
Kalau Ayah Haris dan Ibu melarangku berhubungan dengan Kak Dave, aku akan sangat terluka.
Hari-hari ku akan menjadi lebih suram dari sebelumnya.
Kak Dave, kembalilah.
Bantu aku mengatakan kepada mereka tentang kisah kita yang tidak seharusnya berakhir menjadi tragis seperti ini.
Saat aku sedang meratapi nasibku, tiba-tiba ku melihat pemandangan tak biasa di depan mataku.
"Apa itu Kak Daniel dan Gaby ya?" Gumamku dalam hati.
Kak Daniel dan Gaby begitu mesra seperti sepasang kekasih.
Aku melangkah lebih dekat, berharap jika itu bukan mereka berdua.
Semakin dekat jarak antara aku dan kedua insan yang sedang berbincang dan saling melempar canda itu, aku semakin yakin jika itu Kak Daniel dan Gaby.
Aku berpura-pura tidak melihat saat mereka menyadari keberadaanku.
Aku berbalik dan memutar arah langkahku.
"Bisa tengsin kalau ketahuan." Gumamku.
Tiba-tiba aku menabrak orang yang pernah ku lihat sebelumnya.
"Kak Zayn?"
"Iya, ini gue. Loe kenapa? kelas loe kan di sana, kenapa putar balik?" Tanya Kak Zayn heran.
"Gak papa Kak, aku cuman mau ke toilet dulu." Jawabku.
"Toilet? arah toilet juga bukan kesini." Ucap Kak Zayn yang membuatku kehabisan ide.
"Ya terserah aku lah Kak, mau kemana aja. Maaf aku buru-buru."
Aku berlari melewati Kak Zayn.
"Tuh anak kenapa sih?" Gumam Kak Zayn.
* * *
Di perpustakaan..
"Gila dah, mau menghindari si Gaby sama Kak Daniel gini amat. Aku jadi nyasar ke perpustakaan. Ngapain juga aku lari, kan jadi capek." Ucapku sambil duduk di dalam perpustakaan dengan nafas yang terengah-engah.
"Kamu Lily ya?" Tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di depanku.
"Kamu siapa? ngagetin aja sih." Gerutuku.
"Hehe... Maaf lah, aku adalah Resha. Fansnya Kak Dave."
Haduh, apa lagi ini?
Dimana-mana ada fans.
Ini pastilah nitip hadiah.
__ADS_1
Dia kira aku pak pos.
"Iya terus kenapa? kamu mau ngapain tiba-tiba nongol di depanku?" Tanyaku.
Aku kesal dengan sikap si Resha ini.
"Maaf sekali lagi kalau aku bikin kamu marah. Tapi plis, kasih tahu Kak Dave dimana?" Jawab Resha dengan nada sedikit memaksa.
"Mana aku tahu. Gini ya, aku emang adiknya tapi soal dia dimana aku gak tahu. Ibuku gak ngasih tahu keberadaan Kak Dave." Ucapku.
"Kenapa ly? emangnya Kak Dave lagi sakit atau kenapa gitu sampai dia di pindahin sekolah?" Tanya Resha.
"Gak, dia cuma mau fokus sekolah bola aja. Itu yang Ibuku bilang." Jelasku pada Resha.
"Yaudah, nanti kalau kamu ketemu sama dia. Bilang dapat salam dari Resha Maharani, kelas XII IPA 1. Titip kasih ini juga. Jangan di lihat dari harganya ya? Ini aku tulus ngasihnya." Ucap Resha sembari memberikan sebuah kotak berwarna hitam dengan ukuran sedang.
"Nanti kalau aku ketemu sama dia, aku kasih sama dia. Udah kan? udah bell tuh. Aku mau masuk kelas." Jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku.
"Oke. Ngapain kamu di sini sendirian?" Tanya Resha.
"Maaf Resha, aku lagi buru-buru. Besok lagi aja kalau mau intrograsi." Jawabku.
Ku langkahkan kaki ku keluar dari perpustakaan menuju kelasku.
Jaraknya lumayan jauh, tapi tak apa lah.
Demi melindungi harga diri.
Mau jadi apa kalau ketahuan tadi, hancur martabatku.
* * *
"Loe kemana aja?" Tanya Wulan.
"Aku dari perpustakaan." Jawabku yang masih terlihat kelelahan.
"Ngapain kesana?" Tanya Wulan.
"Menghindar dari dua insan yang sedang memadu kasih." Jawabku yang membuat Nita penasaran.
"Siapa itu ya?" Tanya Nita.
"Gaby sama Kak Daniel." Jawabku.
Seketika tawa Nita dan Wulan pecah.
"Hahaa, yang bener loe? mereka jadian?" Tanya Nita dengan nada mengejek.
"Wkkwk.. ya udah deh. Mereka cocok tuh berdua." Jawab Wulan.
"Ssttt.. diem kalian. Tuh Pak Heru udah ada di depan. Habis loe ketahuan pada bercanda." Ucapku.
Pelajaran pertama di mulai dengan ketegangan dan keringat dingin.
Pak Heru oh Pak Heru.
"Killer" amat jadi guru Pak.
__ADS_1
* * *
Pabrik Garmen Ayah Haris...
"Pak Haris, nanti saya akan ke pabrik cabang Surabaya. Bapak mau ikut?" Tanya asisten Ayah Haris.
"Dipta, kamu yang handle kerjaan saya di sini. Saya yang akan pergi ke Surabaya." Jawab Ayah Haris.
"Ada apa pak? apa anda perlu sesuatu sehingga harus datang sendiri ke Surabaya?" Tanya Dipta penasaran.
"Saya mau ke makam istri saya." Jawab Ayah Haris.
Dipta terkejut, tidak biasanya kalau Ayah Haris mendadak ingin ke Surabaya.
Apa lagi ingin menjenguk almarhum istrinya.
"Baik Pak, saya akan handle kerjaan di Jakarta. Bapak yang pergi ke Surabaya. Saya sudah siapkan buat bapak tiket pesawat ke sana. Satu jam lagi pesawatnya akan take off." Ucap sang asisten.
"Terima kasih Dipta, saya pulang kerumah dulu buat siap-siap." Jawab Ayah Haris.
"Baik Pak, hati-hati di jalan." Ucap Dipta.
Ayah Haris mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruangannya.
* * *
Di sepanjang perjalanan, Ayah Haris mengingat peristiwa beberapa tahun silam yang menyebabkan almarhum istrinya meninggal.
"Kamu meninggalkan kami di saat usia Dave masih balita. Aku sangat terpukul. Kepergianmu yang mendadak membuatku sangat terluka. Kecelakaan mobil itu telah merenggut nyawamu, Ambar Nastiti." Gumam Ayah dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian...
Ayah Haris memarkirkan mobilnya di depan rumah. Beliau turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
"Ayah sudah pulang?" Tanya Ibu yang terkejut saat melihat sang suami kembali begitu cepat.
"Iya. Ayah pulang cepat karena Ayah akan pergi ke Surabaya." Ucap Ayah Haris sembari duduk di sofa ruang keluarga.
"Katanya Ayah mau di Jakarta dulu. Tapi baru beberapa jam sudah mau pergi lagi? ada hal yang mendesak kah?" Tanya Ibuku.
"Ayah hanya ingin ziarah ke makam Ambar, seharusnya yang handle pabrik cabang Surabaya adalah Dipta, tapi karena Ayah ada keperluan disana. Jadi Ayah yang gantikan dia." Jawab Ayah.
"Apa perlu Ibu Ikut?" Tanya Ibuku.
"Tidak perlu. Ibu juga masih di rumah? butik siapa yang jaga? apa Ibu sedang tidak enak badan?" Tanya Ayah Haris.
"Iya Yah, lagi gak enak badan jadi Ibu serahin tugas ke Popy sama Herlin." Jawab Ibu.
"Oke deh. Ibu istirahat saja, Ayah akan siap-siap buat pergi ke Surabaya." Ucap Ayah Haris yang bergegas menuju kamar.
"Ibu bantu Yah?!" Jawab Ibu yang sudah beranjak dari tempat duduknya dan ikut masuk ke dalam kamar.
Tapi Ayah Haris mencegah Ibuku, beliau mengatakan jika Ibu harus banyak istirahat.
Ibu memaksa Ayah Haris, tapi Ayah Haris dengan penuh cinta mengatakan jika ingin membantu, diam lah dan duduk saja.
"Terima kasih mas Haris. Kamu sudah menjadi suami dan ayah terbaik untukku dan Lily." Ucap Ibu sambil memeluk Ayah Haris.
__ADS_1
"Sama-sama sayangku, kamu juga istri dan Ibu yang terbaik untukku dan Dave. Aku juga mengucapkan terima kasih padamu." Jawab Ayah Haris sambil mengecup kening Ibu.