
"Nona.." teriak seseorang yang tak lain adalah pelayan Fu..
ia berlari menghampiri Xia Ming Yue yang membaringkan tubuhnya dengan menatap langit..
"Yang Mulia, kenapa Yang Mulia berbaring disini? dan kenapa ini dengan pakaian Yang Mulia, jika ketahuan seseorang Yang Mulia akan di ejek.." jelas pelayan Fu menatap Xia Ming Yue.
"Sudahlah,, tidak akan ada yang tau lagipula dikediaman ini hanya aku dan dirimu.." ucap Xia Ming Yue ia berdiri, ia mengambjl bukunya beserta pedangannya kemudian menuju kediamannya.
sementara Pelayan Fu melongo dan mengikuti junjungannya..
Semenjak kapan Yang Mulia belajar kultivasi,, biasanya ia akan menolak, memegang pedang saja Yang Mulia takut batinnya penuh keheranan.
Selir Xia menuju ke tempat pemandiannya di ikuti pelayan Fu..
"Fu aku bisa membersihkan tubuhku sendiri, jadi tidak usah ikut." perintah Xia Ming Yue..
"Tapi, Yang Mulia.."
"Jangan membantah." perintahnya,,
Hah, aku sering melihat drakor mandipun harus di layani pelayan ..
Selir Xia melepaskan hanfunya,, ia mencelupkan tubuhnya di dalam air yang di penuhi aroma bunga mawar merah..
Setelah selesai mandi, ia menghampiri meja yang di penuhi hidangan..
"Fu, temani aku makan.." perintah Selir Xia..
Pelayan Fu mengangguk kemudian makan bersama Xia Ming Yue
Selang beberapa saat,,
tok..tok..tokk .
"Kakak ipar.." asal sebuah suara yang tak lain adalah Pangeran Bai...
Pelayan Fu berdiri, ia kemudian membuka pintu..
"Kakak.." teriak Pangeran Bai tersenyum. ia menatap Xia Ming Yue tanpa berkedip,,
Oh dewiku....
Tanpa sadar Pangeran Bai mengeluarkan air liurnya...
"Sampai kapan menatapku ? lihatlah air liur mun keluar..." ucap Xia Ming Yue ia memasukkan nasi ke mulutnya.
Pangeran Bai tersadar ia menghapus jejak air liurnya..
Kenapa Kakak berubah ubah sifatnya,, sebentar lagi dingin, datar sebentar lagi lembut...batin Pangeran Bai keheranan.
Hemm..
Derheman Xia Ming Yue membuat Pangeran Bai tersenyum, ia duduk di hadapan Xia Ming Yue kemudian mengambil hidangannya yang di siapkan oleh pelayan Fu.
Merekapun makan dengan tenang,, hanya ada suara dentingan sendok yang memecahkan keheningan mereka.
"Kakak,, kenapa sifat Kakak sering berubah ?" tanya Pangeran Bai menatap Xia Ming Yue..
"Tidak apa apa.."
"Hemm, Kakak jangan seperti itu, aku adalah adik kakak.." ucap Pangeran Bai mengerucutkan bibirnya...
Xia Ming Yue tersenyum, ia mengelus lembut pucuk Pangeran Bai..
"Maaf, sekarang makanlah.."
__ADS_1
Pipi Pangeran Bai merah merona,, degupan kencang membuatnya gugup...
"Habiskan makan mu." ucap Xia Ming Yue...
Pangeran Bai menunduk dengan cepatnya ia menguyah semua makanannya hingga tersedak..
huk huk huk...
Xia Ming Yue langsung menyodorkan air,, Pangeran Bai mengambil air tersebut..
"Bagaimana ?? apanya yang sakit?" tanya Selir Xia Ming Yue menatap khawatir..
"Aku tidak apa apa Kak.." balasnya tersenyum.
"Kakak, ayo kita keluar istana,, aku sudah selesai."
"Baiklah,,"
Merekapun keluar kediaman,, sampai di luar.
Xia Ming Yue mengernyitkan dahinya,,
"Kenapa ada kereta?" tanya nya melirik Pangeran Bai..
"Kakak harus naik kereta.." balas Pangeran Bai..
"Tidak, aku ingin menaiki kuda.." tolak Xia Ming Yue mengibas ngibaskan tangannya.
"Tapi, Kakak tidak bisa naik kuda.." timpal Pangeran Bai..
"Aku bisa, cepat berikan aku kuda,, jika tidak ! aku tidak akan keluar istana.." Ketus Xia Ming Yue memalingkan wajahnya..
"Hais, Kakak..." Pangeran Bai kemudian menatap pengawalnya..
"Cepat berikan satu kuda.." perintahnya..
15 menit kemudian,,
Seorang pengawal yang diperintahkan Pangeran Bai,, membawa seekor kuda berwarna hitam..
Xia Ming Yue menghampiri kuda tersebut,, kemudian mengelus kepalanya..
Pangeran Bai dan pelayan Fu terkejut, mereka saling menatap...
Xia Ming Yue menaiki kuda tersebut,, ia menatap Pangeran Bai yang hanya diam.
"Pangeran, Ayoo.." ucap Xia Ming Yue di atas kuda.
"Ah, iya Kakak.."
Pangeran Bai kemudian menaiki kuda,, mereka berjalan menuju gerbang depan istana,, banyak para pelayan dan prajurit menatap heran Selir Xia dan Pangeran Bai.
Selang beberapa saat mereka sampai di pasar..
Selir Xia menatap kagum, banyak orang yang menawarkan dagangannya,, ia turun dari kudanya kemudian menitipkan kudanya pada penitipan kuda..
Selir Xia dan Pangeran Bai menuju ke sebuah toko pakaian...
Merekapun memasuki toko tersebut..
"Selamat datang tamu terhormat.." ucap pelayan toko menunduk hormat..
"Heemm,, aku mencari kain yang sangat halus dan lembut." perintahnya..
"Baik tamu terhormat, saya akan mengantarkan tamu terhormat ke lantai dua." balasnya..
__ADS_1
Selir Xia menarik lengan Pangeran Bai samapi lantai dua,, sementara Pangeran Bai lagi lagi degupan kencang di dadanya..
Sampai di lantai dua,,
Selir Xia menatap hanfu berwarna biru. ia melirik Pangeran Bai. ia lupa jika tidak membawa uang sama sekali.
"Pangeran bolehkan aku meminjam koin mu?" tanya Selir Xia..
"Ah, Kakak ini.." jawab Pangeran Bai ia mengambil sebuah kantong yang berisi koin emas lalu memberikan pada Selir Xia..
"Aku pilih kain ini dan buatkan aku hanfu serta satu hanfu laki laki.." ucapnya ia menggandeng tangan Pangeran Bai..
"Kakak,, untuk apa membuatkan hanfu untuk ku?" tanya Pangeran Bai keheranan.
"Kita akan membuat hanfu yang sama,, ya walaupun hanya warnanya.." jawab Selir Xia..
"Baik, tamu terhormat,, saya akan mengukur tubuh tuan dan Nona." ucap pelayan toko.
Merekapun telah selesai mengukur badan mesing masing, dengan setianya mereka menunggu pakain yang akan mereka kenakan.
Dua jam kemudian..
Terlihat kedua pelayan wanita membawa sebuah hanfu berwarna biru masing masing di tanganya.
"Nona dan tuan, hanfunya telah selesai,, silahkan tuan dan nona memakinya.." ucap salah satu wanita menyodorkan hanfu Selir Xia..
Selir Xia mengambilnya,, kemudian pelayan toko itupun menunjukkan kamar untuk mengganti pakaian.
5 menit kemudian .
Selir Xia keluar, ia tersenyum menatap Pangeran Bai yang menatapnya dengan tatapan kagum.
"Sungguh, Kakak ipar sangat cantik." ucap Pangeran Bai..
Selir Xia tersenyum di balik cadarnya. "Baiklah, cepat ganti hanfu Pangeran.." perintah Selir Xia..
Pangeran Bai mengangguk. Dengan secepat kilat ia mengganti hanfunya..
"Lumayan,, Pangeran sangat tampan.." puji Selir Xia mengkedipkan matanya..
Kemudian ia keluar dari toko,, selama di pasar Selir Xia dan Pangeran Bai berkeliling,, seringkali mereka mencicipi berbagai macam kue.
Tak terasa matahari sudah terbenam..
"Kakak, sebaiknya kita cepat pulang.." ucap Pangeran Bai menatap Selir Xia yang mengunyah makanan.
"Ah, baiklah ayoo..padahal aku masih ingin di sini."
"Kapan kapan aku akan mengajak Kakak kesini lagi."
Pangeran Bai menggandeng tangan Selir Xia menuju kudanya...
Sampai di istana...
Pangeran Bai dan Selir Xia turun dari kudanya,, mereka menuju kediaman Selir Xia.. dari arah berlawanan mereka berpapasan dengan Kaisar Xiowen dan Selir Chu..
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Pangeran Bai menunduk dengan hormat..
Sementara Selir Xia hanya diam acuh..
"Kakak, kenapa Kakak tidak memberi hormat?" tanya Selir Chu dengan lembut..
"Kenapa aku harus hormat.." jawab Selir Xia datar kemudian ia menerobos rombongan Selir Chu..
"Selir Xia jaga sopan santun mu." bentak Kaisar Xiowen tanpa membalikkan badannya..
__ADS_1
Selir Xia menghentikan langkah kakinya..
"Perlukah aku sopan santun,, perlukah aku bersujud, aku rasa semuanya sudah aku lakukan, bahkan jika pun aku bersujud dengan menjilat kaki Yang Mulia,, apa Yang Mulia akan menoleh,, Yang Mulia boleh memilih, hukuman apa atas ketidak sopanan hamba, minum racun, tidak keluar kediaman, hukum cambuk, hukuman di istana dingin atau keluar dari istana,, tapi Yang Mulia tidak perlu khawatir secepatnya aku akan pergi dari istana ini, aku akan membawa Permaisuri kembali dan untuk kesopanan ku, aku rasa tidak perlu." ucap Selir Xia dengan nada penuh penekanan, ia mengepalkan tangannya kemudian melanjutkan langkah kakinya...