
Seminggu kemudian...
Seperti biasanya, Lily masuk sekolah jam 7 pagi. Dia berada di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran pertama yaitu bahasa Indonesia. Dia duduk berdekatan dengan meja sang guru. Lily sengaja menghindari kedua sahabatnya, dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Suatu saat nanti dia akan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, Lily berusaha keras untuk fokus belajar, meskipun pikirannya melalang buana. Usaha kerasnya tidak menghianati hasil, saat tiba-tiba saja bu guru memberikan ulangan mendadak, dia mampu menyelesaikannya dan mendapatkan nilai yang sempurna. Semua siswa kagum dengan Lily, mereka mengakui kecerdasan dari Lily. Nita dan Wulan diam-diam tersenyum, mereka merasa bangga dengan temannya yang masih tetap menjunjung tinggi nilai sportifitas dalam mengerjakan ulangan. Namun saat mereka mengingat tentang Dave, tak bisa dipungkiri mereka merasa kesal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30, bel tanda istirahat telah berbunyi. Para siswa berhamburan keluar, termasuk kelas Lily. Biasanya Lily akan pergi bersama Nita dan Wulan, namun karena mereka sedang memiliki hubungan yang kurang, Lily sendirian menuju kantin.
Dia menyadari tentang kesalahannya, suatu saat nanti dia akan memberikan penjelasan kepada kedua sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, Lily setelah sampai di kantin. Dia duduk sendirian di sana. Tanpa ia sadari tba-tiba saja ada seorang murid laki-laki yang mendekatinya. Pria itu tanpa permisi duduk di samping Lily sembari membawa 2 mangkok bakso.
"Makanlah ini untukmu," ucap sang murid laki-laki.
Lily menatap lekat wajah laki-laki itu, dia tidak mengenal wajah yang ada di hadapannya.
"Kakak siapa? apakah kakak murid baru?" tanya Lily .
"Aku sudah lama di sini, apa saja yang tidak pernah melihatku," jawab sang anak laki-laki.
"Bicaralah yang serius, aku sedang tidak ingin bercanda," ucap Lily tegas.
"Makan dulu, baru mengatakan hal yang serius. Apa perlu aku menyuapimu?" tanya sang murid laki-laki dengan posisi tangan ingin menyuapi sesendok bakso ke arah mulut Lily.
Lily menghindar, dia meminta agar sang murid laki-laki tidak membuatnya merasa malu. Tanpa sang murid laki-laki sadari, banyak orang yang sedang memandang keromantisan kedua orang tersebut.
Sang murid laki-laki tiba-tiba berdiri, Dia berbicara dengan lantang," Pada ngapain loe lihatin gue sama Lily? semua iri ya? kiri bilang dong bos,"
Semua mata yang tertuju kepada kedua orang itu sekejap langsung menunduk, berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Jika masih ingin tahu tentang hidupku? jangan harap kalian bisa hidup setelah ini," ucap sang murid laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Loe itu anak SMA? atau pemimpin gangster? serem amat," Lily menahan tawanya saat mendengar ucapan murid laki-laki itu.
"Terserah lo aja, yang penting makan dulu bakso ini," pinta sang murid laki-laki.
Lily tidak menghiraukan apapun yang dikatakan oleh anak aneh itu, dia memilih untuk segera pergi.
'Lily benar-benar tidak mengenaliku, pindah ke sekolah ini berarti keputusan yang benar. aku mampu mendekati Lily kembali, meskipun dia melupakanku, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya kembali," batin sang murid laki-laki yang duduk kembali, dan segera menikmati satu mangkok bakso.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang teman sang murid laki-laki, teman itu mengatakan jika nanti sore ada latihan basket, sang murid laki-laki harus datang berlatih meskipun dia sedang mengalami cedera di kakinya.
Namun si murid enggan mengikuti ucapan temannya itu, dia lebih memilih untuk mengejar Lily.
"Dua mangkuk bakso ini, buat loe!" ucap sang murid yang bergegas meninggalkan kantin dan sang teman yang kebingungan dengan dua mangkuk bakso yang penuh di atas meja.
"Marvin memang gila! mana mungkin gue bisa habiskan 2 mangkok ini sekaligus?" sang teman masih geleng-geleng kepala, dia tidak pernah mengerti apa yang ada dipikiran Marvin.
Lily merasa ada yang mengikuti dirinya, saat dia menoleh, Gadis itu menemukan sosok yang menyebalkan itu lagi.
"Ya mau kenalan aja, nama loe siapa?" Marvin berpura-pura tidak mengenal Lily, karena jika dia menunjukkan sisi yang lain, dia tidak akan pernah berani berhadapan dengan gadis yang ia sukai.
"Nama gue Vino, Marvino," Marvin benar-benar mengganti namanya agar Lily tidak mengenalinya.
"Oh," kata-kata singkat, padat dan tidak jelas dari seorang Lily.
"Kok cuma oh?" tanya Marvin.
Saat Marvin sedang menggoda Lily, datanglah Zayn. Dia adalah kakak kelas Lily yang juga sahabat Dave.
"Loe siapa? anak baru yang yang menyebalkan itu?" Zayn ternyata telah mengenal Marvin lebih dulu.
"Kak Zayn kenal sama dia?" tanya Lily heran.
__ADS_1
"Dia satu kelas sama gue, baru dua hari yang lalu dia ada di sini. Pindahan dari luar kota," jawab Zayn santai.
"Eh loe! jangan ganggu dia, Lily udah punya cowok, namanya Dave," sambung Zayn.
Jantung Marvin seperti berhenti berdetak, dia tidak pernah menyangka jika gadis yang ia sukai, sudah memiliki tambatan hati.
Marvin bergaya sombong, dia mengubah sisi terbaiknya menjadi sisi yang lain.
"Kalau udah punya cowok emang kenapa? yang nikah aja bisa selingkuh, apalagi cuma pacaran? kayaknya aku harus ngrebut Lily dari Dave," ucap Marvin terlalu percaya diri.
"Oke oke, Kalau mau lu kayak gitu, nggak maksa! lu lihat ini udah pergi, kejar gih! rebut dia kalau bisa," jawab Zayn.
Mengetahui Lily telah pergi dari hadapannya, Marvin merasa kesal. Dia segera menyusul Lily, sedangkan Zayn melapor kepada Dave.
Dia menelepon Dave, untuk saja sambungan telepon itu segera terjawab oleh Dave.
"Gimana bro?" tanya Dave.
"Ada cowok resek mau ngrebut Lily dari loe," jawab Zayn memberikan informasi terkini.
"Yang bener?" tanya Dave tidak percaya.
"Ntar gue ceritain lagi karena ini udah bel tanda masuk kelas, hari ini pelajaran Pak Bagio, lu tau sendiri kan orangnya nyebelin," gerutu Zayn.
"Hahaha, rasain loe! dulu masih ada gue yang mau nyontekin loe, sekarang siapa? kasihan amat," ledek Dave.
"Kurang ajar loe, sekarang udah enggak pren lagi ya? lu udah ah nggak baik lagi kayak dulu, sekarang malah nyukurin. Sama aja lu kayak Marvin sama-sama sombong," jawab Zayn.
"Marvin itu yang suka sama Lily?" tanya Dave penasaran.
Zain berpamitan kepada Dave karena dia memang sedang terburu-buru. Ponsel miliknya segera ia saku di bajunya. Zayn berharap Pak Bagio tidak melakukan hal yang buruk padanya karena 2 hari berturut-turut mendapatkan nilai C, tapi dia senang karena sebelumnya dia mendapatkan nilai E.
__ADS_1