
"Besok Ibu mau ke asramanya Dave. Kasihan para fansnya kalau udah susah-susah siapin hadiah gak di lihat sama idolanya." Ucap Ibu seraya mengambil kotak hadiah berwarna merah muda itu.
Ibu memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
Aku masih ingin di depan televisi.
Bosan belajar terus, itu kataku pada Ibuku.
Ibu memakluminya, mungkin dia juga mengetahui rasa jenuh yang ku rasa.
Sebagai seorang pelajar yang hanya menghabiskan waktu di sekolah dan di rumah saja, membuatku hilang rasa tentang rasanya masa muda yang indah.
Nita dan Wulan dengan bebasnya bisa pacaran dan main kemanapun yang mereka inginkan.
Berbeda denganku, prinsip Ibuku sangat kuat.
Jika masih sekolah, harus rajin belajar dan di larang pacaran.
Jika sekali saja ketahuan, bisa habis masa mudaku di meja belajar.
Hahahaha....
Menggelikan sekali kalau aku sampai mati karena kebanyakan baca buku sama ngerjain tugas.
Tapi bukan Ibu namanya jika dia tidak memiliki berbagai alasan untuk membuatku menurut padanya.
Beliau akan mengatakan Lily adalah anak kebanggaan Ibu.
Lily harus patuh sama Ibu.
Ayahmu sudah begitu keras hidup untuk kita berdua, jangan sia-siakan perjuangannya.
Dan alasan yang mendasar lainnya.
Ibu adalah orang pertama yang selalu bersamaku saat banyak rintangan dan cobaan hidup menerpa.
Hanya demi cinta dan keegoisan, apakah semua itu akan ku terjang?
Tidak sama sekali.
Aku tetap patuh pada Ibuku.
Ada keyakinan di dalam diriku yang membuat cintaku pada Kak Dave akan tetap bersemi.
Jika aku menuruti semua keinginan Ibu, bukan hal yang mustahil jika restu itu akan ku dapatkan.
Entahlah...
Ibu , help me.
Beri aku syarat untuk mencintai Kak Dave tanpa perlu bersembunyi.
"Hoaamm..."
Mataku tak mampu untuk menahan rasa kantuk yang luar biasa, namun aku malas untuk tidur.
Saat ku tahu esok datang, rasanya terlalu hampa.
Rinduku yang sudah merasuk ke dalam sanubari tidak akan terpenuhi hanya dengan tidur.
Kak Dave..
Datanglah..
* * *
__ADS_1
"Lily...?? bangun ly?"
Ku dengar suara yang sangat familiar.
Aku membuka mataku perlahan.
Astaga!!!
Apakah yang ku lihat ini benar?
Dia sudah kembali?
Apakah aku tidak bermimpi?
Aku mencubit pipiku, aduh..terasa sakit.
Benar, ini bukan mimpi.
"Ka..k...D.. .. ave?" Ucapku terbata-bata.
Seketika aku bangkit dari sofa dan memeluknya.
Aku menangis sejadinya.
"Kak Dave, kamu kemana saja? kenapa pergi tidak memberitahu ku? tidak pamit juga? Huaaaaaaa."
Tangisku semakin menjadi-jadi.
Dia mengelus rambutku dengan lembut dan mengatakan jika akan kembali jika urusannya telah selesai.
Aku tetep merengek agar Kak Dave tetap di sisiku.
Tidak ada hal yang membuatku bahagia selain tetap bersama Kak Dave.
Yang terpenting dia ada di sampingku selamanya.
Terlalu sesak jika harus menjadi hidup tanpanya.
"Bodoh diamlah!!! kamu sudah banyak bicara. Aku tetap bersamamu. Kepergianku itu sebagai bukti rasa cinta ku yang begitu besar padamu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah menungguku karena aku tidak pergi, aku selalu di hatimu." Ucap Kak Dave.
Kak Dave melepas pelukanku, dia melambaikan tangan padaku.
Seketika sekeliling ku berubah menjadi semacam lorong waktu dan Kak Dave semakin menjauh dariku.
Aku ingin meraih Kak Dave, tapi tubuhku terasa kaku.
Aku terus memanggil Kak Dave agar tidak pergi lagi.
Dia hanya tersenyum dan tetap melambaikan tangan padaku.
Semakin jauh Kak Dave termakan lorong waktu.
Perlahan tapi pasti orang yang ku cintai telah menghilang dari pandangan mataku.
Dan ...
Gubrak...
Aku terjatuh dari sofa yang sedari tadi aku gunakan untuk rebahan.
Aku melihat sekeliling, tidak ada apapun di sana.
Televisi masih menyala, ada adegan yang persis seperti apa yang aku alami tadi.
"Sial?!? hanya mimpikah? jika itu hanya khayalan atas ekspetasi ku yang terlalu besar untuk bertemu Kak Dave, fix bunga tidur ini menyebalkan sekali."
__ADS_1
Gumamku dalam hati.
Aku kesal sekali, di saat moment membahagiakan selalu saja seperti ini, berakhir dengan kecewa.
Ku langkahkan kaki ku menuju kamar atas.
Kamarku adalah tempat terbaik untuk tidur.
Jika hal yang tadi ketahuan Ibu, betapa malunya aku.
Untungnya Ibu sudah tidur.
* * *
Keesokan harinya...
"Lily, Ibu akan pergi ke asramanya Dave untuk memberikan kado dari fansnya ini." Ucap Ibu yang sudah selesai sarapan
Aku mengangguk.
Sambil membawa kotak warna merah muda, Ibu berjalan menuju depan rumah.
Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Aku yang sedari tadi mengekor di belakangnya lalu melambaikan tanganku saat Ibuku sudah menyalakan mesin mobilnya dan pergi mengendarai mobilnya menuju asrama Kak Dave.
Ada gejolak yang membara di dalam hatiku.
Ingin ku mengatakan, "Ibu, aku ingin ikut bersamaku bertemu Kak Dave."
Tidak mampu, sungguh tidak mampu meski hanya kata-kata sederhana semacam itu.
"Sudahlah, lebih baik aku pesan ojol saja. Masih pagi juga."
Ucapku sambil kembali masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan menyantap sarapanku yang tadi sempat tertunda.
* * *
Di asrama Kak Dave..
"Dave, ini ada hadiah yang di berikan fans kamu." Ucap Ibu sambil menyerahkan kado yang berwarna merah muda kepada Kak Dave.
"Pesonaku masih saja ada. Baru beberapa hari aku pergi, mereka sudah rindu padaku." Jawab Kak Dave yang membuat Ibuku tersenyum.
"Kau ini memang mempesona Dave. Tidak heran anak Ibu tergila-gila padamu." Ucap Ibu.
Kak Dave terdiam mendengar apa yang Ibu ucapkan.
Kak Dave lebih memilih untuk membuka kado dari fansnya tadi dan tidak menanggapi perkataan Ibuku.
"Isinya ada foto, coklat , bunga serta beberapa surat ucapan dari mereka." Ucap Kak Dave.
"Mereka sangat menyayangimu Dave. Berbuat baiklah kepada para penggemarmu itu. Tanpa mereka, pesonamu itu tidak akan pernah terlihat." Ucap Ibuku.
"Hehe.. Ibu bisa saja. Iya, apa yang Ibu katakan memang benar. Meski dulu aku cuek dan tidak pernah menghiraukan mereka, mereka masih tetap mengingatku dan bahkan memberikan kado untukku. Sungguh membuatku terharu." Jawab Kak Dave.
"Iya, kamu harus berterima kasih kepada fans kamu itu. Mereka begitu perhatian padamu. Kelak jika kamu ada waktu, mampirlah ke sekolahmu yang dulu. Ibu akan mengantarmu." Ucap Ibuku.
"Bagaimana dengan Lily? bolehkah kami bertemu?" Tanya Kak Dave.
"Boleh saja. Tapi harus bersama Ibu, jangan kamu bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi." Pinta Ibuku.
"Siap, aku sangat merindukannya. Kelak aku akan menurut kepada Ibu. Terima kasih Ibu." Jawab Kak Dave sambil memeluk Ibuku.
"Jagalah selalu perasaan mu itu, Dave. Jika kalian memang di takdirkan untuk bersama, Ibu akan mengalah dan merestui kalian." Gumam Ibu di dalam hatinya.
__ADS_1