Mendadak Selir

Mendadak Selir
40 : Pernikahan..


__ADS_3

"Akhirnya, akhirnya kita bersa..."


Tubuh Kaisar Xiowen langsung tak sadarkan diri..


Jendral Bai dan Tetua Xue langsung memapah tubuh Kaisar Xiowen ke sebuah ruangan..


Tetua Xue memeriksa denyut nadi Kaisar Xiowen..


"Bagaimana Tetua ?" tanya Ana menatap khawatir..


"Denyut nadinya melemah semoga Yang Mulia bisa bertahan.."


hiks hiks hiks..


"Yang Mulia.."


Ana mencium pipi Kaisar Xiowen lalu mencium keningnya..


"Yang Mulia bertahanlah, Yang Mulia sudah berjanji, Apapun hamba akan menuruti permintaan Yang Mulia.." lirih Ana menangis tersedu sedu..


Jendral Bai keluar, ia tidak kuat melihat Kaisar Xiowen terbaring lemah..


Tiga hari telah berlalu,,


Ana tidak pernah keluar dari kediaman Kaisar Xiowen, dengan telaten Ana setiap harinya mengompres tubuh Kaisar Xiowen. Ana hanya keluar jika membersihkan dirinya dan untuk makan pelayan lah yang akan mengantarkannya..


"Kakak ipar.." sapa Jendral Bai..


Ana menoleh ia tersenyum. "Ada apa ?"


"Kapan Kakak akan sadar ?" ucap Jendral Bai dengan wajah sendu..


"Jangan khawatir, Yang Mulia akan cepat sadar, berdoalah.." ucapnya menatap Kaisar Xiowen yang masih memejamkan matanya.


Jendral Bai menghela nafas ia langsung keluar dari ruangan tersebut.


Ana yang telah selesai mengompres tubuh Kaisar Xiowen. Lalu mengecup keningnya. Ana beranjak pergi menaruh baskom serta kain di atas meja..


Perlahan lahan kelopak mata yang indah, mulai terbuka, Kaisar Xiowen menatap sekelilingnya hanya kekaburan yang ia lihat. ia kembali memejamkan matanya..


Lalu menoleh, ia melihat seorang gadis yang dicintai..


"A....a..aa.."


Kaisar Xiowen menggerakkan tangannya..


Ana yang mendengarkan suara, ia menoleh.


Ana langsung berlari menghampiri Kaisar Xiowen dan menggenggam tangannya. Berkali kali Ana mencium punggung tangan Kaisar Xiowen.


"Tetua Xue.." teriak Ana..


Pelayan yang berjaga di luar ruangan tersebut langsung masuk..


"Nona.."


"Cepat panggil Tetua Xue." Ana berteriak..

__ADS_1


"Aa.."


"Yang Mulia jangan berbicara dulu.." ucap Ana ia mengecup kening Kaisar Xiowen..


Kaisar Xiowen tersenyum hangat melihat perhatian Ana.


Sampai di ruangan Ana..


Tetua Xue langsung memeriksa denyut nadi Kaisar Xiowen..


"Syukurlah, tubuh Yang Mulia mulai stabil. Beberapa hari lagi tubuh Yang Mulia akan pulih.." ucap Tetua Xue..


"Kakak, akhirnya Kakak sadar.." ucap Jendral Bai ia menghampiri Kaisar Xiowen.


"Baiklah, sebaiknya kita keluar. Biarkan Yang Mulia istirahat. Aku akan membuat obat agar tubuh Yang Mulia cepat pulih.."


"Tunggu Jendral Bai, aku ingin kau mengirim surat ke istana. Makamkan Selir Xia dengan layak dan perintahkan dua hari lagi aku akan mengadakan pernikahan."


Jendral Bai tersenyum lalu membungkuk hormat..


"Baik Yang Mulia.."


Merekapun menunduk hormat, undur diri.


Ana mengelus pipi Kaisar Xiowen, Kaisar Xiowen tersenyum.


"Maaf telah membuat mu khawatir.."


"Yang Mulia membuatku takut saja.."


"Yang Mulia kenapa cepat sekali, bahkan Yang Mulia belum pulih.."


"Dua hari lagi aku akan sehat, jadi aku ingin secepatnya mengangkat Permaisuriku.."


"Baik, tapi ada syaratnya.."


"Tidak ada yang namanya ulat keket.."


Kaisar Xiowen mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti maksud Ana..


"Maksudnya Selir Yang Mulia.." ucap Ana..


Kaisar Xiowen terkekeh, ia memeluk erat tubuh Ana.


"Baiklah.." ucap Kaisar Xiowen.


Dua hari telah berlalu..


Ana dan Kaisar Xiowen serta Jendral Bai kembali ke istana. Di ikuti Tetua Xue,, Kaisar Xiowen sengaja mengundang Tetua Xue yang menurutnya telah berjasa..


Selama menempuh dua jam..


Rombongan Kaisar Xiowen telah tiba di istana..


"Hormat hamba Yang Mulia.." ucap Nona Chu dan Jendral Yen serta Kasim Mu di ikuti pelayan lainnya.


Mereka tidak heran dengan kedatangan Ana, karna mereka sudah mendengar kabar dari surat Jendral Bai yang telah mengatakan semuanya..

__ADS_1


Ana turun di bantu Kaisar Xiowen..


"Nona Chu tolong kau rias Permaisuri ku.." perintah Kaisar Xiowen..


"Baik Yang Mulia.." ucapnya..


"Kakak.." sapa Ana yang langsung memeluk Nona Chu..


"Ah, jadi ini Adikku.." ucap Nona Chu mencubit hidung Ana..


"Maaf Yang Mulia, tidak sepantasnya hamba melakukan itu.." ucap Nona Chu yang tersadar akan tindakannya yang salah..


"Haha, tidak apa apa Kakak. Ayo.."


Merekapun menuju kediaman Phoenix..


Kaisar Xiowen tersenyum melihat punggung Ana yang mulai menjauh.


"Jendral Yen, aku merasa aneh dengan senyuman mu.." ucap Kaisar Xiowen melihat senyuman Jendral Yen..


"Hamba tidak.."


"Jangan menyukai Permaisuriku.."


"Beribu ampun Yang Mulia, Permaisuri hanya pantas untuk Yang Mulia. Hamba hanya menyukai Nona Chu."


"Haha ternyata kau menyukainya, semenjak kapan dia ada di istana ? baiklah, setelah pernikahan ku, kau adakan pernikahan mu dengan Selir Chu.." ucap Kaisar Xiowen terkekeh.


"Sebenarnya Nona Chu kesini setelah Yang Mulia pergi dari istana, semenjak itu hubungan hamba lebih akrap dengannya dan hamba.."


"Ah, sudahlah itu urusan mu." ucap Kaisar Xiowen berlalu pergi..


Sementara di kediaman Phoenix..


Ana di rias dengan di bantu oleh Nona Chu..


"Permaisuri kau sungguh cantik.." ucap Nona Chu menatap Ana di cermin..


Ana tersenyum, ia menatap pelayan Fu..


"Fu, apa kau tau siapa aku dan junjungan mu ?" tanya Ana.


"Permaisuri, siapa pun Permaisuri. Permaisuri tetaplah junjungan hamba, hamba sudah tau Nona Chu lah yang mengatakannya.." ucap pelayan Fu..


"Baiklah, Ayo..."


Ana menaiki sebuah tandu Permaisuri. Sampai di aula istana, Ana turun dari tandunya di bantu oleh pelayan Fu.. Ia berjalan di atas karpet merah, semua pejabat, prajurit dan para pelayan menunduk hormat.


Dari kejauhan Ana melihat Kaisar Xiowen yang tersenyum ke arahnya..


Sampai di hadapan Kaisar Xiowen Ana menunduk hormat.


"Hari ini aku akan menikahi Nona Ana menjadi Permaisuri di Kekaisaran Xio dengan nama Permaisuri An Ling Hua." teriak Kaisar Xiowen dengan lantangnya..


"Hamba menerima titah Yang Mulia.." ucap Ana..


Kaisar Xiowen tersenyum, ia membantu Ana berdiri..

__ADS_1


__ADS_2