
Setelah dua hari sibuk bekerja di Surabaya, Akhirnya Ayah Haris kembali ke Jakarta.
Satu yang menjadi tujuan utamanya.
Dia hanya ingin bertemu dengan anak kesayangannya, Dave Winanta.
Ayah Haris sudah memikirkan matang-matang tentang apa yang akan dia sampaikan kepada sang putra.
Menurutnya, kisah cinta kakak beradik tiri antara aku dan Kak Dave tidak seharusnya terjadi.
Ayah Haris akan menghentikan kisah cinta ku dan Kak Dave sebelum cinta itu terlalu dalam dan terikat.
Setelah memesan tiket ke Jakarta, Ayah terbang dari bandara Juanda menuju bandara Soekarno Hatta.
Rasa takut kehilangan Kak Dave makin menjadi kala Ayah Haris mengenang almarhum istrinya, Ambar.
Jika almarhum istrinya masih hidup, mungkin kisah Kak Dave dan aku tidak serumit ini.
Tapi takdir tetaplah takdir, sekuat apapun Ayah Haris melawannya hanya akan berakhir dengan kekecewaan.
Kisah cinta yang terjalin antara dia dengan Ibunya Dave sungguhlah pelik.
Ayah Haris belajar dari kisahnya sendiri.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, yang ada hanya kebahagiaan yang semu.
Ayah Haris yang sudah terjerat cinta Ambar Nastiti.
Meski Ayah Haris sudah menikahi Ibuku, namun hatinya masih terpaut dengan Ambar.
Ayah Haris juga merasa bersalah kepada Ibuku.
Maka dari itu, memisahkanku dan Kak Dave adalah jalan keluar terbaik agar di masa depan tidak ada yang tersakiti lagi.
Dia tidak ingin sang putra mengikuti jejaknya.
* * *
"Akhirnya sampai juga."
Ayah Haris berjalan keluar dari bandara Soetta.
Dia menelfon sang istri untuk menjemputnya.
Beberapa menit kemudian sang istri datang.
Ayah Haris memasukkan koper ke dalam bagasi mobil Ibuku.
Setelah itu Ayah Haris dan Ibuku bergegas pergi mengendarai mobilnya.
__ADS_1
"Ibu, kita ke asrama Dave." Ucap Ayah Haris.
"Untuk apa, Yah? Dave sepertinya sedang sibuk." Jawab Ibuku.
"Ayah sudah buat janji dengannya, mana mungkin dia sibuk." Ucap Ayah Haris.
Ibuku merasa curiga dengan apa yang akan di lakukan Ayah Haris di asrama Kak Dave.
"Kamu mau bahas soal Dave dan Lily kah?" Tanya Ibuku penasaran.
"Nanti juga Ibu tahu." Ucap Ayah Haris.
Ibuku merasa jika suaminya menyembunyikan sesuatu darinya.
Tapi Ibuku tetap berpikir positif dan tidak ingin memikirkan hal yang belum terjadi.
* * *
Sesampainya di asrama Kak Dave...
Kak Dave sudah menunggu Ayah Haris dan Ibuku di ruang kunjungan.
Kak Dave mengatakan kepada Ibuku dan Ayah Haris bahwa dirinya terlalu bersemangat saat sang Ayah ingin menemuinya.
"Bagaimana kabarmu Dave? apa kamu betah di sini?" Tanya Ayah Haris.
"Aku baik, sangat betah Ayah. Di sini aku mampu meningkatkan kemampuanku dalam bermain sepakbola." Jawab Kak Dave.
Kak Dave bingung dengan apa yang Ayah Haris sampaikan. Selama ini, sang Ayah sangat kekeuh menginginkan dirinya kuliah.
Tapi pendapat berbeda kini muncul. Bahkan sang Ayah ingin mengirimkannya ke Belanda.
"Ayah, aku ingin kuliah di sini saja. Bukannya ayah ingin aku kuliah dulu baru berkarier sepakbola?" Tanya Kak Dave heran.
"Itu karena kamu sendiri yang membuat ayah berubah pikiran." Jawab Ayah Haris dengan raut muka yang tiba-tiba berubah.
"Apa maksud Ayah?" Tanya Kak Dave.
"Putuskan hubunganmu dengan Lily atau Ayah sendiri yang akan bertindak."
Ucapan Ayah Haris membuat Ibu dan Kak Dave terkejut.
Terlebih lagi Kak Dave, dia belum pernah melihat sang Ayah semarah ini.
"Ayah tahu hubunganku dengan Lily?" Tanya Kak Dave.
"Ayah tahu makanya segera bertindak." Jawab Ayah Haris.
"Ayah tidak berhak menyuruh kami berpisah. Dia adik tiriku, apa yang salah dengan itu Ayah? coba Ayah pikirkan. Cinta kami suci Yah, aku dan Lily menjalaninya tanpa melanggar norma yang ada. Aku mau pindah sekolah karena Dave sangat mencintai Lily." Ucap Kak Dave tegas.
__ADS_1
"Apa kamu sudah kehilangan sopan santunmu kepada Ayahmu ini?" Tanya Ayah Haris.
Ketegangan yang sudah terjadi membuat Ibuku gusar, dia berinisiatif menjadi penengah.
"Ayah, tolong jangan memaksa Dave melakukan hal di luar kemampuannya." Jawab Ibuku.
"Ibu jangan membelanya. Anak ini harus di ajari caranya berbicara yang sopan di depan orang tua."
Ucap Ayah Haris.
"Ayah boleh menyuruhku pergi ke Belanda ataupun negara lajnnya. Tapi jangan menyuruhku untuk berhenti mencintai Lily ataupun memutuskan hubungan dengannya. Jika kalian berdua sudah selesai, Dave masuk ke dalam. Terima kasih." Jawab Kak Dave.
"Anak kurang ajar, inikah balas budimu kepada Ayah?" Ucap Ayah Haris sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Ayah, sudahlah. Dave masih kecil, dia belum memahami apa arti cinta yang sesungguhnya. Biarkanlah saja mereka melewati masa muda dengan baik. Ibu yang akan mengurus anak-anak." Jawab Ibuku sambil menahan tubuh sang suami yang hendak meraih kerah baju Kak Dave.
"Jangan membelaku Ibu, apa yang Ayah katakan benar. Aku menang belum bisa membalas budi Ayah selama ini. Tapi setidaknya apa yang Ayah sampaikan dan ajarkan, aku lakukan semuanya." Ucap Kak Dave.
Kak Dave lebih memilih berbalik dan kembali ke kamarnya.
Dia merasa tidak perlu untuk berdebat dengan Ayahnya terlalu lama karena tidak ada gunanya sama sekali.
"Dave?!!!" Teriak Ayah Haris.
Mendengar teriakan Ayah Haris, Kak Dave tidak menggubrisnya.
"Ayah, mari kita pulang. Dave butuh waktu untuk sendiri. Nanti kita datang lagi dan kembali berbicara dengannya." Ucap Ibuku.
"Cih, anak keras kepala itu. Mana mau dia berfikir saat membuat masalah denganku. Dia bukan orang yang seperti itu. Dia adalah pria yang di ciptakan Tuhan menjadi sosok yang keras kepala dan kekeuh dengan pendiriannya. Dia akan selalu memperjuangkan dan membuat keinginannya menjadi nyata." Ucap Ayah Haris.
"Jika Ayah tahu itu, mengapa tidak mencoba merestui mereka?" Ucap Ibuku.
"Tidak semudah yang Ibu katakan. Ini terlalu rumit. Kisah mereka menyakiti hatiku. Dave adalah anak kebanggaanku. Tidak seharusnya dia membuatku terluka dengan sikapnya tadi."Jawab Ayah Haris.
"Tenang saja, Ibu akan bantu berbicara dengan Dave." Ucap Ibuku.
"Tidak perlu, dia adalah anakku. Ayah tahu apa yang harus ayah lakukan." Jawab Ayah Haris.
Ibuku terkejut dengan tanggapan suaminya tentang hubunganku dan Kak Dave.
Ibu merasa ada yang berbeda dan sikap sang suami setelah kembali dari Surabaya.
"Kok ngelamun? ayo kita pulang." Ajak Ayah Haris.
"Oh ya, maaf Ayah. Ibu hanya sedang berfikir tadi." Jawab Ibuku.
"Jangan di terlalu banyak pikiran, nanti Ibu sakit." Ucap Ayah Haris.
Ibuku mengangguk.
__ADS_1
Kemudian Ayah Haris dan Ibuku bergegas pergi meninggalkan asrama Kak Dave.