MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 28


__ADS_3

Hari-hari kami begitu menyenangkan.


Kami berangkat sekolah bersama, pulang bersama dan menjalani kehidupan yang sangat bersemangat.


Aku dan Kak Dave berkomitmen untuk saling mendukung satu sama lain.


Kak Dave mengatakan padaku akan selalu menjagaku seperti janjinya dulu.


"Jangan melupakan D karena D adalah Dave. Selama ada D di hatimu pasti kamu akan aman."


Dia benar-benar melakukannya.


Selama dia bersamaku, aku merasa sangat aman dan nyaman.


Tapi, hari ini Kak Dave terlihat berbeda.


Dia lebih banyak diam.


Kalaupun di ajak di bicara, dia hanya akan menjawab seperlunya.


Waktu pulang sekolahpun sama.


Dia tidak ikut latihan sepak bola dan memilih untuk pulang lebih awal.


Saat aku bertanya mengapa, dia hanya bilang tidak ada apa-apa.


Sesampainya di rumah, Kak Dave langsung masuk ke dalam kamarnya.


Aku memilih untuk naik ke lantai atas menuju kamarku juga.


Sesaat setelah sampai di kamar lantai atas, aku seperti mendengar suara motor Kak Dave.


Aku membuka jendela kamarku, dan sedikit mengintip.


Ternyata benar itu suara motor Kak Dave.


"Mau pergi kemana lagi Kak Dave?" Gumam ku dalam hati.


____________________


Di sebuah Cafe...

__ADS_1


Kak Dave masuk ke dalam sebuah Cafe.


Dia terlihat mencari seseorang yang tadi menelfon dan mengajaknya bertemu.


Seseorang melambaikan tangannya, Kak Dave membalas lambaian tangan orang itu kemudian duduk berhadapan dengannya.


"Mengapa Ibu ingin bicara denganku di sini?" Tanya Kak Dave.


"Tadi pagi Ibu sudah sedikit menjelaskan padamu melalui panggilan telefon. Ibu ingin meminta penjelasan tentang hubungan antara kamu dan anak Ibu." Jawab Ibu tegas.


Kak Dave terdiam...


Hening...


"Jawab saja apa yang Ibu tanyakan dan semuanya akan baik-baik saja." Ucap Ibu memecah keheningan.


Ibuku membuka tas miliknya, terlihat dia mengeluarkan sesuatu dari tas tersebut.


"Buku diary Lily, bagaimana bisa ada di kamar kamu?" Tanya Ibu sembari memperlihatkan buku diary ku di depan Kak Dave.


Kak Dave terkejut, dia tidak menyangka kalau buku diaryku ada di tangan Ibuku.


"Maaf sebelumnya Ibu, bagaimana Ibu bisa tahu kalau buku itu ada di kamar Dave?" Tanya Kak Dave penasaran.


Kak Dave merasa kesal, dia menahan amarahnya saat mendengar nama Daniel di sebut.


"Aku dan Lily saling mencintai." Jawab Kak Dave yang membuat Ibuku menghela nafas kasar.


"Baiklah, sejauh apa hubungan kalian?" Tanya Ibu.


"Hubungan kami adalah hubungan yang sehat. Kami tidak pernah melakukan hal yang di luar batas. Dave sangat mencintai dan menghormati Lily. Sebisa mungkin Dave selalu menjaganya." Jawab Kak Dave tegas.


"Oke, Ibu percaya karena anak Ibu bukan type perempuan yang gampangan. Dia akan menjaga cinta nya dengan baik dan tidak menodainya dengan melakukan hal di luar batas. Dia juga orang yang keras kepala jika mencintai seseorang. Jika kamu adalah orang ada di hati anak Ibu, dengarkan ini. Jauhi anak ibu sekarang juga.!!!" Ucapan Ibu.


Seperti petir di siang bolong.


Kak Dave merasa sesak di dadanya.


Kak Dave merasa ini hal yang tidak mungkin di lakukannya.


Dia sudah berjanji pada ku akan mendapatkan restu dari orang tua kami.

__ADS_1


Tapi takdir berkata lain, Ibu ku lebih dahulu tahu tentang kebenarannya.


"Kamu adalah laki-laki dengan wajah rupawan dan memiliki prestasi yang cemerlang, dengan mudah akan mendapatkan pengganti Lily. Oh iya, Ibu lupa kalau kamu juga masih berhubungan dengan Gaby kan? Bagaimana bisa kamu mencintai anak Ibu, tetapi di sisi lain masih memiliki hubungan dengan perempuan lain." Ucap Ibu dengan wajah sinis.


"Maaf Ibu, aku dan Gaby tidak memiliki hubungan seperti yang Ibu pikirkan. Aku dan Gaby tidak lebih dari hubungan tanpa status. Aku sangat mencintai anak Ibu." Jawab Kak Dave.


"Oh, kalau begitu. Baiklah, jika kamu sangat mencintai anak Ibu,jauhi dia. Biarkan Lily mengejar cita-citanya. Status kalian yang kakak dan adik sungguh tidak baik memiliki hubungan semacam itu. Ibu tidak mau kalau Lily akan mengorbankan masa depannya dan pergi bersamamu." Ucap Ibu yang menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.


Kak Dave menghela nafas dan menghembuskannya pelan.


"Maaf kan aku Ibu jika mencintai Lily adalah sebuah dosa, tapi kami adalah saudara tiri. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku sangat mendukung pendidikan juga masa depannya. Aku tidak akan merusak kehidupannya dan membawanya pergi bersamaku. Tolong beri aku kesempatan untuk menjaganya Bu." Jawab Kak Dave keras kepala.


"Ibu tidak bisa membiarkan ada hubungan spesial diantara kalian berdua. Bagaimanapun juga, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Lily . Semoga kamu bisa mengerti. Jauhi Lily atau Ibu yang akan mengurus kepindahan sekolahmu dan mengirimmu ke asrama khusus laki-laki, agar kalian tidak bisa bertemu lagi." Ucap Ibu sambil beranjak dari tempat duduknya.


Kak Dave kemudian berlutut, dia memohon kepada Ibuku untuk tidak memisahkanku dengannya.


Kak Dave setuju dengan Ibu.


"Bangkitlah, jangan membuat Ibu seperti orang yang kejam." Ucap Ibu sambil membantu Kak Dave berdiri.


"Aku akan mendengarkan Ibu dan menjauhi Lily."


Jawab Kak Dave.


"Bagus kalau kamu memahami apa yang Ibu sampaikan. Ibu harap kamu tidak memberitahu Lily tentang pertemuan kita ini." Ucap Ibu.


"Baik." Jawab Ibu.


"Ibu pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Ucap Ibu sambil berjalan pergi meninggalkan Kak Dave sendirian di Cafe itu.


Hati Kak Dave begitu hancur.


Dia merasa separuh hatinya telah hilang.


Cinta yang selama ini dia perjuangan kan bersama ku, tiba-tiba harus kandas di tengah jalan.


Sungguh, Kak Dave menjadi laki-laki yang sangat menyedihkan.


Kak Dave beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Cafe itu dengan perasaan yang kacau balau.


Kak Dave tidak tahu harus bersikap seperti apa di depanku.

__ADS_1


"Lily, maafkan aku jika kelak hanya akan menjadi kakakmu saja. Ini demi kebaikanmu, ini demi cinta kita berdua. Aku akan menunjukkan kepada Ibu bahwa Dave Winanta adalah laki-laki yang bertanggung jawab dengan perkataannya. Orang yang akan selalu menjaga orang yang di cintainya dengan penuh kasih sayang. Aku harap Ibu akan luluh dan merestui kita berdua." Gumamnya dalam hati.


__ADS_2