
Kak Dave membuat jarak antara ku dan dirinya.
Jarak yang sangat menyakitiku.
Jauh darinya sama saja dengan menenggelamkan ku di tengah lautan.
Semakin dalam dan dalam kemudian tenggelam ke dalam perasaan sakit tak berujung.
Tak mampu bernafas jika seperti ini terus.
Ibu yang semakin gencar mendekatkan ku dengan Kak Daniel, Kak Daniel yang berubah jadi manis.
Dan segala hal aneh yang tiba-tiba terjadi di sekitarku.
Apa ini ada hubungannya dengan "menjauh" nya Kak Dave?
Hari ini aku sengaja menunggunya di lapangan sepak bola sepulang sekolah.
Kak Dave baru saja datang dan aku langsung mengomel padanya.
Kak Dave tidak menghiraukanku, dia malah membahas Kak Daniel.
Menyebalkan sekali, selalu saja mengelak.
Membawa nama Kak Daniel sebagai tameng, apa dia sedang mempermainkanku?
"Kak Dave kita perlu bicara." Ucapku yang tidak sabar meluapkan apa yang ada di hatiku.
"Aku harus latihan, lain kali saja." Jawab Kak Dave sambil berlalu.
"Baik, aku akan menuruti keinginanmu. Kita tidak usah bicara lagi."
Dengan amarah yang terpendam, aku melangkah pergi.
Kami berjalan berlawanan arah, benar-benar ada jarak di sana.
"Maaf Lily, bukan aku tidak ingin bicara denganmu. Tapi takdir kita memang hanya untuk jadi adik dan kakak. Perlahan kamu juga akan melupakanku, meski hati ini tidak akan pernah bisa berpaling. Seberapa keras aku mencoba, tidak akan pernah bisa." Ucap Kak Dave lirih.
* * *
"Lily, stop mikirin Kak Dave. Biarkan hatimu bebas." Gumam ku dalam hati.
Tapi tidak semudah itu, tidak akan ada yang bisa di lupakan dan melupakan.
Kami tetap kekeuh dengan pendirian masing-masing yang mengira dengan cara yang kami tempuh ini akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
Sialll?!!!
Kenapa air mata ini tidak berhenti mengalir?
Aku berjalan ke arah toilet untuk mencuci muka ku yang telah basah karena air mata yang sedari tadi mengalir tanpa permisi.
"Hey, Lily.. !!!! sadarlah?!?? loe hanya di jadikan pelampiasan , ok?? loe terima aja karena itu pantas buat cewek polos kayak loe yang mengira cinta sejati itu benar-benar ada. Hey air mata?!?? mari kita bekerja sama. Aku tidak akan rela meneteskan banyak air mata yang berharga ini hanya karena manusia batu seperti Kak Dave."
Kesal dan kesal , hanya itu yang kurasa saat ini.
Ku buka keran air di depanku, suara gemericik air menelan semua kesedihanku.
Ku telangkupkan ke dua tanganku dan menadah air di bawah keran air.
Ku basahi wajahku dengan airnya.
__ADS_1
"Segar sekali, Huft !!!! sudahlah Lily... move move... kamu pasti bisa Lily. Lupakan hal yang membuat mu sedih dan terluka. Fokus pada cita-citamu."
Lagi-lagi aku menyemangati diriku sendiri.
Semangat yang memang harus aku pupuk dari sekarang.
Kak Dave adalah kakak tiriku.
Tidak akan bisa di pungkiri kami akan selalu bertemu.
Bahkan saat kita meninggal pun satu sama lain akan tahu.
Apa lagi hanya sekedar rasa cinta?
Rasa cinta yang mengenaskan ini.
Kelak , aku harus terbiasa melihat Kak Dave menggenggam tangan lain, selain tanganku.
Melindungi orang lain, selain melindungiku.
Persiapan yang matang jika saat ini sudah terfikir kan olehku.
"Lily? lama banget kamu di toilet nya." Ucap Kak Daniel yang tiba-tiba sudah berdiri di depan toilet cewek.
"Kamu mau ngintip aku ya? dasar mesum." Jawabku kesal.
"Enak aja, aku itu baru aja dateng ke sini. Soalnya aku cari kamu di kelas gak ada." Ucap Kak Daniel tidak terima aku menuduhnya mengintip.
"Terus kamu tahu darimana aku di sini?" Tanya ku heran.
Kak Daniel menjelaskan jika dia bertanya kepada salah seorang temanku yang melihatku berjalan menuju toilet.
Jadi, dia menunggu ku di sini.
Kak Daniel bilang "Its Okay" dan mengajak ku pulang bersama.
Kami berjalan menuju parkiran, di sana sudah ada Gaby dan Kak Dave.
Katanya mau latihan? kok malah anter Gaby pulang?
Batinku bertanya-tanya tentang sikap Kak Dave yang semakin hari berubah-ubah dan membuatku semakin benci dan kesal padanya.
Kak Dave tidak melihatku sama sekali.
Dengan wajah tidak berdosa, dia pergi bersama Gaby.
"Ly? kamu baik-baik saja?" Tanya Kak Daniel.
Dia merasa kalau aku memikirkan Kak Dave.
Dari raut wajah ku jelas terlihat jika ada amarah di sana.
"AKU BAIK DAN SANGAT BAIK, ANTAR AKU PULANG KAK DANIEL."
Kak Daniel terkejut melihat sisi lain ku yang penuh amarah ini.
Sebelum kena semprot, Kak Daniel memilih untuk segera mengantarku pulang.
* * *
"Jalan ke rumahku kan belok kanan, bukan lurus. Kamu mau bawa aku kemana?" Tanyaku pada Kak Daniel yang dengan santainya mengendarai motor.
__ADS_1
Entah dia mau bawa aku kemana.
Kak Daniel tidak menjawab ku sama sekali.
Setelah sampai di suatu tempat yang sangat familiar, aku turun dari motor.
"Kamu suka tidak?"
Kak Daniel menunjuk sebuah hamparan kebun bunga yang indah.
Ini adalah Lily's Flower Garden.
Hanya aku, Ibu dan Ayah yang tahu tempat ini.
Mengapa Kak Daniel bisa tahu?
Dia pasti mengetahuinya dari Ibuku.
Curang sekali, tanpa perlu berusaha Kak Daniel bisa mengetahui apa yang ku suka dan tidak.
Aku melupakan itu semua, perasaan kesal itu.
Sepuluh tahun lebih aku tidak pernah datang kesini karena sejak Ayah ku tiada, Ibu mulai menghindari tempat ini padahal aku ingin sekali pergi.
Aku tidak berani meminta izin padanya untuk datang kesini karena aku takut Ibu akan merasa sedih saat mengenang almarhum Ayah.
"Makasih Kak Daniel untuk mengajakku kembali ke sini." Ucap ku pada Kak Daniel.
"Sama-sama. Sudah tugas ku untuk membahagiakanmu."
Jawab Kak Daniel sambil mengajakku mendekat ke hamparan bunga Lily putih di depan kami.
Angin sepoi-sepoi berhembus, menambah suasana menjadi semakin menenangkan.
Kak Daniel juga cerdas, dia membawa ku ke sini saat jam pulang sekolah.
Kami bisa melihat sunset di sini.
Tapi aku tidak berminat untuk itu.
Rencanaku adalah datang kemari bersama Kak Dave, Ibu dan Ayah Haris.
Rencana tinggal rencana, tidak ada yang bisa di perbaiki lagi.
Semua sudah selesai dan akupun sudah belajar tidak memikirkannya lagi.
Tetap menganggap Kak Dave kakak tiriku, tidak lebih.
Meski harus menipu diri sendiri.
Aku rela melakukannya untuk Kak Dave.
Si manusia kepada batu tidak berperasaan.
"Aku lelah Tuhan?!!!! hapus rasa ini dan enyahkan dari hatiku."
Aku berteriak di dalam hati.
Air mata gila itu kembali menetes, kali ini tangan Kak Daniel menggenggam tanganku erat.
"Luapkan saja, jika itu akan membuatmu lega."
__ADS_1
Seketika tangisanku pecah.
Aku terduduk dan menangis sejadinya.