
Dave masih berada di lapangan sepak bola. Insiden kecil yang baru ia alami tidak terlalu parah. Dave merasa harus kembali berlatih. Saat ingin melanjutkan latihan, Dave terkejut melihat ada Gaby di samping nya, karena bukan Gaby yang di harapkan kehadirannya. Ia ingin sang adik yang berada di sisinya saat ini.
"Kenapa loe bisa ada di sini Gab?" tanya Dave.
"Gue tadi lihat loe kesakitan, jadi gue kesini." jawab Gaby.
"Biasanya loe gak mau nemenin gue latihan, ada urusan apa lagi sama gue?" ucap Dave ketus.
Teman-teman Dave mengatakan kalau ia harus menyelesaikan urusannya dengan Gaby. Mereka tidak ingin masalah pribadi pemain mempengaruhi performanya di lapangan. Dave merasa apa yang di katakan teman-temannya benar. Kemudian ia mengajak Gaby untuk duduk di pinggir lapangan.
"Loe inget gak Dave? dulu loe nembak gue di lapangan ini. Saat itu loe manis banget, kita menjadi pasangan paling diidolakan. Bahkan para guru juga memuji kita, pasangan sensasional yang berprestasi." kenang Gaby.
"Maksud loe apa ngingetin gue tentang semua kenangan lama itu? stop Gab! loe gak capek ngejar gue mulu? mending loe nyari kebahagiaan loe sendiri. Bahagia loe bukan sama gue, paham?" ucap Dave
"Maafin gue Dave udah egois, gak mikirin perasaan loe." ucap Gaby memelas.
"Tanpa loe minta, gue udah maafin." tegas Dave sambil beranjak pergi meninggalkan Gaby yang masih berharap bisa kembali padanya.
"Tunggu dulu Dave, kasih gue kesempatan satu kali lagi." ucap Gaby memohon.
Dave berfikir sejenak, kemudian dia memutuskan untuk memberikan Gaby kesempatan kedua. Gaby merasa sangat bahagia dengan senyum manis tersungging di bibir tipis nya. Melihat senyum di wajah Gaby, seharusnya Dave ikut merasa bahagia. Tapi yang dia rasakan justru sebaliknya. Dia merasa kecewa, namun dia tetap saja menerima Gaby kembali.
Setelah mengantar Gaby pulang, Dave bergegas pulang ke rumah. Jarak rumah Gaby dan rumahnya cukup dekat. Waktu yang di tempuh kurang lebih 15 menit. Di sepanjang perjalanan, Dave masih memikirkan hal aneh yang menimpa dirinya. Ada perasaan marah dan kesal yang berkecamuk di dalam dadanya. Tiba-tiba ponsel yang ada di saku bajunya bergetar. Dave menghentikan sejenak motornya. Melihat nama sang adik yang tertera di layar ponselnya, Dave terlihat sumringah. Tanpa basa-basi, dia langsung mengangkat panggilan telepon dari adiknya.
"Gue kangen sama loe." ucap Dave di sambungan telepon.
"Ha? kangen?" tanya Lily heran.
"Iya gue hari ini ngerasa kangen banget sama loe, Lily." jawab Dave.
"Loe cepet pulang kak, gue di rumah sendirian." ucap Lily.
"Gue lagi di jalan ly, tunggu gue pulang." jawab Dave.
Dave menutup panggilan telepon dari sang adik dan kembali mengendarai motornya untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
* * *
Sesampainya di rumah, Dave memasukkan motornya ke dalam garasi. Setelah selesai, dia berjalan masuk ke dalam rumah. Pintunya sudah tidak terkunci, dia berfikir kalau adiknya sudah kembali. Dave merasa lega karena Daniel langsung mengantar Lily pulang. Dave lalu mengunci kembali pintu depan.
"Loe baru pulang kemana aja kak?" tanya Lily kepada Dave yang baru saja kembali.
Dia tidak merespon pertanyaan adiknya.Dia hanya diam dan menatap mata Lily lekat. Tiba-tiba Dave menarik tangan kanan sang adik dan mendekap tubuh Lily dalam pelukannya.
"Maaf in gue ly. Gue udah ngelakuin kesalahan. Untuk ke depannya gue bakal jadi kakak terbaik buat loe." ucap Dave lirih.
Sejak Lily menelpon sampai Dave kembali ke rumah, Dave bersikap tidak seperti biasanya. Setelah melepas pelukannya, kemudian Dave meminta sang adik untuk segera tidur. Lily masih bingung menafsirkan sikap Dave yang sangat berbeda hari ini.
Gadis itu masuk ke kamar atas, dan sang kakak masuk ke kamarnya yang berada di lantai bawah.
* * *
Di kamar Dave
"Kenapa ya kalau deket Lily jantung gue jadi berdegup kencang. Ada yang gak beres sama gue." batinnya.
Dave terkejut dengan hasil pencarian di internet.
"Gue jatuh cinta sama adik gue sendiri? mana mungkin. Gue sekarang udah balikan sama Gaby. Gue harus jaga perasaanya. Tapi emang gue akuin ada perasaan yang berbeda saat lihat Daniel sama adek gue tadi. Semacam cemburu atau apa sih? Tauk lah bingung gue." Dia mencoba menepis semua kegelisahan di dalam hatinya. Dave memutuskan untuk memejamkan matanya dan pergi tidur.
Tidak berbeda jauh dengan apa yang di rasakan oleh Lily, gadis itu juga merasa gelisah hingga tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan segera.
"Baru jam segini, gue belum ngantuk. Mending gue sharing sama "buku ajaib." ucap Lily sambil mengambil tas sekolahnya dan mengambil buku diary yang di letakkan di dalamnya. Kemudian dia mulai menulis sesuatu di sana.
------- Dear Diary -------
Sabtu, 12 Juli 2014
Pukul 19.30 WIB
Hy dear ...
__ADS_1
Perasaan apapun yang aku rasakan pada kakakku, tidak akan pernah mampu mengubah status kami. Entah sampai kapan aku mampu menyembunyikan perasaan yang sudah terlalu dalam ini. Kak Dave, seandainya saja aku tidak menyukaimu, tidak akan ada kerumitan seperti ini di hidupku.
Dear, hanya padamu aku bisa menceritakan segala. Bantu aku untuk melepas segala keresahan dan kegelisahan ini.
Dear, bantu aku!!!
Sial!! perasaan ini sungguh meresahkan hatiku.
Lily menutup buku diarynya dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Saat hendak terpejam, Tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja bergetar, setelah Lily membuka ponsel, ternyata ibunya mengirim pesan whatsaap untuknya,
Sayang, ibu dan ayahmu malam ini sampai tiga hari ke depan belum bisa pulang karena mendadak ada urusan di luar kota.
Jaga diri kalian baik-baik.
Yang akur sama kakaknya ya?
Love u.
Lily membalas pesan dari ibunya,
Baik ibu, hati-hati di jalan.
Jangan lupa kasih kabar.
Jangan lupa makan juga jaga kesehatan.
Kami akan jaga diri baik-baik.
Oke bu, hubungan ku dan Kak Dave akan selalu akur.
Love u too.
Lily meletakkan ponselnya di nakas, Ia mencoba memejamkan matanya kembali, namun sepertinya rasa kantuknya tak kunjung datang, alhasil gadis itu hanya bisa menatap langit-langit kamarnya sembari membayangkan kebersamaan sang kakak dan Gaby. Kebersamaan yang sangat tidak di sukainya, entah sampai kapan Lily hanya akan memendam rasa sakitnya itu sendiri.
'Kalian sangat cocok dan serasi, apalah gue yang tidak memiliki apapun untuk di banggakan.' gumam Lily.
__ADS_1