
"sayang.. tunggu!" Albert terus berlari mengejar Rayya hingga ke ujung sungai yang ada di ujung taman tersebut.
"sayang, jangan seperti ini, jangan memutuskan suatu hal saat kau sedang emosi!" Albert terus memeluk tubuk Rayya dari belakang. Ia tak peduli kalau Rayya terus memberontak menolak pelukannya
"sudahlah kak, aku sudah memutuskan berpisah dengan kakak. aku rasa inilah jalan terbaik untuk kita"
"tidak sayang.. ini bukanlah keputusan yang baik. Ini salah! bagaimana dengan keluarga kita?"
"salah dimananya menurut kakak?" "kak, aku tak mau hidup dengan seorang lelaki yang masih memiliki bayang bayang cinta lama. Mungkin saat ini kakak bisa mengatakan tak akan terpengaruh dengannya, tapi besok? kakak tak akan tau bagaimana kedepannya tentang perasaan kalian kan?"
Albert terdiam. Pelukannya perlahan mulai mengendur. Dan Rayya menggunakan kesempatan itu untuk lepas dari dekapan Albert.
"kakak tak usah hawatir, aku yang akan menjelaskan kepada mereka.. sekarang, silahkan kakak pergi dan tinggalkan aku sendiri"
"sayang.. tapi__"
"atau aku akan loncat ke sungai ini" ancam Rayya yang mampu membuat langkah Albert seketika terhenti.
'
"sayang, jangan nekat. Kita bisa bicarakan ini baik baik"
"cepat pergi!" Rayya berteriak histeris. Entah mengapa ia merasa frustasi dengan kisah asmaranya yang tak pernah memihak padanya.
Akhirnya mau tak mau Albert pun meninggalkan Rayya seorang diri di tengah malam yang mendung.
Rayya duduk termenung seorang diri. Ia menangis sesenggukan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menyembunyikan wajah ke dalam lututnya.
Rayya tak menghiraukan cuaca malam yang mendung dan sudah terdapat kilatan cahaya petir saat ini, dalam keadaan marah dan sedih, entah mengapa ia menjadi begitu pemberani.
Dan benar saja, baru beberapa detik ia mendudukkan dirinya, tiba tuba saja hujan turun dengan lebatnya. Sementara Rayya masih tak bergeming. Ia malah membaringkan dirinya di atas rumput yang tipis dengan memejamkan matanya. Meresapi setiap tetes air hujan yang menerpa tubuhnya.
Hanya sesaat. Karena tiba tiba saja wajahnya tak lagi terkena tetesan air. Merasa ada yang aneh, perlahan Rayya membuka matanya.
Deg
Jantung Rayya berdetak kuat kala ia melihat siapa yang ada di sana. Seorang lelaki tengah membawa payung hitam untuknya
"om Alam" lirih Rayya
__ADS_1
"nona, bangunlah, anda bisa sakit"
Rayya menerima uluran tangan Alam. Ia berdiri tepat di depan laki laki yang terus mengisi separuh hatinya. Kedua manik mata mereka saling beradu.
Melihat Rayya yang begitu rapuh, entah mengapa mampu membuat Alam merasa sesak. Ia tak menyangka jika nona mudanya itu bisa serapuh ini. Padahal yang ia tahu, Rayya adalah gadis periang dan tangguh.
Tanpa di duga, dengan satu gerakan tangan, Alam menarik tubuh basah Rayya ke dalam pelukannya. Mendekap dengan erat tubuh nona mudanya, seilah ingin sekali memberi kekuatan pada gadis yang sudah mulai dewasa itu.
Mendapat pelukan dari Alam, Rayya pun tak tinggal diam. Ia reflek mengeratkan pelukannya. Tak peduli jika ia akan membasahi baju yang di kenakan oleh Alam.
"om.. mengapa cinta tak pernah berpihak padaku? Mengapa takdir selalu mempermainkan perasaanku? Aku lelah.. Aku tak ingin lagi merasakan cinta. Aku sakit om. Aku__"
"nona, ku mohon jangan seperti ini. Anda perlu menenangkan diri anda. Mari nona saya antar pulang"
Rayya hanya mengangguk.
Alam menuntun Rayya mesuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya. Tak ada suara. Merwka sama sama terdiam dan saling bungkam.
Dan saat sampai di perempatan jalan, Rayya meminta Alam untuk mengantarkan dirinya ke Apartemen miliknya yang baru saja ia beli dua minggu yang lalu.
"om tunggu disini ya, aku akan mengganti bajuku sebentar"
Alam menunggu dengan tenang. Ia bahkan memejamkan matanya dan meyandarkan kepalanya di sofa. Hingga setengah jam kemudian, Rayya keluar dengan membawa dua buah minuman coklat hangat.
"om"
Alam membuka matanya, Ia membelalakkan matanya kala melihat penampilan Rayya yang menurutnya begitu sexy dengan balutan kaos oblong putih yang sesikit kebesaran dan celana hot pants.
Sebenarnya tak ada yang aneh dari penampilan Rayya. Karena biasanya saat ia di rumah pun juga sering memakai pakaian ini.
Namun entah mengapa saat Alam melihat langsung dari dekat, Rayya nampak berbeda. Kulit putihnya begitu jelas terekspose. Aura kesempurnaan terlihat jelas dalam diri nona muda tersebut. Dan Alam begitu menyukainya.
"silahkan di minum om"
"nona tak perlu repot repot, saya yang harusnya membuatkan anda minum"
"di luar jam kerja, om ini adalah tamuku"
"tapi__"
__ADS_1
"tak ada tapi tapian. Cepat di minum atau aku akan marah"
"baik non"
Keduanya sama sama menundukkan pandangannya. Entah mengapa mereka berdua merasa begitu canggung saat ini. Padahal biasanya Rayya begitu aktif untuk mendekati Alam.
"om.."
"ya nona"
"apa om tau tentang hubungan kak Albert dengan kak Nadia?"
"tau non" Alam mengangguk
"benarkah?"
Alam kembali mengangguk
"tapi mengapa om diam saja? apa om tidak marah? apa om tidak sakit hati telah dihianati?"
"mengap harus marah dan sakit hati? Itu adalah masa lalu, mereka memang sempat saling mencintai. Tapi dulu. Saat ini mereka sudah memiliki kehidupan masing masing. Nadia sudah menjadi milikku. Aku lah yang berhak atas dirinya"
"om.. tapi mereka bisa saja sedang membohongi kita dan membohongi perasaan mereka"
"aku percaya pada istriku"
Deg
Rayya membeku. Hatinya merasa tersentil sakit kala melihat Alam begitu mempercayai istrinya.
Rayya tak menyangka bahw cinta Alam pada Nadia begitu besar hingga ia dapat dengan mudah percaya begitu saja.
Padahal tanpa Rayya tahu, Alam pun sedang menyelidiki sesuatu tentang itu. Ia sengaja percaya pada Nadia agar ia cepat mendapatkan bukti.
Jika saja benar apa yang ia curigai terbukti, maka tak akan ada ampun untuk Nadia. Tak ada ampun untuk seorang penghianat.
.
.
__ADS_1