MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 38


__ADS_3

Malam ini adalah malam yang membahagiakan karena Ayah Haris pulang. Kami bercengkrama di ruang keluarga.


Sudah satu bulan lebih Ayah Haris ada tugas di luar kota. Beliau membuka cabang baru Pabrik garmennya di kota Samarinda.


Moment langka yang tidak boleh di sia-siakan.


"Ayah, besok ajak aku pergi bersamamu ya?" Ucap ku manja.


"Lain kali saja kalau kamu sudah liburan. Kita berempat akan pergi bersama." Jawab Ayah Haris yang membuatku girang.


"Ayah, tadi aku ke asramanya Dave. Dia betah di sana." Ucap Ibu yang tiba-tiba menyebutkan nama orang yang membuat jantungku dag dig dug tidak karuan.


"Bagus itu, Dave sebentar lagi lulus. Setelah ini dia akan pergi ke Eropa." Ucap Ayah Haris.


"Lily, bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya Ayah Haris.


"Sekolahku sangat lancar. Ibuku ini luar biasa ketat menjagaku. Tidak ada celah untukku bermain-main dengan waktu." jawabku yang membuat bibir Ibu tersenyum simpul.


"Bagus donk. Semua urusan anak-anak memang Ayah serahkan kepada Ibumu. Dia ahli dalam hal itu." Ucap Ayah Haris.


"Ayah pandai sekali memuji." Jawab Ibu malu-malu.


Entah perasaan apa yang kini aku rasakan.


Di sisi lain rasa cinta yang mendalam kepada Kak Dave, dan di sisi yang lain tidak ingin membuat moment langka ini berakhir.


"Lily, kamu kok melamun?" Tanya Ayah Haris.


"Owh itu, gak yah. Aku cuman seneng aja akhirnya Ibu dan aku punya tempat untuk berkeluh kesah dan berlindung." Ucapku.


Ayah Haris memeluk kami berdua.


"Tenang saja. Selama ada ayah, tidak ada yang bisa buat kalian takut n sedih. Ayah akan selalu menjaga kalian bertiga." Ucap Ayah Haris.


Aku sangat terharu dengan apa yang di ucapkan ayah tiriku ini.


Seakan sosok almarhum Ayah berada di dalam nya.


Sosok bertanggung jawab dan setia kepada keluarga.


"Udah.. udah.. gak usah mewek. Seminggu lagi ayah mau cuti, kita liburan. Dave di ajak sekalian." Ucap Ayah Haris.


Dia memahami perasaanku dan Ibuku yang bahagia karena kehadirannya di kehidupan kami.


Tetesan air mata kebahagiaan yang kami tumpahkan di pelukannnya adalah sebagai bukti bahwa begitu luar biasanya peran Ayah Haris.


Bukan hanya sebagai ayah atau suami, tetapi juga sebagai sahabat.


Ayah Haris yang terbaik.


"Lily, kamu besok sekolah kan? kamu tidur aja dulu." Ucap Ayah Haris kemudian melepaskan pelukannya.


"Baik, selamat malam Ayah dan Ibu." Ucapku.


Aku beranjak dari tempat dudukku untuk menuju kamar atas.


Ibu dan Ayah masih tinggal di ruang keluarga.


Mereka sedang mengobrol hal yang penting.


"Yah, anak kita. Mereka..." Ucap Ibu.


"Ada apa dengan mereka?" Jawab Ayah Haris.


"Mereka saling mencintai." Ucap Ibu.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Ayah.


Ibu yang takut kalau suaminya marah, langsung mengalihkan pembicaraan.


"Ayah, gimana kerjaannya? lancarkan?" Jawab Ibu ngeles.


"Jawab dulu, Jangan ngeles kayak anak-anak." Ucap Ayah Haris dengan wajah datar.


Ibu tiba-tiba gugup. Beliau khawatir jika suaminya akan melakukan hal yang lebih kejam dari yang beliau lakukan.


"Biarkan saja, belum saatnya memikirkan jodoh untuk anak-anak kita. Ibu tolong fokus sama pendidikan mereka saja." Jawab Ayah Haris.


Ibuku menghela nafas, beliau lega.


Ternyata respon Ayah Haris tidak sedramatis yang beliau kira.


"Kita istirahat saja. Besok mau kerja lagi." Ucap Ayahku.


Ibu ku mengangguk kemudian mereka beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar untuk istirahat.


* * *


"Jika aku dan Kak Dave saling mencintai, apa tanggapan Ayah ya?" Gumamku.


Galau dan bimbang.


Malam yang panjang ini harus ku lewati dengan mata yang tidak kenal rasa kantuk.


Saat Ayah Haris memeluk kami tadi, ada rasa ketakutan yang mendalam.


Apakah kasih sayang dan kepedulian Ayah Haris padaku akan berubah jika tahu aku dan Kak Dave saling mencintai?


Haishhhh...


Dia saat bahagia seperti ini masih saja cinta yang ku miliki pada Kak Dave menjadi kendala.


Tunjukkan jalan yang terbaik.


Jalan yang membuatku dan Kak Dave memperoleh keadilan.


Terlalu di permainkan takdir sungguh menyakitkan.


Setelah aku merasa tenang, akhirnya mata ini mau di ajak kompromi.


Doa sebelum tidur mengantarkan ku menuju mimpi yang indah.


* * *


Pagi hari..


Aku berangkat sekolah satu jam lebih awal dari biasanya karena aku mendapat tugas menjadi duta kebersihan kelas.


Bersama Nita dan Wulan, kami bekerja sama membuat bersih kelas.


Akan ada lomba kelas terbersih bulan ini.


Hadiahnya lumayan buat makan-makan teman-teman satu kelas.


"Ayah antar kamu ya?" Ucap Ayah Haris' saat selesai sarapan.


"Oke. Ayo kita berangkat." Jawabku bersemangat.


"Ibu gak sekalian ikut? Ucap Ayah Haris yang melihat Ibu sedang mencuci piring.


"Tidak, Ibu masih nanti berangkatnya. Kalian duluan saja." Ucap Ibu.

__ADS_1


Ayah dan aku berpamitan dengan Ibu.


Kemudian kami melangkahkan kaki keluar rumah.


Kami masuk ke dalam mobil yang sudah siap untuk mengantarku ke sekolah.


* * *


Di dalam mobil...


"Tumben kamu berangkat sepagi ini?" Tanya Ayah Haris.


"Ada lomba bulan bersih Yah, aku jadi duta kebersihan kelas. Aku yang harus membagi tugas kepada teman-teman di kelas. Ada hadiah nya juga Yah, lumayan buat makan-makan." Jawabku.


"Oh begitu ceritanya. Ehm, Ayah ingin bertanya sesuatu padamu." Ucap Ayah Haris.


Sepertinya Ayah Haris bakal nanyain hal yang tidak ingin aku bahas.


"Kamu mencintai Dave?" Tanya Ayah Haris.


Benarkan?


Baru aja Ngebatin udah kejadian.


Aku menarik nafas panjang kemudian ku hembuskan perlahan.


Aku mencari alasan yang tepat dan tidak terkesan ngeles agar Ayah Haris tidak bertanya lebih jauh.


"Iya Yah, kan dia kakakku. Pastilah saling mencintai dan menyayangi." Ucapku lega.


"Hanya sekedar cinta seorang adik dan kakak?" Tanya Ayah Haris kembali.


Kini Ayah Haris membuatku tidak berkutik.


Ayah Haris juga membuatku menjadi salah tingkah.


"Jika itu benar, apakah Ayah akan marah?" Tanyaku.


"Sekolah saja dulu. Sekolah lebih penting dari yang lain." Jawab Ayah Haris.


Ada sebuah kekecewaan yang terpancar dari raut wajahnya.


Semakin rumitkan?


Hal yang ku takutkan kini menjadi nyata.


Ayah Haris sudah mulai curiga denganku.


Kini aku pasrah atas nasib apa yang akan ku jalani kelak.


* * *


Beberapa menit kemudian...


Mobil Ayah Haris berhenti di depan sekolahku.


Aku pamit dan mencium tangannya Ayah Haris.


Ada rasa canggung di sana.


Kemudian aku turun dari mobil.


Ku lambaikan tanganku ke kepada Ayah Haris.


Tetapi dia tidak menggubrisnya.

__ADS_1


Semakin lama mobil yang di kemudikan Ayah Haris menjauh dan semakin jauh.


"Tuhan, izinkan aku untuk tetap menjaga perasaan ini. Hamba tidak mampu jika harus di pisahkan terlalu lama dengan orang yang sangat hamba cintai. Kak Dave, apakah kamu juga merasakan apa yang aku rasakan?" Gumamku dalam hati.


__ADS_2