperti anak kecil.
Kak Dave menatapku.
Dia terlihat bahagia.
__ADS_1
"Kenapa kamu melihatku seperti itu Kak?" Tanyaku.
"Kamu itu ternyata masih seperti anak kecil ya." Jawab Kak Dave.
"Biarin." Ucap ku cuek.
Akhirnya hubungan kami kembali membaik.
Syukurlah, hari kelam berganti dengan kebahagiaan.
_____________________
Sesampainya di rumah...
Kak Dave memasukkan motornya ke dalam garasi setelah itu langsung masuk ke dapur.
Aku berjalan mengikutinya.
Dia membuka kulkas.
Kak Dave mencari ayam yang siap untuk di olah, ternyata sudah tidak ada.
"Masak ayam gorengnya besok lagi gimana?" Ucap Kak Dave yang membuatku kecewa.
"Kak Dave bohong, katanya mau masakin ayam goreng?" Ucapku menggerutu.
"Maaf dek, aku lupa kalau bahannya sudah habis." Jawab Kak Dave.
"Pokoknya mau ayam goreng." Ucapku merenggek.
" Dasar, bocil." Jawab Kak Dave sambil mengusap rambutku pelan.
"Gimana kalau nanti malam kita kulineran lagi, mau gak" Tanya Kak Dave yang membuatku senang.
"Oke. Tapi jangan bohong lagi ya?" Ucap ku.
"Iya. Aku mau istirahat dulu Dek. Capek banget rasanya." Jawab Kak Dave.
"Baik. Aku juga mau istirahat." Ucapku sambil berjalan menuju kamar atas.
Tiba-tiba ponselku berdering.
Panggilan dari Kak Daniel.
"Hallo, Kak Daniel? ada apa?" Tanyaku.
"Aku akan tetap berjuang mendapatkan mu Lily, meski harus memaksamu." Jawab Kak Daniel.
"Terserah kakak." Ucapku sambil menutup panggilan telefonnya.
Kak Daniel kemudian mengirim pesan WA padaku.
Bunyinya :
"Tunggu saja, kamu akan bertekuk lutut di hadapanku. Jangan pernah lupa, aku tahu apa yang kamu sembunyikan selama ini dari Ibumu."
Aku membalas pesan WA nya.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku tidak perduli !!!."