MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU

MENCINTAI KAKAK (TIRI) KU
Chapter 46


__ADS_3

Lima belas menit sudah ibu Nawang membiarkan kakak beradik itu melepas rindu, pada akhirnya, dia sendiri yang harus mengakhiri kisah pertemuan antara dua sejoli itu. Ibu Nawang melangkahkan kedua kalinya menuju Dave dan Lily berada, sebenarnya dia tidak ingin segera memisahkan mereka, namun waktunya belum tepat untuk saat ini. Di kala sang suami yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap hubungan Dave dan Lily yang notabene adalah kakak beradik itu.


"Wah ngobrolnya asik banget, ngobrolin apa sih?" tanya ibu Nawang.


"Temannya kak Dave membuat keripik kentang tapi alot gini," tukas Lily sambil memperlihatkan tekstur keripik kentang tersebut kepada sang ibu.


"Ibu juga mau coba," jawab ibu Nawang.


Dia mengambil dua potong keripik kentang, wajahnya seketika berubah.


"Temannya Dave pasti buat keripiknya dengan penuh kemarahan, dari teksturnya saja susah seperti ini, motong kentangnya terlalu tebal dan tidak beraturan, jadi gak bakal garing dan kriuk dong," ucap ibu Nawang mengomentarinya hasil karya teman Dave.


"Haha, ibu lebih kejam dariku," jawab Lily.


"Iya, lebih julid," jelas Dave.


"Sudah ya bercandanya? ibu dan Lily pamit dulu Dave," ucap ibu Nawang.


"Apa tidak bisa lebih lama lagi?" tanya Lily.


"Satu minggu lagi kalian akan bertemu lagi, ibu janji," tukas sang ibu.


Dave dan Lily merasa sangat gembira karena sang ibu memberikan restu serta dukungan kepada hubungan mereka berdua. Dave melepaskan genggaman tangannya yang sedari awal tak terlepas dari tangan Lily itu.


"Kami pulang dulu Dave," pamit sang ibu.


"Oke, hati-hati di jalan ya buat ibu dan Lily," jawab Dave.


Dave melepas kepergian sang kekasih dengan penuh kegembiraan, pasalnya satu minggu kemudian, mereka akan bertemu kembali. Dave dan Lily tak henti saling pandang dan melambaikan tangan, hingga tubuh gadis itu telah keluar dari area ruang kunjungan dan perlahan benar-benar pergi meninggalkan asrama itu.


"Lily, kamu baik-baik saja kan?" tanya sang ibu saat berada di dalam mobil.


"Lily baik ibu, aku hanya..." Lily tidak melanjutkan ucapannya karena khawatir sang ibu akan marah.


"Hanya apa? katakan saja," pinta sang ibu.


"Tidak ada ibu, Ehm, lebih baik ibu fokus menyetir saja," tukas Lily.


Sang ibu merasa jika putrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi untuk saat ini, beliau tidak ingin menanyakan hal itu lebih lanjut, dia lebih memilih untuk bersikap biasa saja.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Lily dan sang ibu sampai juga di rumah. Lily dan ibu keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Sampai rumah juga," celetuk Lily.


"Iya Ly, kamu mau makan apa? nanti ibu akan memasak untukmu," ucap sang ibu.


"Tidak perlu repot-repot bu, aku masih kenyang, aku hanya ingin masuk ke kamarku, nanti kalau aku ingin sesuatu, pasti akan mengatakannya pada ibu," jelas Lily.


"Oke, beristirahatlah," pesan ibu.


Lily perlahan menaiki tangga menuju kamarnya, dia terlihat tak bersemangat sama sekali.


'Dia pasti sedang memikirkan ayahnya, aku tahu anakku, dia tidak akan pernah mengatakan apapun jika itu akan membuatku bersedih,' batin sang ibu.


...* * *...


Di kamar Lily


Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, pikirannya melayang jauh menembus segala batas kekhawatirannya, dia memikirkan sang ayah sambung yang terkesan acuh dengannya dan sang ibu.


"Tuhan, jangan biarkan ibu dan ayah berpisah hanya karena cinta kami ini, semoga ayah akan segera memberikan restu. Amin," ucap Lily dalam pengharapannya kepada sang maha kuasa.


Saat Lily gundah gulana, dia teringat satu nama yang bisa membuatnya tenang. Gadis itu mengambil ponsel yang ada di saku bajunya dan segera mencari nama Dave di kontak ponselnya. Awalnya dia merasa ragu untuk menghubungi kakaknya, namun dia memberanikan diri menelpon Dave.


Belum sempat Lily menekan tombol call, Dave sudah menghubunginya. Gadis itu merasa gembira, dia menjawab panggilan sang kakak.


"Oh itu, aku hanya ingin, itu," jawab Dave salah tingkah.


"Kalau ngomong pelan-pelan aja, gak usah cepet-cepet, aku masih dengerin kok suara kak Dave," ucap Lily.


"Kamu sudah sampai rumah belum dik?" tanya Dave akhirnya mampu mengatakan hal yang harus di katakannya.


"Sudah," jawab Lily.


"Oh ya, oke," ucap Dave.


Lily ingin menceritakan keluh kesahnya kepada Dave namun dia ragu, sepuluh menit berlalu, keduanya masih diam.


"Kamu lagi apa kak?" tanya Lily memulai pembicaraan.


"Aku lagi mau belajar dik, kamu lagi apa?" jawab Dave.


"Aku lagi rebahan di kamar kak, rasanya pusing banget kepalaku," jelas Lily.

__ADS_1


"Kamu belum makan kali dik, jadi kamu ngerasa pusing," terka Dave.


"Bukan itu kak, tapi..."


Lily tak meneruskan ucapannya membuat Dave curiga jika Lily menyembunyikan sesuatu darinya.


"Hayo tapi apa hayo? pasti ada hal yang membuatmu gelisah, cerita aja sama aku," pinta Dave.


Gadis itu berpikir ulang, jika dia terus memendam semuanya sendiri, masalah tidak akan pernah selesai. Dia memutuskan untuk bercerita kepada Dave.


"Maaf kak, sebenarnya, aku kepikiran ayah," jelas Lily terus terang.


"Ayah kenapa? tanya Dave.


"Ayah menjadi dingin dan cuek kak, apa dia benci sama aku ya?" terka Lily.


Dave yang memahami akar permasalahannya, mencoba menenangkan Lily.


"Siapa bilang? ayahku itu kalau lagi ada masalah di kerjaannya emang gitu, cuma kelihatannya aja cuek, tapi aslinya gak," jelas Dave.


"Tapi, waktu aku pulang sekolah, dia pergi gitu aja, gak pamit aku atau ibu dulu," ucap Lily.


"Dia cuma kelelahan, tenang aja, ayah orangnya baik kok, dia gak akan acuh kalau tanpa alasan," jawab Dave.


"Alasannya karena dia gak suka sama aku kan?" tanya Lily.


"Dengar kak Dave, Ly. Kak Dave janji gak akan buat Lily menderita dengan hubungan kita, masalah ayah biar kak Dave aja yang urus, kak Dave akan bicara sama ayah, kamu mengerti manis?" jelas Lily.


"Hmm, tapi tetap saja kak Dave, Huft," tukas Lily putus asa.


"Kamu lebih baik istirahat dulu aja, kalau kamu udah istirahat, pikiran negatif kamu akan perlahan menghilang, bisa fresh lagi deh," saran Dave.


"Makasih ya kak," ucap Lily.


"No problem, nanti malam aku telepon kamu lagi, sekarang aku mau belajar, oke?" pamit Dave.


"Oke, kak, selamat belajar," ucap Lily.


"Siap Lily manis," jawab Dave.


Dave menutup panggilan teleponnya, Lily merasa lebih baik saat ini, dia baru menyadari jika sekarang Dave bukan orang lain lagi baginya, banyak hal yang sudah mereka lalui, banyak hal yang sudah terjadi dan cinta untuk Dave masih bersemi.

__ADS_1


'Kak Dave, terima kasih untuk segalanya, kamu membuatku lebih kuat sekarang,' batin Lily.


__ADS_2