
"Yang Mulia, ada apa gerangan dengan Yang Mulia hingga datang kesini?" tanya Tetua Xue..
"Aku langsung saja, aku ingin membangkitkan seseorang. Ya, dia hanyalah seorang roh dan aku ingin dia bisa seperti wanita lainnya.." tutur Kaisar Xiowen membuat Tetua Xue dan Jendral Bai terkejut..
"Apa maksud Kakak Selir Xia, Kakak jangan gila, Selir Xia telah mati.." timpal Jendral Bai..
"Aku tidak gila, ini bukan Selir Xia, tapi dia adalah Permaisuri masa depan ku.." ketus Kaisar Xiowen menatap tajam Jendral Bai.
"Maksud Kakak ?"
"Tetua Xue, kau pernah bilang jika yang di dalam tubuh Selir Xia berasal dari wanita masa depan dan aku telah menemukannya.."
"Hah.."
Tetua Xue dan Jendral Bai membulatkan mulutnya..
"Apa benar Yang Mulia ?" tanya Yun dari arah pintu, mereka langsung menaruh teh beserta buah cery di meja.
"Maaf Yang Mulia. Hamba lancang.." ucap Yun.
Kaisar Xiowen hanya mengangguk..
"Benar, tapi hanya aku yang bisa melihatnya, Dua hari yang lalu Selir Xia lah yang membawanya padaku, kalian tentu tau aku tidak pernah memakamkan jasad Selir Xia, tapi setelah roh Permaisuriku masuk kedalam tubuh Selir Xia tidak ada reaksi apapun.." jelas Kaisar Xiowen..
"Hah, jadi Kakak sudah bersamanya, diamana Kakak ipar ku ? apa dia ikut ?" ucap Jendral Bai celingak celinguk kanan kiri namun tidak menemukan siapa pun..
"Diam !" Kaisar Xiowen langsung memukul kepala Jendral Bai..
Ana yang melihatnya hanya terkekeh.
"Dia memang ikut dengan ku, lalu bagaiamana Tetua Xue ?"
"Yang Mulia, tapi ini tidak mudah. Sebenarnya dulu master pernah mengatakan pembangkitan jiwa. Namun pembangkitan tersebut harus memakan separuh kesehatan dari orang yang mencintainya. Bisa saja orang yang mencintainya meninggal. Karna ini adalah taruhannya nyawa." jelas Tetua Klan menatap Kaisar Xiowen..
Ana langsung menunduk, Kaisar Xiowen menoleh ia menggenggam tangan Ana..
"Jangan takut tidak akan terjadi apa apa."
"Apa Kakak ipar ada di samping Kakak ?" tanya Pangeran Bai melihat tangan Kaisar Xiowen yang sedang menggenggam sesuatu.
"Diam !"
"Ampun Kak aku akan diam, huhuhu Kakak ipar kau harus membuat keadilan untukku." ucap Jendral Bai..
Kaisar Xiowen menatap tajam Jendral Bai.
__ADS_1
"Tidak perlu Yang Mulia. Hamba tidak ingin mengorbankan Yang Mulia. Biarkanlah seperti ini.."
"Percayalah padaku tidak akan terjadi apa apa, jika pun aku tidak sehat, atau pun meninggal justru aku bahagia mati dengan mengorbankan nyawa ku untuk Permaisuri ku.." jelas Kaisar Xiowen meyakinkan Ana..
"Tidak ! aku tidak mau.."
"Aku mohon sekali ini saja turuti permintaan ku, orang hidup pasti mati, aku mohon dengan cara ini aku bisa menebus semua kesalahan ku. Jika kau mencintaiku turuti permintaan ku.."
Tetua Xue dan Jendral Bai hanya menatap Kaisar Xiowen dengan tatapan sendu..
Nasib jomblo meronta ronta batin Tetua Xue dan Jendral Bai...
Ana pun hanya menunduk..
Kaisar Xiowen kembali menatap Tetua Xue..
"Jika Tetua tau, kapan bisa dilakukan ? apa saja yang dibutuhkan ?" tanya Kaisar Xiowen..
"Apa Yang Mulia yakin ? malam ini kita bisa melakukannya." ucap Tetua Xue.
"Tidak Kakak, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakak. Pasti ada cara lainnya." ucap Jendral Bai menatap Kaisar Xiowen.
"Ini adalah titah dari Kaisar.." ucap Kaisar Xiowen dengan penuh penekanan.
Pada malam harinya...
Kaisar Xiowen, Ana, Tetua Xue, dan Jendral Bai menuju ke ruangan bawah tanah..
Ana menatap sekeliling ruangan tersebut, ia hanya melihat ruangan tersebut di penuhi cahaya lilin. Ana juga melihat sebuah altar dengan tembusnya cahaya bulan yang membuat penerangan di altar tersebut.
Tetua Xue membuka sebuah kotak yang ia taruh di lemari ruangan bawah tanah.
Tetua Xue mengambil isi di dalamnya. Terdapat sebuah batu bercahaya warna biru dan sebuah buku..
"Yang Mulia, bisakah Yang Mulia menaruh Permaisuri untuk berbaring di atas altar"
Kaisar Xiowen menaiki tangga, di ikuti Ana..
"Tapi Yang Mulia.."
Kaisar Xiowen menghentikan langkah kakinya.
"Aku mohon, percayalah tidak akan terjadi apa apa.."
Kaisar Xiowen kembali meneruskan langkah kakinya. Lalu ia membaringkan tubuh Ana yang di sinari cahaya bulan purnama.
__ADS_1
Kaisar Xiowen turun, ia menghampiri Tetua Xue..
"Yang Mulia, apa Yang Mulia yakin?"
Kaisar Xiowen mengangguk..
Tetua Xue dan Jendral Bai hanya menghela nafas.
"Baiklah, pegang lah bola ini Yang Mulia.."
Kaisar Xiowen mengambil bola kecil tersebut.
"Jendral Bai tolong kamu berada di samping Yang Mulia.." perintah Tetua Xue menatap Jendral Bai..
Jendral Bai hanya membalas dengan anggukan..
Merekapun duduk di dengan bersila.
Kaisar Xiowen menatap lekat Ana yang menatapnya. Ia mengangguk meyakinkan Ana..
"Yang Mulia, apa sudah siap?"
"Iya aku sudah siap.."
Tetua Klan membuka bukunya, ia merepalkan sebuah mantra yang tertulis di buku tersebut.
Perlahan lahan bola kecil itu bercahaya yang mampu membuat orang memejamkan matanya..
Sengatan listrik terasa di tubuh Kaisar Xiowen, tapi ia menahannya dan tidak berteriak..
Pembuluh darahnya seakan mendidih bahkan tubuhnya terasa tercabik cabik oleh sayatan beribu pedang..
Kaisar Xiowen hanya memegang bola kecil tersebut bertambah erat..
Pangeran Bai hanya menggengam lengan Kaisar Xiowen ia tidak bisa membuka matanya melihat cahaya yang keluar dari Bola kecil tersebut. Sementara Tetua Xue ia terus membacakan mantranya..
Setengah jam berlalu,, terlihat dari atas altar wanita cantik berpakain hanfu polos putih, perlahan lahan bulu mata yang lentik itu terbuka.
Kaisar Xiowen menatap ke atas altar, ia langsung berdiri.
Jendral Bai yang melihatnya ia membantu Kaisar Xiowen memapah tubuhnya menaiki altar tersebut..
"Ana.." lirih Kaisar Xiowen, hanfunya sudah basah karna keringat tubuhnya..
Ana langsung beranjak bangun, ia langsung memeluk tubuh Kaisar Xiowen yang menghampirinya..
__ADS_1