
Dengan segala macam pikiran yang berkecamuk dalam hati,antara senang dan kecewa. Senang karena ia akan segera bertemu pujaan hati sekaligus buah cinta mereka,sedangkan ia kecewa karena Rian orang kepercayaannya sendiri yang ternyata menyembunyikan keberadaan Naura bahkan menutupi kehamilannya. Akhirnya Leon memutuskan untuk pergi ke Bandung untuk meminta penjelasan pada Rian yang memang sedang izin pulang untuk menghadiri acara kelulusan adiknya Risa.
Dalam perjalanan menuju Bandung,Leon sempat mengingat ingat kejadian kemarin saat ia tak sengaja bertemu Rian tengah makan bersama seorang anak kecil yang ia perkenalkan sebagai keponakannya.
Mungkinkah anak kecil yang kemarin?Ah sudahlah lebih baik aku tanyakan saja langsung pada Rian...gumam Leon
Perjalanan Jakarta Bandung memakan waktu tidak begitu lama akhirnya Leon pun tiba di kediaman Rian,memang Leon beberapa kali pernah ikut ke rumah Rian makanya ia tidak perlu susah payah mencari lagi.
Mobil Leon terparkir di depan rumah Rian yang memang memiliki halaman cukup luas kira kira bisa untuk 2 mobil kalau parkir di situ.
Saat turun dari mobil,Leon berusaha menetralkan perasaannya,ia tak mau sampai terbawa emosi apalagi di hadapan keluarga Rian khususnya bu Wati. Meskipun Rian hanya bawahannya,tapi Leon sangat menghormati bu Wati sebagai ibu kandung Rian,tak jarang saat ia ikut Rian pulang ke Bandung ia tak pernah lupa membelikan buah tangan untuk ibu dari asistennya itu.
Tok...tok..tok "Assalamualaikum...bu...bu Wati?" Sahut Leon saat mengetuk pintu rumah Rian yang terlihat sepi tanpa penghuni
Beberapa kali ia mengetuk,bahkan sesekali ia menggedor pintu namun tak jua ada jawaban. Untung saja ada salah satu tetangga bu Wati yang kebetulan lewat,memberitahukan bahwa bu Wati sekeluarga sedang tidak ada di rumah.
"Punten aden kalau gak salah bos nya Rian ya, cari bu Wati atau cari Rian?" tanya tetangga bu Wati pada Leon
"Iya ibu,kalau boleh tau bu Wati beserta keluarga kemana ya? ko rumahnya kelihatan sepi,apa pada pergi ya bu?" jawab Leon ramah
"Eh si aden tidak tau ya,hari ini kan acara kelulusan neng Risa. Ya atuh Rian sama bu Wati teh lagi di sekolahannya neng Risa den!"jelas tetangga bu Wati membuat Leon mengangguk anggukan kepalanya
"Dari pagi ya bu? Apa saya susul aja ya ke sekolahnya Risa?"
"Lebih baik aden tunggu saja di teras mungkin sebentar lagi mereka pulang,atau mau tunggu di rumah saya saja tuh di sebelah?"
"Tidak usah bu terima kasih,biar saya tunggu di mobil saja" jawab Leon,ibu tadi pun berpamitan pulang sedangkan Leon kembali masuk ke dalam mobil menunggu Rian dan keluarganya pulang.
Setelah cukup bosan menunggu,Leon pun berinisiatif untuk bertanya dimana sekolah Risa pada tetangga Rian. Namun saat ia turun dari mobil,terlihat sebuah mobil yang tak asing lagi di mata Leon hendak berhenti di samping mobil Leon parkir.
Ya memang Rian pulang ke Bandung dengan mengendarai salah satu mobil yang Leon berikan untuk fasilitas Rian sebagai asistennya.
Seperti mobil tuan Leon?Ah benar tuh orangnya turun...gumam Rian saat melihat tuannya keluar dari mobil
Bu Wati beserta Risa pun langsung menghampiri Leon.
"Assalamualaikum,nak Leon?"
__ADS_1
"Assalamualaikum kakak bos?"
Ucap Risa berbarengan dengan bu Wati,Leon pun tersenyum sambil menyalami tangan bu Wati setelah itu sebaliknya,Risa menyalami tangan Leon.
Keluarga Rian memang sudah terbiasa dengan Leon,karena Leon selalu ramah pada mereka terutama pada Risa,ia menganggap Risa sebagai adiknya sendiri.
"Tuan,ayo masuk masuk...." ucap Rian saat menghampiri Leon,ia tak berpikiran bahwa kedatangan Leon akan menanyakan perihal Naura. Yang ada dalam benak Rian hanya rasa bahagia,ia pikir Leon sengaja menyusulnya ke Bandung untuk ikut merayakan kelulusan adiknya Risa.
Mereka pun masuk ke dalam rumah sekedar berbincang bincang sambil menunggu bu Wati yang sedang menyiapkan makan malam untuk merayakan kelulusan putri bungsu nya itu.
Tak berselang lama beberapa hidangan tersaji di meja makan,bu Wati pun memanggil mereka bertiga untuk segera makan bersama.
Suasana di meja makan begitu hangat dengan perbincangan kecil di antara mereka,bahkan sesekali Leon menggoda Risa membuat semua orang tertawa.
Begitulah Leon,meskipun di dalam hatinya berkecamuk memikirkan berbagai pertanyaan untuk Rian,ia tetap bisa menutupi agar keluarga Rian tidak mengetahuinya.
Usai makan malam selesai,Leon dan Rian berencana pulang ke Jakarta,mengingat besok mereka sudah mulai bekerja.
"Rian,balik bareng saya saja biar mobil kamu nanti diambil supir."Ucap Leon,ia sengaja mengajak Rian satu mobil agar bisa bicara empat mata dengannya
"Baik tuan,ibu Rian pamit ya dan Ica Aa juga pamit,titip ibu,assalamualaikum" Pamit Rian seraya menyalami ibu dan memeluk adik tercinta
"Tidak usah sungkan nak Leon,pintu rumah ini selalu terbuka untukmu,kalian hati hati di jalan dan Rian jangan ngebut bawa mobilnya!"Pesan bu Wati mengingatkan anak sulungnya itu
Rian pun mengacungkan dua jempolnya sambil masuk ke dalam mobil,terlihat Leon sudah duduk di samping pengemudi.
Tak biasanya tuan duduk di depan?ada apa ya,ko perasaan gue jadi gak enak gini?batin Rian
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Rian,tiba tiba saat di pertengahan jalan,Leon menyuruh Rian berhenti di sebuah coffeshop yang memang buka 24 jam.
"Yan,berhenti di coffeshop depan,kita ngopi ngopi dulu biar kamu gak ngantuk!"perintah Leon langsung diangguki Rian yang memang sudah mulai mengantuk
Mereka pun turun dari mobil menuju coffeshop yang lumayan ramai itu,Leon duduk di kursi pojok dekat jendela sedangkan Rian izin ke toilet.
Tak lama seorang pelayan membawakan pesanan mereka,dua cangkir moccachino berikut cemilan yang tadi Leon pesan.
Rian duduk di depan Leon yang tengah menikmati minumannya,saat Rian hendak meminum kopinya,tiba tiba Leon menatap tajam kearahnya.
__ADS_1
Karena merasa di perhatikan,Rian pun melihat ke arah Leon benar saja ia tengah menatap tajam ke arah Rian yang sedang meminum kopinya itu membuat Rian takut.
"Tuan,ada apa? apakah saya membuat kesalahan?"tanya Rian sedikit menyembunyikan ketakutannya
"Dimana Naura!!!" Leon langsung pada inti dari pertanyaannya
"Na..Naura? dia bersama suaminya lah tuan hehe" Rian mencoba berkelit
"Jujur atau saya akan jamin hidup kamu beserta keluarga mu berakhir sengsara!"ancam Leon
Mendengar ancaman Leon,akhirnya mau tak mau Rian pun harus menceritakan semuanya,ia tak mau sampai keluarga nya hidup sengsara seperti ancaman Leon.
Rian sangat mengenal baik Leon,ia tau Leon punya kekuasaan,jadi bukan hal yang sulit baginya untuk membuat hidup Rian menderita.
Ia menceritakan semua secara detail,dari awal Naura meminta bantuannya saat di Singapura sampai saat Naura tinggal di Bandung dan sampai Naura melahirkan bayi mungil yang selalu menempel pada om Rian nya itu.
Leon pun menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan versi Rian,ada rasa bahagia saat ia tau Naura mempertahankan buah cinta mereka.
"Besok antar kan saya ke tempat Naura!" ucap Leon dengan ekspresi datarnya
"Tuan tidak marah?"tanya Rian yang kebingungan dengan sikap tuannya yang awalnya sangat menakutkan saat menanyakan dimana Naura,namun kini ia sama sekali tidak marah padanya.
"Jelas saya marah,bahkan kecewa karena kamu dengan lancang nya berani menyembunyikan wanita yang jelas jelas kamu tau sangat berati dalam hidup saya,parahnya lagi kamu menyembunyikan kehadiran anak kandung saya,,"ucapan Leon terhenti sesaat
"Tapi???"timpal Rian yang sangat mengenal tuan nya itu.
"Tapi dari semua itu,sekarang saya merasa bersyukur karena kalau kamu tidak membantu Naura selama ini,mungkin dia dan anak kandung saya dalam kesulitan,terima kasih"jelas Leon membuat Rian merasa lega karena semua beban yang selama ini ia pikul sudah terlepas...
Sayang,tunggu papa ya...batin Leon
***Bersambung....
Poin yesss ☑️
Like yesss ☑️
Komen oke!!! ☑️
__ADS_1
Happy reading all 🤗*** 🙏