
Semenjak Ibu Gaby meninggal, Kak Dave lebih perhatian kepadanya.
Itu yang seharusnya Kak Dave lakukan bukan?
Aku harus lebih pengertian.
Dari awal, hubungan kami juga sudah banyak rintangan.
Aku percaya kepada Kak Dave.
Hari ini, Kak Daniel akan datang ke rumah dan mengajakku pergi keluar.
Aku sudah menunggunya hampir setengah jam.
Drttdrtt...
Ponsel yang sedari tadi aku genggam, tiba-tiba bergetar.
Saat melihat layar di ponsel ku, aku merasa tenang.
Kak Daniel yang membuat panggilan telefon.
"Hallo Kak? kamu sudah sampai mana?" Tanya ku pada Kak Daniel.
"Maaf Lily, aku terjebak macet. Mau kah kamu menunggu ku beberapa menit lagi?" Jawab Kak Daniel.
"Oke, Aku akan menunggumu." Ucap ku sambil tersenyum.
"Temani aku bicara, di sini membosankan." Pinta Kak Daniel manja.
Kak Daniel juga bisa manja Ternyata.
Aku baru tahu, sisi lain yang hanya di perlihatkan di depanku.
"Lily, kamu masih di situ?" Tanya Kak Daniel yang menyadari kalau aku hanya diam saja.
"Iya , aku masih di sini. Aku hanya ingin kembali ke kamar ku." Jawab ku sambil melangkah menuju kamar atas.
"Lily, besok setelah aku lulus SMA, aku akan kuliah di Paris. Apakah kamu senang?" Kata Kak Daniel yang membuat terkejut.
"Mengapa tiba-tiba ingin ke Paris?" Tanyaku heran.
"Ibu mu bilang, kamu akan kuliah di Paris kan? Ibu mu menyuruh ku untuk menjagamu di sana." Ucap Kak Daniel.
What's?
Dia ingin bersama sampai ke Paris?
Ini tidak boleh terjadi.
"Kak Daniel, itu hanya mimpi ku waktu dulu. Aku belum pasti pergi ke sana." Jawabku beralasan.
"Oke. Pokoknya aku akan menjagamu ke mana pun kamu pergi." Ucap Kak Daniel
"Tidak usah Kak, terima kasih." Jawabku.
"Maaf Lily, aku tutup telfonnya dulu. Arus lalu lintasnya sudah mulai lancar, aku ingin melanjutkan perjalanan." Pinta Kak Daniel.
"Ya. Hati-hati di jalan." Jawabku.
Setelah Kak Daniel menutup panggilan telefonnya, aku duduk di atas ranjangku.
Aku merasa hubungan ku dengan Kak Daniel harus di selesaikan.
Terlalu lama berbohong juga tidak baik.
Tapi, Ibu dan Ayah ku sudah setuju dengan hubungan kami.
Arggg...
__ADS_1
Dilema !!!
Beberapa menit kemudian...
Suara motor Kak Daniel, aku harus segera turun dan menemuinya.
Aku mengintip di balik jendela ruang tamu, ternyata bukan Kak Daniel tetapi Kak Dave.
Aku bersembunyi di balik pintu.
"Kenapa sepi sekali, apa Lily masih di kamar ya?"
Ucap Kak Dave bicara sendiri.
"Hiiiii....Dave, hati-hati di belakang mu." Ucap ku sambil meniru kan suara menyeramkan seperti hantu yang aku lihat di film horor.
"Kamu tidak akan bisa membuatku takut." Jawab Kak Dave yang tahu kalau itu suara ku.
"Hahahaha, kamu memang sulit di ajak bercanda." Ucap ku tertawa geli dengan sikapnya.
"Wow, sudah rapi dan cantik sekali. Kamu mau pergi kemana?" Tanya Kak Dave yang melihat penampilan ku dari kaki hingga rambutku.
"Aku mau pergi bersama Kak Daniel." Jawab ku resah.
"Dari pukul 4 sore sampai pukul 5 sore, Daniel kemana aja belum datang? Kamu maunya di bohongi Daniel." Ucap Kak Dave.
"Kak Daniel gak bohong, dia terjebak macet." Kata ku menjelaskan kepada Kak Dave
"Kak, kamu dari mana?" Tanya ku.
"Rumah Gaby, dia sangat terpuruk. Aku kasihan melihatnya menangis terus." Jawab Kak Dave.
Dia menatap mataku, dia merasa ada yang aneh dengan ku.
"Kamu tidak marah?" Tanya Kak Dave.
"Tidak, temani saja Gaby. Kasihan dia harus di tinggal orang yang sangat dia sayangi secepat ini. Aku juga pernah merasakannya." Ucap ku merasa sedih
Aku mengintip dari balik jendela.
Ternyata benar, aku harus segera keluar menemuinya.
"Jangan pergi Lily." Ucap Kak Dave yang tiba-tiba memeluk ku.
"Lepaskan aku Kak." Pinta ku sambil menjauhkan tubuh Kak Dave dari ku.
"Aku cemburu." Ucap Kak Dave jujur.
Kemudian Kak Dave melepaskan pelukannya.
"Sama, aku juga cemburu kalau kamu sama Gaby. Tapi mau bagaimana lagi." Jawabku
"Apa kita sudahi saja sandiwara ini?" Pinta Kak Dave.
"Kita masih rumit Kak, aku percaya padamu. Kita harus terbiasa dengan kecemburuan ini." Ucap ku pada Kak Dave.
"Pergi lah, kasihan Daniel terlalu lama menunggu mu." Pinta Kak Dave yang langsung memalingkan wajahnya.
"Aku pergi dulu, Kak." Ucap ku sambil melangkah kan kaki menemui Kak Daniel.
"Hmm." Jawab Kak Dave singkat.
__________________________
Di Cafe...
Ternyata Kak Daniel mengajakku ke sini.
Ini adalah tempat yang pernah aku datangi bersama Kak Dave.
__ADS_1
Semoga pemain Band nya lupa dengan wajahku.
"Kamu suka tempat ini?" Tanya Kak Daniel.
"Suka." Jawab ku.
"Ada live musik juga kan? bagus gak?" Tanya Kak Daniel sambil membuka buku menu.
"Iya Kak." Jawabku singkat.
"Dulu , aku dan Dave, juga teman-teman kami berdua, sering sekali datang ke sini. Biasanya Dave akan bernyanyi di sana." Ucap Kak Dave sambil menunjuk panggung live musik berada.
Wow..
Luar biasa..
Ternyata dia sering menyanyi di sini.
Makanya, suaranya lumayan bagus
"Kamu senyum-senyum sama siapa?" Tanya Kak Daniel yang sedari tadi memperhatikan ku.
"Oh tidak apa-apa Kak, Aku hanya suka lagu yang dibawakan Band live musik itu." Ucap ku beralasan.
"Apa perlu aku request lagu untuk mu?" Tanya Kak Daniel.
Bahaya ini, jangan sampai ketahuan kalau aku dan Kak Dave pernah pergi ke sini.
Tapi harapan ku pudar, Kak Daniel tiba-tiba naik ke atas panggung dan membisikkan sesuatu kepada sang vokalis.
Sang vokalis band mengangguk, kemudian dia turun dari panggung.
Astaga, Kak Daniel berdiri di atas panggung live musik dengan mic di tangannya.
"Aku persembahkan lagu ini untuk kekasih ku." Ucap Kak Daniel.
#Huft..
#Untung saja Kak Daniel tidak menyebut namaku.
#Kali ini aku masih aman.
Kak Daniel sangat menghayati lagunya.
Dia membawakan lagu dari Tulus, judulnya jangan cintai aku apa adanya.
Aku merasa, dia ingin aku seperti pasangan pada umumnya.
Merasakan cemburu juga melakukan hal yang romantis.
Saling melempar canda dan hal-hal sederhana lain yang bermakna.
Kak Daniel begitu apa adanya.
__________________
Beberapa menit kemudian, Kak Daniel turun dari panggung.
Semua pengunjung bersorak-sorai.
Mereka menyukai suara Kak Daniel.
"Suaramu bagus Kak." Puji ku pada Kak Daniel yang kini sudah duduk di depanku.
"Aku malu tadi." Ucap Kak Daniel dengan senyum simpul nya.
"Kalau malu harus nya grogi kan? tapi kamu membawakan lagunya dengan sangat baik. Aku suka." Jawab ku yang membuat Kak Daniel bahagia.
Dia menggenggam kedua tanganku dan berkata,
__ADS_1
"Seperti lagu Tulus tadi, aku ingin kamu jangan cintai aku apa adanya. Tuntut lah sesuatu, biar kita jalan ke depan." Ucap Kak Daniel dengan tatapan hangat penuh harapan.