
Aku tidak ingin membohongi siapapun.
Hari ini adalah saatnya.
"Kak Daniel, aku ingin mengatakan sesuatu pada mu." Ucap ku kepada Kak Daniel dengan berhati-hati.
Kak Daniel yang tidak menyadari apa yang akan ku katakan, masih bisa tersenyum.
Dia menyangka, kalau aku sangat bahagia hari ini.
Padahal dada ku rasanya sesak sekali.
Aku sudah menahannya, tapi hari ini adalah puncaknya.
Aku lelah.
"Kita putus saja."
Akhirnya aku mampu mengatakannya.
"Jangan bercanda, Lily." Jawab Kak Daniel yang masih mengira aku hanya berpura-pura.
Tapi karena Kak Daniel merasa kalau sikapku tiba-tiba berubah, dia kembali menanyakan apa yang tadi aku sampaikan.
"Kamu benar-benar ingin putus?" Tanya Kak Daniel memastikan.
"Iya." Jawabku yakin.
"Apa salah ku, Lily?" Ucap Kak Daniel dengan wajah yang sangat sedih.
"Kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Aku yang salah Kak, kamu terlalu baik. Aku tidak pantas buat kamu." Jawab ku sambil menatap mata Kak Daniel.
"Aku bahagia bersamamu, Lily. Jika ada masalah, mari selesaikan bersama." Ucap Kak Daniel yang masih merengek ingin tetap bersamaku.
"Maaf Kak, aku tidak bisa bersama mu lagi. Mohon mengerti lah." Jawabku dengan suara yang bergetar.
"Aku tidak mau putus denganmu." Jawab Kak Daniel tegas.
"Baik lah, aku akan menghentikan sendiri permainan ini." Ucap ku sembari beranjak dari tempat duduk ku.
"Kamu mau kemana? kita bahkan belum memesan apapun." Jawab Kak Daniel dengan wajah memelas.
"Maaf, aku harus pergi."
Baru saja aku melangkah kan satu kaki ke depan, Kak Daniel kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berkata,
"Baiklah, aku terima keputusan mu. Tapi izin kan aku mengantar mu pulang untuk yang terakhir kalinya."
Aku setuju dengan permintaannya.
Kak Daniel kemudian mengantar ku pulang ke rumah.
__________________
Sesampainya di rumah...
"Terima kasih Kak, udah anterin aku pulang." Ucap ku pada Kak Daniel.
"Lily, aku ingin meminta satu hal pada mu." Pinta Kak Daniel.
"Apa itu Kak?" Tanya ku penasaran.
"Bolehkah aku memeluk mu?"
Aku terkejut dengan permintaan Kak Daniel.
__ADS_1
"Aku tidak ingin melukai mu terlalu dalam, maaf Kak." Ucap ku beralasan.
Tetapi tiba-tiba Kak Daniel memeluk tubuh ku sangat erat.
Suaranya gemetar, dia seperti mengatakan kepada ku jika hari ini dia sangat terluka.
Dia sangat menyayangiku.
Dia memohon untuk tetap bersamaku.
Aku mencoba melepas pelukannya, tapi sangatlah sulit.
"Lily, aku sangat menyayangimu." Ucap Kak Daniel berulang-ulang.
"Lepas kan aku, Kak." Ucap ku yang mulai tidak nyaman dengan sikap yang di tunjukkan Kak Daniel.
"Tidak Lily, aku akan tetap memelukmu seperti ini agar kamu tidak pergi dari ku." Jawab Kak Daniel keras kepala.
Tiba-tiba aku mendengar suara Kak Dave.
"Loe ngapain adek gue?" Tanya Kak Dave dengan penuh amarah.
Mendengar suara Kak Dave, Kak Daniel melepaskan pelukannya.
"Bukan urusan loe." Jawab Kak Daniel.
"Ly, masuk !!" Ucap Kak Dave menyuruh ku untuk masuk ke dalam rumah.
Ketika aku akan melangkah masuk ke dalam rumah, Kak Daniel menghentikan langkah ku.
" Lily, kita harus bicara sebentar." Ucap Kak Daniel dengan wajah serius.
"Maaf Kak, aku capek. Besok lagi aja kita bicara." Jawab ku malas.
Kak Dave yang melihatku terdesak, kemudian angkat bicara.
"Loe bisa ngerti gak sih bahasa manusia? adek gue gak mau bicara sama loe."
Kak Daniel kemudian berbalik dan menghampiri Kak Dave.
"Loe bisa diem gak? Ini masalah gue sama adek loe. Loe gak perlu ikut campur." Ucap Kak Daniel.
"Oke. Kalau loe emang gak ngerti bahasa manusia. Gue ajarin pakai bahasa yang lain." Jawab Kak Dave yang kini berdiri tepat di depan Kak Daniel.
Kak Dave memegang kerah baju Kak Daniel.
Tangan kanannya mengepal.
Mata mereka berdua saling menatap dengan penuh kebencian.
Aku yang sedari tadi ada di belakang Kak Daniel tidak bisa berkutik sedikitpun.
Kak Daniel yang sadar jika dirinya akan di "habisi" oleh Kak Dave kemudian berkata,"
"Cih, loe mau pukul gue? pukul aja. Jiwa bar-bar loe ternyata masih ada. Kelembutan yang loe tunjukkan kepada Lily ternyata cuma kedok biar loe kelihatan baik di depan adik loe. Dasar sok suci !!!" Ucap Kak Daniel memprovokasi.
"Banyak bicara loe,DAN !!!!" Ucap Kak Dave penuh emosi.
Satu bogem mentah mendarat di wajah Kak Daniel.
Kak Dave menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam.
Kami membiarkan Kak Daniel tersungkur tak berdaya.
"Lily harus jadi milik gue." Gumam Kak Daniel.
__ADS_1
Perlahan Kak Daniel bangkit.
Setelah itu, dia pergi dengan mengendarai motornya.
_________________
Di dalam rumah..
"Kak Dave?" Tanya ku.
"Hemm." Jawab Kak Dave.
"Kok cuma "Hemm" , jawab donk kalau di tanya." Ucap ku gemas.
"Kamu di apain tadi sama Daniel?" Tanya Kak Dave penuh perhatian.
"Gak pa pa, tadi Kak Daniel gak terima kalau aku putusin dia." Jawab ku.
Ternyata jawabanku membuat suasana hati Kak Dave menjadi lebih baik.
Wajahnya yang garang, sekarang berganti dengan wajah sok imut.
"Wah? benarkah? bagus donk. Yuk di rayakan." Ucap Kak Dave seperti anak kecil.
"Di rayakan apanya? justru ini awal dari masalah. Kak Daniel tidak akan melepaskan ku begitu saja." Jawab ku kesal.
"Tenang, kan ada bodyguard mu di sini." Ucap Kak Dave sambil memperlihatkan otot-otot tangannya.
"Kalau bisa jangan pakai kekerasan lah Kak." Jawab ku penuh pertimbangan.
"Tergantung orang nya , kalau tengil kayak si Daniel emang harus pakai kekerasan." Ucap Kak Dave santai.
"Huft, dasar keras kepala." Jawab ku sambil menggerutu.
"Tapi kamu suka kan?" Ucap Kak Dave menggodaku.
"Siapa yang suka sama kamu?" Tanyaku.
"Kamu lah? masak si Edwin tetangga sebelah? aku masih normal." Jawab Kak Dave yang memicu tawa ku.
"Hahahaha, iya juga sih. Kamu kalau mau sama Edwin juga gak pa-pa. Kan dia juga jomblo." Ucap ku sambil tertawa.
"Nanti kamu cemburu kalau aku sama dia?" Jawab Kak Dave.
"Lebih cemburu siapa coba? aku atau kamu?" Ucap ku.
"Kita akan sama-sama cemburu kan?" Jawab Kak Dave.
"Hehehe , iya sih." Ucap ku.
"Btw kamu putusin Daniel kenapa?" Tanya Kak Dave.
"Aku capek bohong sama diri ku sendiri. Aku gak suka sama Kak Daniel." Jawab ku dengan penuh kejujuran.
Kak Dave menatap mata ku.
"Dengar Lily, aku dan Gaby pun begitu. Aku gak suka sama Gaby. Aku sukanya sama kamu. Tapi aku gak bisa putusin dia sekarang. Kamu tahu sendiri, Ibu nya baru saja meninggal. Kamu tahu kan maksudku?" Ucap Kak Dave penuh perasaan.
"Iya. Kamu jagain dia aja Kak. Aku gak pa pa." Jawab ku.
Ada perasaan tidak nyaman di hati ku.
Seperti ada luka, tapi tidak berdarah.
#Kak Dave , cepat lah kembali pada ku.
__ADS_1