
"Apakah kamu menyukai Dave?"Tanya Ibuku.
Pernyataan macam apa yang Ibuku lontarkan ini?
Aku bahkan tidak berfikir sedikitpun jika beliau akan menanyakan hal sesakral itu di saat hatiku benar-benar berada di ambang batas kelelahan yang luar biasa.
Dengan wajah penuh kebimbangan, aku mencoba untuk mengungkapkan alasan yang logis dan tidak membuat Ibuku curiga.
"Siapa yang tidak menyukai Kak Dave? dia kan laki-laki yang keren dengan segudang prestasi. Prestasinya saja tidak hanya di kelas, tapi di sepakbola juga."
Ibuku hanya tersenyum saat mendengar jawaban dariku.
Beliau tidak mengatakan sepatah katapun.
* * *
Sesampainya di sekolah...
"Aku turun dulu Ibu." Ucapku sembari mencium tangan Ibuku.
"Belajarlah yang giat dan jangan pikirkan hal lain selain pendidikanmu. Ibu ingin kamu memiliki masa depan yang cerah." Petuah Ibuku di pagi yang cerah ini.
Aku melambaikan tangan ke arah Ibuku saat beliau perlahan mulai meninggalkanku dan pergi mengendarai mobilnya.
"Kamu pasti bisa Lily." Ucapku pada diriku sendiri.
Langkahku terhenti saat ada segerombolan murid perempuan menghampiriku.
"Kamu adiknya Kak Dave ya? Lily bukan?" Tanya salah seorang dari segerombolan perempuan tadi.
"Iya. Ada apa?" Jawabku.
Aku merasa jika mereka akan "memakanku".
Dari sepuluh orang yang mengelilingiku, ada salah satu murid perempuan yang aku kenal.
Dia adalah Gita.
Gita adalah seorang murid dengan paras yang cantik dan jago dalam pelajaran matematika.
Tahun ini, dia baru saja menjadi juara pertama lomba pelajaran matematika.
Dia juga seorang anggota OSIS.
Sekarang dia ada di kelas XI IPS I.
Yang aku tahu, Gita adalah penggemarnya Kak Dave.
"Dimana kakakmu?" Tanya seorang murid perempuan.
"Jangan membuatnya gugup begitu. Dia pasti akan mengatakannya jika kita lebih sopan dan lembut." Ucap murid perempuan yang lain.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba bell tanda masuk kelas telah berbunyi.
"Aku bisa kabur dengan alasan ini." Gumamku dalam hati.
"Wah sayang sekali bell sudah berbunyi. Ayo kita masuk ke kelas masing-masing saja. Sebentar lagi gerbang akan di tutup." Ucapku yang membuat segerombolan murid perempuan itu berbisik.
"Baik, kali ini kamu selamat. Kita lanjutkan nanti." Ucap Gita.
Aku menelan salivaku.
__ADS_1
Kerongkonganku kering seketika.
Mereka lebih dulu masuk ke dalam gedung sekolahan dan aku mengekor di belakangnya.
* * *
Kelasku...
"Aku tadi mau di labrak lho." Ucapku tiba-tiba curhat kepada kedua sahabatku, Nita dan Wulan.
"Yang bener loe?" Tanya Nita sambil mengerjakan tugas Biologi.
"Benarlah. Ada Gita juga di sana. Aku iri dengan kecantikan dan kecerdasannya. Tetapi melihatnya begitu mengerikan saat menatapku, seketika rasa iriku musnah. Dia tidak secantik kelihatannya." Curhatku kepada Nita dan Wulan.
"Loe baru tahu kah? dia orangnya itu sombong. Hanya pencitraan sikap manis dan baiknya itu." Jawab Nita mengkompori.
"Hussh, gak boleh fitnah lah." Jawabku yang sudah selesai mengerjakan tugas Biologi.
"loe yang mulai ghibahin si jenius itu kan? memangnya loe di apain sama dia tadi?" Tanya Wulan sambil menyontek tugas Biologiku.
"Eh, ngapain kamu Lan? kerjain sendiri lah. Mentang-mentang guru lagi keluar." Jawabku yang kesal dengan sikapnya.
"Haha, sekali-kali bolehlah." Ucap Wulan.
"Ya udah. Ambil buku ku, kerjain yang bener jangan sampai banyak kesalahan. Masak iya nyontek salah semua." Jawabku sembari menyerahkan tugas Biologi yang sudah selesai kepada Wulan.
"Kurang ajar loe. Masih inget aja kejadian itu." Ucap Wulan sambil menyontek tugas Biologiku.
"Kalau peristiwa bersejarah macam itu, kita akan selalu ingat. Terpatri di dalam hati dan pikiran." Jawab Nita yang kini sudah selesai mengerjakan tugas Biologinya.
"Yah, kalian udah pada kelar. Gue baru mau mulai bab 2." Ucap Wulan.
"Siapa suruh ngobrol mulu." Jawabku.
Aku dan Nita tersenyum melihat kelakuan si tengil, Wulan.
"Nanti aja, selesaikan dulu tugas Biologinya. Sebentar lagi jam istirahat. Bu Retno bakal kembali ke kelas. Jangan sampai loe kena semprot dia lagi." Ucap Nita.
Wulan mengangguk.
Beberapa menit kemudian..
"Apa kalian sudah mengerjakan tugas yang Ibu berikan?" Tanya bu Retno.
"Sudah bu." Jawab semua murid di kelasku serempak.
"Kumpulkan di meja Ibu. Pelajari Bab 1-5 yang sudah kalian kerjakan tadi. Besok ulangan."
Expresi wajah yang berbeda-beda di tunjukkan teman-teman sekelasku.
Ada yang girang dan ada juga yang manyun.
Selepas bu Retno keluar, Wulan dan Nita mengajakku ke kantin.
* * *
Kantin...
Oh My God ?!!!
Baru mau duduk, udah ada banyak orang yang berkeliling di sekitarku.
__ADS_1
"Loe berdua minggir, gue mau bicara sama Lily." Ucap salah satu dari segerombolan murid perempuan yang menahan ku di depan tadi.
Wulan dan Nita tidak mau, tetapi aku mengatakan jika semua akan baik-baik saja.
"Loe bilang ke kita kalau mereka nyakitin loe." Ucap Wulan.
Aku mengangguk.
Mereka berdua pindah tempat duduk jauh dari tempatku berada.
Mata mereka berdua masih tetap mengawasiku yang di kelilingi segerombolan murid perempuan.
"Lily, tolong pertemukan kami dengan Kak Dave. Kami adalah penggemar fanatiknya. Sudah seminggu dia tidak berangkat sekolah. Kami rindu berjumpa dengannya." Ucap Gita.
"Iya, benar tuh yang Gita bilang." Sahut murid perempuan yang lain.
Haduh...
Ternyata mereka adalah para murid "pemuja" Kak Dave.
Aku kira mereka akan membuatku menjadi remahan peyek.
Ternyata mereka hanya rindu pada Kak Dave.
"Maaf teman-teman semua. Kakakku sedang sekolah sepakbola, dia mungkin lama akan kembali. Aku saja yang serumah tidak pernah bertemu dengannya. Peraturan sekolahnya ketat. Tidak sembarang orang bisa datang kesana."
Perkataanku membuat para "pemuja" Kak Dave kecewa.
"Yaudah deh kalau gitu. Mau gimana lagi. Ehm, gue sama fans yang lain punya hadiah buat Kak Dave. Tolong loe kasih ke dia ya?" Ucap Gita.
Gita memberikanku sebuah kotak berwarna merah muda. Dia atas kotak itu ada tulisan "D.W Fanatic Fans".
Gila ya, emang pesona Kak Dave tidak pernah lekang oleh waktu seperti yang selalu dia katakan kepadaku.
Dia sudah tidak ada di sini, tetapi masih terus di ingat oleh para "pemuja" nya.
"Ya nanti aku sampaikan sama dia." Ucapku pada mereka.
"Terima kasih Lily. Sampaikan juga kalau dia libur, suruh dia main kesini." Jawab Gita.
"Sama-sama Kak. Aku gak janji ya?" Ucapku.
"Oke. Sorry kalau kita nakutin kamu." Ucap Gita mewakili teman-temannya.
"No problem." Jawabku.
Kemudian segerombolan fans Kak Dave satu persatu pergi meninggalkanku.
Perlahan Wulan dan Nita datang menghampiriku.
"Apa itu Sob?" Tanya Nita yang kini sudah duduk di sampingku.
"Aku juga gak tahu isinya apa." Jawabku.
"Buka aja lah." Ucap Nita.
"Hush, ini amanah tahu. Kalau bukan Kak Dave yang buka, aku gak berani. Harus di sampaikan kepadanya dulu." Jawabku.
"Eh iya, gue jadi kepo nih. Kakak loe kemana sih?" Tanya Wulan.
"Sekolah sepakbola." Jawabku.
__ADS_1
Karena tidak mau membahas Kak Dave lebih jauh, aku mengalihkan pembicaraan dengan mentraktir kedua sahabatku makan sepuasnya hari ini.