
Satu minggu kemudian...
Pagi itu terasa sangat sunyi saat ayah dan ibu Lily tidak berada di rumah. Sang gadis merasa kesepian, apalagi sudah satu minggu ini hubungannya dengan sang ayah sambung merenggang. Saat Lily mendekati sang ayah, dia selalu mendapatkan penolakan, pikirannya menjadi kalut. Lily menatap jauh ke luar jendela kamarnya, ada sosok yang sangat ia kenal berada di sana, dia melambaikan tangan kepadanya.
"Nita dan Wulan," pekik Lily.
Segera saja ia membuka pintu kamar dan membawa kedua kakinya berlari menuruni tangga untuk mencapai pintu utama.
Saat dia sudah berada di pintu utama, sang gadis membuka pintu itu dan terlihat dua sosok yang sangat ia rindukan.
"My bestie," ucap Lily sembari memeluk tubuh keduanya.
"Ly, gak usah lebay deh loe, biasa aja," Nita merasa jika sang sahabat terlalu berlebihan.
"Iya, gua juga ngerasa gitu, kita juga baru dua hari gak ketemu," timpal Wulan.
"Gak gitu gaes, gue ini udah di rumah sendiri, mati lampu lagi, mana ponsel lowbat, kan ngenes," gerutu Lily.
Kedua sahabatnya tersenyum mendengar keluhan sang sahabat.
"Gue kesini sama Wulan atas mandat dari ibu loe, pulsa listrik loe habis, beliau mau nyuruh loe gak tega karena motor di rumah gak ada bensin, loe juga gak ada uang, gue bener gak?" tanya Nita.
"Loe tahu aja...haha, gue yang isi aja pulsa listriknya, mana kodenya," Lily meminta kode yang tertera di struk yang dibawa oleh Nita.
__ADS_1
Lily keluar, dia memencet kode pulsa listrik itu, setelah terisi, lampu nyala kembali.
"Syukur deh lampu nggak listrik gak jadi mati, yuk masuk ke kamar gue," pinta Lily.
Kedua sahabatnya mengekor langkah Lily menaiki tangga untuk menuju kamar sang gadis. Setelah sampai di kamar Lily, sang gadis mempersilahkan kedua sahabatnya untuk masuk.
"Lama banget gue nggak main ke sini," ucap Nita.
"Iya gue juga ngerasain hal yang sama, sejak kak Dave pindah ke sekolah lain, entah mengapa gue males main ke rumah loe," jawab Wulan.
"Jadi loe kesini karena ada kak Dave?" Lily melotot ke arah Wulan.
"Peace Ly, canda gue, sensitif amat," Wulan mencoba membela diri.
Lily kembali terlihat murung, kedua sahabatnya menjadi bingung. Nita mencoba bertanya tentang kabar kak Dave di sekolah barunya, tetapi Lily selalu menghindar, pada akhirnya gadis itu itu harus mengatakan hal yang sebenarnya terjadi diantara Dave dan dirinya.
"Hubungan yang bagaimana maksud loe? loe kan emang ada hubungan sama kak Dave, dia kakak loe dan loe adiknya dia, kejujuran macam apa yang loe maksud?" tanya Wulan heran.
Lily menghela nafas panjang, kini posisinya memang harus benar-benar mengatakan hal yang sejujurnya. Entah kedua sahabatnya itu akan setuju atau justru meninggalkannya setelah mengetahui kebenaran yang ada.
"Gue sama kak Dave pacaran!" Lily sudah mengatakan hal yang sebenarnya, dia pasrah atas apa yang akan sahabatnya katakan karena Nita dan Wulan adalah fans fanatik dari kakaknya.
Nita dan Wulan terdiam, mereka saling pandang dan tidak percaya dengan apa yang Lily katakan. Mereka berdua masih mencerna apa yang disampaikan oleh Lily dengan logika yang mereka punya.
__ADS_1
Setelah benar-benar mengerti, Nita mengatakan jika apa yang disampaikan oleh Lily sangat melukai hatinya, apalagi Wulan, sejak mereka SMP sudah pernah berjanji Jika Kak Dev hanya akan menjadi idola bukan menjadi pasangan salah satu dari mereka. Kedua sahabat Lily sangat kecewa dengan keputusan yang ia ambil.
"Kalau loe cara mainnya kayak gini mending kita enggak usah temenan lagi aja," Nita terlihat sangat marah.
"Maaf ya Ly selama ini ini gue itu udah curiga tentang kedekatan antara loe dan Kak Dave tapi gue biarin aja, gue pengin denger sendiri kejujuran dari loe tapi selama ini apa? loe nggak bilang apa-apa ke kita dan setelah kak Dave pergi, loe baru bilang, tega loe Ly!" Wulan juga merasa sangat kecewa dengan apa yang disampaikan oleh Lily.
Keduanya beranjak dari kamar sang sahabat, Nita dan Wulan merasa dibohongi oleh Lily, jika saat itu Lily mau mengatakan hal yang sebenarnya sejak awal mungkin mereka masih bisa memaafkan tapi jika semuanya sudah terlambat seperti ini akan sangat sulit untuk keduanya memberikan maaf.
"Atas nama persahabatan kita sejak kelas 1 SMP, gue mohon loe nggak usah deketin gue sama Nita lagi karena hubungan persahabatan kita telah usai," jelas Wulan.
Lily menggenggam tangan keduanya sangat erat, dengan berlinang air mata, ia memohon dengan sangat agar kedua sahabatnya mau memaafkan dirinya dan kembali bersahabat seperti sediakala.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, Nita dan Wulan sudah sangat kecewa dan merasa dibohongi oleh sang sahabat.
"Gue mohon maafin gue, nggak ada maksud lain selain hanya untuk berkata jujur pada kalian berdua, ayah gue juga ngejauh dari gue gara-gara hubungan kami, meskipun kami bersaudara tapi itu kan juga saudara tiri kami sepakat untuk mempertahankan hubungan ini," Lily masih mencoba menahan kepergian kedua sahabatnya.
"Oh, loe ternyata juga udah ngecewain ayah loe, loe tahu nggak sih! ibu loe kemarin ke rumah gue, dia minta gue dan Nita nemenin loe karena loe lagi sedih, gue kira sedih karena apa, ternyata sedih karena jauh dari kak Dave, tapi loe nggak sedih saat ayah lo ngejauh dari loe, fix kita nggak usah temenan lagi!" Wulan terlihat sangat marah, dia melepas genggaman tangan Lily dan pergi begitu saja.
Lily memohon kepada keduanya agar tetap berada di rumahnya dan membicarakan semuanya dengan baik-baik, Nita dan Wulan tidak mendengarkan Lily, mereka berdua masih dengan pendiriannya yang kuat. Mereka lebih memilih untuk segera pulang karena sudah muak dengan apapun yang Lily lakukan.
Lily bersimpuh di depan pintu utama, dia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"Jika memang cinta ini salah tunjukkanlah Tuhan, karena rasa sakit ini, tidak sepadan dengan kehilangan kedua sahabat yang sejak dulu bersama dalam suka dan duka," Lily merasa sangat sedih, tapi dia hanya pasrah. Gadis itu juga merasa sangat bersalah kepada semua orang yang terlibat dalam kisah cinta tak wajar yang ia bangun bersama Dave, termasuk kedua sahabatnya dan keluarganya. Lily mencoba bangkit tetapi rasanya sangat lelah.
__ADS_1
BRUKK...
Tubuh Lily ambruk, dia terlalu sedih karena bebannya sangat berat. Selain harus menjaga perasaan ayah dan ibunya dia lupa jika kedua sahabatnya itu lebih mementingkan kejujuran darinya, bukan sebuah kebohongan yang selama ini ditutupinya.