
Sementara di kediaman Naga..
Kaisar Xiowen menyuapi Ana. Sesekali Kaisar Xiowen ******* bibir Ana, memindahkan makanan Ana ke mulutnya, Sama hal nya dengan Ana..
"Yang Mulia, Apa yang mulia tau meniup seruling.."
"Ah, itu ! aku tau tapi permainan seruling ku sangat buruk.."
"Ya, nanti malam. Yang Mulia harus menemaniku menari balet, tarian kesukaan ku.." ucap Ana..
"Balet ??" Kaisar Xiowen kebingungan..
"Ya, tarian di zaman ku tarian balet dan ada juga tarian nya. Tapi aku lebih suka tarian balet.."
"Bolehkah aku tau.."
"Boleh, asalkan Yang Mulia harus meniup seruling.."
"Hemm, baiklah ayo lanjutkan makannya.."
Kaisar Xiowen menyuapi di mulutnya sendiri lalu ia mencium mulut Ana..
Merekapun saling menatap dan terkekeh..
Pada malam harinya...
"Kasim Mu, cepat ambilkan seruling ku."
"Hah !" Kasim Mu hanya membulatkan mulutnya dengan menatap Kaisar Xiowen.
Kaisar Xiowen yang melihatnya. Hanya mengernyitkan dahinya.
"Hem, cepatlah.."
"Ba,, baik Yang Mulia.."
Apa yang terjadi dengan Yang Mulia, bukankah Yang Mulia tidak pernah menyentuh serulingnya, bahkan Yang Mulia hanya meniupnya semenjak mendiang Permaisuri terdahulu masih hidup..
Kasim Mu mengambil seruling di sebuah kotak di lemari ruangan Kaisar Xiowen kemudian ia langsung menemui Kaisar Xiowen dan memberikannya..
Kaisar Xiowen tersenyum, ia meraba kotak yang berlukis se ekor naga.
__ADS_1
Sudah lama aku tidak pernah menyentuhnya, semenjak Ibunda meninggal aku tidak pernah menyentuhnya..
"Kasim Mu, keluarlah !"
Kasim Mu menunduk hormat, berlalu pergi.
Ana yang melihatnya Kaisar Xiowen meraba kotak tersebut, ia menggenggam tangan Kaisar Xiowen yang meraba kotak tersebut..
"Apa isi kotak ini Yang Mulia ? hamba melihat Yang Mulia merasa sedih ?" tanya Ana menatap Kaisar Xiowen..
Kaisar Xiowen menatap Ana..
"Di dalamnya terdapat seruling, dulu sewaktu aku masih ulang tahun, Ibunda memberikannya pada ku, ia menyuruh pembuat seruling terbaik sebagai hadiah ku. Setiap ulang tahunnya, Ibunda selalu memintaku memainkannya.." jawab Kaisar Xiowen dengan wajah sendunya.
"Maaf Yang Mulia. Jika hamba mengingatkan Yang Mulia, sebaiknya kita tidak usah memainkannya.."
"Tidak ! kau adalah masa depan ku, maka aku akan melakukan apa pun untuk Permaisuri ku dan besok kita akan ke Klan Xue, mungkin Tetua Xue tau supaya dirimu bisa..."
"Hamba mengerti Yang Mulia.." timpal Ana tersenyum, ia lalu menggandeng lengan Kaisar Xiowen menuju gazebo di samping istana Phoenix..
Kaisar Xiowen mengambil seruling nya, ia duduk bersandar di dahan bunga sakura..
Alunan merdu menghiasi seluruh Kaisaran Xio, seluruh istana gempar akan alunan merdu seruling yang telah lama hilang, kini alunan merdu itu datang kembali..
Ana memejamkan matanya, ia mulai menari di bawah sang rembulan yang bersinar terang di sertai berjatuhnya bunga sakura, Kaisar Xiowen yang melihat Ana menari ia terpana, rambut yang terurai serta pakain yang berkibar di bawa angin, menambah akan kecantikannya, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik seakan bunga tersipu malu melihat matanya yang indah dan kulit yang halus, seputih susu disertai aroma tubuh yang wangi bahkan mengalahkan wanginya sang dewi bunga..
Ditempat lain..
"Kakak.." Jenderal Bai yang mendengarkannya ia tersenyum. Tanpa terasa air matanya menetes, sudah lama semenjak kehilangan Ibundanya. Kaisar Xiowen yang semulanya ceria berubah menjadi orang dingin..
Sedangkan,
Selir Chu yang mendengarkan alunan melodi seruling Kaisar Xiowen..
Ia sangat bahagia..
"Apa Yang Mulia sudah merelakan kepergian Selir Xia.." ucap Selir Chu menatap bulan di jendelanya..
"Sepertinya begitu nona, Yang Mulia sangat baik hati bahkan mengangkat nona menjadi bangsawan.." timpal pelayan Selir Chu.
"Hah, kau benar.."
__ADS_1
Dua jam telah berlalu..
Kaisar Xiowen menghentikan alunan merdu serulingnya..
Begitupun Ana ia menghentikan tariannya kemudian merebahkan dirinya menatap sang bulan..
Kaisar Xiowen ikut merebahkan tubuhnya. Tatapan mereka saling bertemu, Kaisar Xiowen mencium bibir Ana..
Begitulah kedua insan sepasang sejoli yang mulai bermekaran di hati mereka di temani sang bulan.
Ke esokan paginya...
Kaisar Xiowen, Ana dan Jendral Bai menaiki sebuah kuda. Mereka akan berpergian ke Klan Xue, Jendral Bai hanya keheranan. Ia tidak tau apa yang dilakukan sang Kakak, ia hanya mengikutinya..
Dua jam telah berlalu..
Mereka sampai di Klan Xue..
"Hormat hamba Yang Mulia.." ucap salah satu murid.
Para murid lainnya yang melihat kedatangan Kaisar Xiowen menunduk hormat..
Kaisar Xiowen hanya membalasnya dengan anggukan..
"Aku ingin bertemu dengan Tetua Klan, antarkan aku.." perintah Kaisar Xiowen..
Salah satu murid menunjukkan jalannya..
Sampailah Kaisar Xiowen, Ana yang tidak terlihat oleh siapapun kecuali Kausar Xiowen dan Pengeran Bai di ruangan Tetua Klan Xue.
Kaisar Xiowen melihat jika Tetua Xue yang sedang berbincang dengan kedua muridnya.
"Tetua.." sapa Kaisar Xiowen..
Tetua Xue, Yun dan Yin langsung menoleh..
"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap mereka serempak..
"Kalian siapkan hidangan untuk Yang Mulia dan Jendral.." perintah Tetua Xue..
Kedua kembaran itupun menunduk hormat undur diri..
__ADS_1