MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 53


__ADS_3

Di kelas Lily...


Semua murid telah masuk ke dalam kelas, termasuk Lily. Beberapa menit kemudian, datanglah guru bahasa Inggris. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan lancar. Meskipun Lily hanya sendirian, dia tetap semangat belajar.


Pada akhirnya, kegiatan belajar mengajar telah usai setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua murid sekolah itu berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Tapi tidak semua siswa pulang ke rumah, karena ada yang mengikuti ekstrakurikuler, ada yang masih mengobrol dengan teman-temannya di dalam lingkungan sekolah.


Tapi tidak untuk Lily, dia menunggu bis di halte. Tidak diduga, Marvin sudah berada di sampingnya. Lily terkejut, Marvin mengajaknya pulang bersama mengendarai motor matic miliknya. Tetapi, Lily enggan untuk menuruti permintaan Marvin.


"Kenapa loe nggak mau?" tanya Marvin heran.


"Maksa amat? gak capek apa ngikutin mulu?" Lily merasa terganggu dengan kehadiran Marvin.


"Loe bener-bener nggak ngenalin gue?" tanya Marvin.


"Emang loe siapa?" tanya Lily yang masih kebingungan.


"Gue Marvin teman SMP loe dulu, kita tetanggaan di rumah yang lama," ucap Martin sembari membuka kacamatanya.


Seketika Lily terkejut, dia merasa bahagia kembali bertemu dengan teman semasa SMP nya. Mereka dulu cukup dekat.


"Astaga ternyata ini elo? kenapa berubah jadi tengil banget? apa lupa caranya jadi pendiam?" ledek lili yang merasa Marvin merubah dirinya menjadi orang yang lebih ceria.


"Nggak juga, karena kalau gue pendiem, gue enggak akan ada kemajuan. Gimana? sekarang gue lebih kerenkan? Marvin Hendrajaya," Marvin terlihat percaya diri beda dari sebelumnya.


"Lebih baik loe pulang dulu aja, soalnya gue mau pulang naik bis," jawab Lily.


"Oke, lain kali saja. Hati-hati ya, gue pulang dulu," ucap Marvin yang bergegas pergi dengan motor matic nya.


Lily tidak menyangka akan bertemu dengan sosok Marvin yang pendiam tetapi menjadi sangat tengil. Dulu, Marvin adalah cowok yang sangat sopan padanya. Meskipun mereka beda kelas, karena Lily kelas 1 dan Marvin kelas 3, tidak mengurungkan niat keduanya untuk berteman. Berawal dari saling meminjam buku pelajaran, mereka berdua menjadi dekat satu sama lain. Tapi saat Lily pindah rumah, hubungan pertemanan mereka menjadi berjarak. Marvin yang pergi ke Australia, dalil yang sibuk dengan kegiatannya, membuat keduanya benar-benar belum berjodoh untuk bertemu lagi. Tapi kali ini, entah kebetulan atau sebuah takdir, mereka kembali di pertemukan lagi di suatu sekolah yang sama.


Beberapa menit kemudian, bis yang ditunggu telah tiba. Lily langsung masuk kedalam bis itu. di dalam bis sangat penuh dengan siswa yang baru saja pulang sekolah, alhasil dia harus berdesak-desakan. Tapi saat dia menyadari ada sosok Marvin di depannya, ia terkejut.

__ADS_1


"Bukannya loe tadi udah pulang? mana bisa ada di sini?" tanya Lily yang heran dengan kehadiran Marvin di dalam bis sekolah itu.


"Apapun bisa kalau buat ngejar loe," ucap Marvin serius.


Marvin merasa sangat bahagia, karena bisa bertemu dengan cinta masa lalunya yang telah lama menghilang. Apalagi Lily sekarang lebih cantik dari dulu waktu SMP.


"Omong kosong, rumah loe di mana?" tanya Lily.


"Ada di dekat asrama sepak bola," jawab Marvin.


"Kakak gue juga ada di sana," ucap Lily yang keceplosan.


Lily mencoba mengalihkan perhatian Marvin. "Gue punya makanan enak di rumah, mampir nggak?"


"Jawab dulu pertanyaan gue, Dave itu siapa?" tanya Marvin yang merasa penasaran dengan sosok Dave tersebut.


"Karena loe adalah teman curhat gue waktu masih SMP, gue bakal ceritain, Gue sama dia itu pacaran,"


"Nggak masalah buat gue yang penting masih bisa deket sama loe," ucap Marvin yang kini menjadi dua kali lebih baik dalam mengatakan banyak hal kepada Lily, tidak seperti jaman SMP dulu.


"Bisa aja loe, rumah gue udah deket, jadi mampir nggak?" ucap Lily basa-basi.


"Besok aja deh, gue harus nungguin apotek milik bokap gue," jawab Marvin beralasan.


"Ya udah kalau nggak mau, gue turun dulu ya," jawab Lily sembari membuka pintu dan turun di halte.


Lily berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari halte bis, setelah sampai didepan rumahnya dia langsung melepaskan kedua sepatunya dan masuk ke dalam rumah.


Lily terkejut saat melihat ada ayah Haris bersama Dave sedang duduk di ruang keluarga. Saking bahagianya, dia bahkan tidak bisa berkata-kata. Dia hanya diam, pelan-pelan berjalan menuju tangga dan menaiki tangga itu dengan cepat. Setelah sampai di depan kamarnya, dia segera membuka pintu kamarnya, dan mengunci pintu tersebut.


"Untung aja Marvin nggak jadi ke sini, kalau dia mampir, bisa mati gue," ucap Lily yang merasa gelisah.

__ADS_1


Setelah meletakkan tas di meja belajarnya, dia segera mandi. Beberapa menit kemudian, sesi pembersihan diri telah usai.Dia segera berganti baju, sebelum keluar kamar, dia menyempatkan bercermin terlebih dahulu. Entah apa yang dia rasakan saat ini, rasa bahagia atau rasa canggung. Sudah seminggu lamanya Dave dan Lily tidak pernah bertegur sapa.


Dia mencoba untuk tetap merasa percaya diri, dia adalah adik Dave dan dave adalah kakaknya. Hubungan semacam ini sudah wajar kan, hanya saja tidak terduga ada perasaan lain yaitu cinta. Mereka berdua harus bisa meredam rasa sayang lebih dari kakak beradik itu, untuk menciptakan kerukunan di antara anggota keluarga terutama ayah dan ibu.


Tok tok tok..


pintu kamar Lily di ketuk, gadis itu merasa terkejut. Dia segera membuka pintu, saat pintu itu terbuka, Lily terhenyak saat melihat sosok Dave ada di depannya.


"Astaga apakah ini kak Dave?" Lily seperti melihat hantu.


"Iya ini aku, ada apa denganmu?" tanya Dave heran.


"Aku hanya terkejut, itu saja," jawab Lily datar.


"Ayah sudah tidak marah, kamu tenanglah," jawab Dave sembari mengusap rambut Lily lembut.


Sang adik menjadi salah tingkah, dia merasa malu di depan sang kakak.


"Ada apa lagi?" tanya Dave heran.


"Kapan kak Dave pulang? apa kak Dave tidak ada latihan?" tanya Lily basa-basi.


"Ayah meminta pulang karena dia merasa bersalah telah marah padaku. Bagaimana pelajarannya? apa semua lancar? oh ya, Marvin itu siapa? pacar kamu?"


Deg..


Pertanyaan yang sangat menohok, Lily segera mengklarifikasi tentang berita kedekatannya dengan Marvin.


"Kak Dave, Marvin itu temanku waktu SMP, dia baru dua hari pindah ke sekolah kita," jelas Lily.


"Aku juga mau sekolah lagi di sana, ayah yang akan memindahkanku," Jawaban kak Dave sungguh di luar dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2