MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 43


__ADS_3

"Ayah seharusnya tidak mengatakan itu kepada Dave." Ucap Ibuku yang merasa suaminya terlalu terburu-buru dalam memutuskan suatu hal berkaitan dengan hubunganku dan Kak Dave.


"Yang lebih tahu tentang Dave adalah Ayah." Jawab Ayah Haris dengan penuh emosi.


"Bukan begitu maksud Ibu. Dave dan Lily belum lulus SMA. Masih banyak hal yang harus mereka kerjakan. Jika Ayah sudah memaksakan kehendak Ayah, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi pemberontak. Terutama Dave, dia adalah anak yang keras kelapa. Dia akan mengejar apa yang dia yakini benar. Kita sebagai orang tua selayaknya mengarahkan dan membimbing mereka menggunakan cara yang lebih lembut bukan dengan emosi." Ucap Ibu.


"Ibu jangan sok bijak dan sok tahu tentang mengurus anak. Ayah sudah 18 tahun menjadi Ayah tunggal untuk Dave. Ayah rela melakukan apapun demi dia. Bagaimana bisa dia tidak mengingat itu semua." Jawab Ayah Haris.0


Ibu tidak menanggapi apa yang di katakan sang suami dan lebih memilih fokus menyetir mobil saja.


Suasana di dalam mobil menjadi hening dan kaku.


Ibuku dan Ayah Haris tidak pernah berselisih paham sebelumnya.


Tapi karena ini menyangkut Kak Dave, Ayah Haris menjadi sangat emosional.


* * *


Sesampainya di rumah...


"Lebih baik Ayah istirahat dulu di rumah, jangan memaksakan diri untuk bekerja lagi." Ucap Ibuku.


Ayah Haris tidak mengubris ucapan Ibuku.


Setelah Ibuku turun dari mobil, Ayah Haris kemudian duduk di kursi kemudi.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ayah Haris langsung pergi dengan mengendarai mobil Ibuku.


"Dasar mas Haris." Ucap Ibuku sembari masuk ke dalam rumah.


Saat Ibuku melangkah menuju kamarnya, dia terkejut karena aku memeluknya dari belakang.


"Ibu sudah pulang, tapi Ayah dimana?" Tanyaku keheranan.


"Huh... Lily, Ibu kaget tahu. Kamu itu ya, masih suka jahil sama Ibu." Jawab Ibuku.


"Ya maaf deh, hehe. Aku tadi lihat Ibu diam saja, aku panggil juga tidak dengar." Ucapku protes.


"Iya Lily. Ibu sedang banyak pekerjaan, jadi tidak fokus. Oh ya, kamu sudah pulang? tumben pulang awal?" Tanya Ibuku.


"Iya Bu, besok ada pertandingan sepakbola di sekolah Lily. Sekolahku jadi tuan rumahnya. Semua siswa di suruh pulang lebih awal. Banyak persiapan yang harus di lakukan sekolah. Ini ajang bergengsi, jadi sekolahku tidak main-main dalam menyiapkan acaranya." Jelasku.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang lepasin pelukanmu sayang, Ibu harus ke kamar. Ibu akan mandi dan bersiap-siap, sebentar lagi Ibu akan pergi ke butik." Ucap Ibuku.


Aku melepaskan pelukanku dan membiarkan Ibuku masuk ke dalam kamarnya.


Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.


Ibu tidak menjawab saat aku bertanya tentang Ayah Haris.


Aku curiga ada hal yang mereka sembunyikan karena sebelumnya Ibu tidak pernah seperti ini.


"Daripada penasaran, nanti aku tanya saja pada Ibuku." Gumamku.


* * *


Asrama Kak Dave...


Kak Dave merasa kesal dengan apa yang Ayah Haris ucapkan. Dia menjadi emosional dan tidak terkendali.


Kelvin yang baru saja selesai latihan sepakbola terkejut melihat kamar yang dia tempati bersama Kak Dave acak-acakan.


"Woy Dave? loe napa?" Tanya Kelvin.


"Ayah gue nyuruh gue ninggalin Lily tanpa alasan yang jelas. Gue gak terima." Jawab Kak Dave.


"Bodo amat." Ucap Kak Dave yang tidak perduli dengan ucapan Kelvin.


Kak Dave keluar dari kamarnya dengan emosi yang masih membara.


"Ya elah, situ yang ngacak-acak. Gue yang bersihin." Gerutu Kelvin.


Setelah membersikan kamar, Kelvin mencari keberadaan Kak Dave.


Kelvin memilih mencari Kak Dave di lapangan sepak bola karena tempat favorit Kak Dave adalah di sana.


Ternyata dugaannya benar, Kak Dave sedang berada di sana.


"Loe bisa curhat sama gue." Ucap Kelvin yang membuat Kak Dave menghentikan latihannya.


"Loe ngapain ngikutin gue?" Tanya Kak Dave.


"Gak usah latihan kalau loe lagi emosi, mending loe curhat aja sama gue. Gue dengerin deh." Ucap Kelvin.

__ADS_1


Kak Dave awalnya ragu, tapi tidak bisa di pungkiri jika dirinya memang membutuhkan teman untuk bercerita.


Kak Dave memutuskan untuk menghampiri Kelvin.


"Nah gitu, nurut loe sama gue. Duduk sini dekat sama bang Kelvin." Jawab Kelvin sambil tertawa.


"Ogah deket-deket loe. Gue masih normal. Gue sini aja." Jawab Kak Dave yang berdiri di samping Kelvin dengan jarak satu meter.


"Yaelah Dave, gitu amat dah." Ucap Kelvin.


"Berisik loe, jadi denger curhatan gue gak?" Jawab Kak Dave mulai emosi.


"Iya iya, jadilah. Cepat loe cerita. Mana tahu bisa bantu nanti gue." Ucap Kelvin.


Dengan tangan menyilang di dada Kak Dave menatap lurus ke depan.


"Ayah gue tadi bilang kalau gue harus ninggalin Lily. Gue gak tahu sebabnya apa, yang bikin gue kesel tuh udah jelas gue sama Lily kan saudara tiri. Gak ada yang harus di perdebatkan mengenai itu." Jawab Kak Dave mulai bercerita.


"Loe harus tenang Dave, jangan pakai emosi. Loe juga harus memahami perasaan orang tua loe. Menurut gue wajar Ayah loe bilang kayak gitu. Secara percintaan adik kakak itu penuh resiko. Meski kalian tidak sedarah, tapi seringnya kalian berinteraksi membuat Ayah loe khawatir. Apalagi kalian serumah kan? Saat Ayah loe tahu itu, dia mungkin jadi parno sendiri. Makanya dia ngelarang hubungan loe sam adik loe." Jelas Kelvin.


"Gak gitu juga kali. Gue mah gak buaya kayak loe. Gue tetap tahu batasannya. Tapi yang gue heran, sikap yang Ayah gue tunjukin itu seolah-olah bukan dia yang biasanya. Ada sesuatu yang membuatnya bersikap demikian." Ucap Kak Dave.


"Mungkin saja Ayah loe lagi ada masalah yang loe gak tahu. Coba deh loe ngobrol lagi sama dia. Gak baik ngambek sama orang tua kelamaan." Saran Kelvin.


"Sialan loe, gue gak ngambek. Gue lagi kesel." Jawab Kak Dave.


"Terserah loe, yang penting loe cepetan telfon Ayah loe biar semuanya jelas." Ucap Kelvin.


"Hahaha, oke deh. Makasih Vin, loe emang juara." Jawab Kak Dave.


Dengan senyum mengembang, Kak Dave kini sudah mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya.


"Nah gitu ,kalo senyum kan enak di lihat. Jangan lupa, loe hutang sama gue Dave." Ucap Kelvin.


"Hutang apaan? loe kali yang hutang sama gue belum loe lunasin." Jawab Kak Dave.


"Hahaha.. masih ingat aja loe. Hutang gue lunas aja ya, loe kan tadi udah ngacak-acak kamar tuh, gue yang beresin tadi. Anggap saja sudah bayar ya?" Ucap Kelvin.


"Iya, tenang aja." Jawab Kak Dave.


Kak Dave dan Kelvin memutuskan untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Kak Dave sudah tidak sabar ingin berbicara dengan sang Ayah.


__ADS_2