
"sayang..."
Rayya masih tak bergeming
"sayang, apa kau marah?"
Rayya masih diam
"baiklah, kalau kau masih tak mau bicara, aku akan ke kamar mandi membersihkan diriku dulu" ucap Alam sembari hendak berdiri
"apa? mau kemana? ke kamar mandi? apa kau sengaja ingin menyusul mantan istrimu itu? iya? kau sengaja ingin berduaan dengannya? kalau memang iya mengapa kau mengundangku kemari? harusnya kau itu tak perlu mengabari apapun padaku. Jadi kau bisa puas berduaan dengannya. Kau bisa puas dengannya tanpa perlu repot memikirkan hatiku. Kau itu__"
cup
Alam mengecup bibir Rayya dan menahannya agar tak lagi melanjutkan ucapan yang mulai melantur kemana mana.
Rayya mendorong keras tubuh Alam agar semakin menjauh darinya.
Alam hanya menanggapinya dengan tersenyum
"kenapa? kenapa kau tersenyum? apa kau sedang menertawai kebodohanku? harusnya aku bisa berfikir jauh bahwa ternyata kau hanya menjadikanku pelarianmu saja" sambil memgusap dan menyedot ingus yang mulai meleleh di hidungnya.
Rayya bingung mengapa suaminya itu masih diam seribu bahasa padahal dirinya sudah beebicara panjang kali lebar. Ia merasa sangat sebal dan memilih meninggalkan suaminya disini sendiri.
"kalau kau tak suka aku disini? baiklah, aku akan pergi"
Saat Rayya terbangun, tubuhnya ditarik hingga terduduk di pangkuan Alam.
"apa kau sudah selesai mengocehnya?" ucap Alam sembari membersihkan air mata dan sisa ingus yang meleleh di wajah cantik istrinya tanpa rasa jijik sedikitpun.
Rayya hanya mengangguk pelan dan menerima semua perlakuan suaminya
__ADS_1
"sayang, dengarkan aku baik baik. Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tak sengaja. Aku hanya reflek menenangkan Nadia yang sedang syok dan terpukul atas apa yang dialami Alfaro. Karena tadi kami menemukan keadaan Alfaro sangat mengenaskan"
Rayya masih berusaha menjadi pendengar yang baik
"Dan kau harus tau satu hal. Aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu.. Cintaku padamu tak akan tergoyah sedikitpun meski ada ribuan Nadia di depanku. Percayalah padaku. Karena tak akan ada yang wanita lain dalam hatiku yang bisa menggantikanmu. Mengerti?"
Alam menangkup pipi Rayya dengan lembut. Mendekatkan wajah mereka hingga tak menyisakan jarak sedikitpun
ehem..
Saat bibir mereka hampir menempel, sebuah deheman mampu membuyarkan suasana romantis antar keduanya
Rayya segera turun dari pangkuan Alam. Ia mendudukkan dirinya di sebelah sang suami. Gurat wajahnya memerah. Diperlakukan istimewa oleh sang suami membuatnya merasa malu pada Nadia.
Sementara Nadia. Ia merasa begitu cemburu pada Rayya. Bukan karena ia masih mencintai Alam. Namun melihat perlakuan Alam pada Rayya membuatnya merasa iri pada takdir dan garis hidup perempuan muda yang berusia jauh dibawahnya.
Ya, karena selama menjadi istri Alam, Nadia tak pernah di perlakukan istimewa. Bahkan ia juga tak pernah sekalipun mendengar ungkapan cinta dari lali laki yang pernah menjadi suaminya tersebut.
Disaat ketiga orang itu saling diam, tiba tiba saja pintu ruangan terbuka. Doktersegera keluar dan memanggil pihak keluarga korban.
"anak ibu kehilangan banyak darah, dan kebetulan stok darah di rumah sakit ini habis. Apa dari pihak keluarga ada yang bergolongan darah yang sama dengan pasien?"
Ketiga orang yang ada di luar pun seketika terdiam.
"kalau ada, cepat hubungi kami, karena kondisi pasien sangat kritis"
"baik dokter, kami akan mencari pendonor secepatnya" sahut Alam.
Dokter itu kembali masuk ke dalam dan menutup kembali pintu UGD
"kak Nadia, kakak mikir apalagi? ayo kak donorin darah kakak untuk Alfaro" ucap Rayya
__ADS_1
"aku ingin sekali mendonorkannya, tapi sayangnya golongan darah kami tidak sama"
"apa? tidak sama? lalu bagaimana ini?" Rayya terlihat sangat cemas
"kenapa kau tak meminta ayahnya saja untuk mendonorkan darahnya" Alam berucap dengan nada dingin
"aku__ "
"kenapa? apa kau malu menampakkan wajahmu di depan kakak beradik yang telah kau rusak hubungannya?"
deg
Nadia nampak terdiam. Ia tercengang mengapa Alam mengetahui banyak hal yang bahkan ia tak pernah sekalipun menceritakan ini pada siapapun.
"semua keputusan ada padamu"
Nadia bingung, ia tak tau harus bagaimana, disatu sisi, ia sangat ingin Alfaro selamat. Sedangkan di sisi lain, ia juga takut untuk menemui Alexander.
Karena Nadia sudah berjanji tak akan menampakkan lagi wajahnya di depan Alexander dan keluarganya. Terutama istri Alex.
Ya, ia pun juga tak akan memiliki muka untuk bertemu istri Alex, karena ia sangat mengenal istri Alex. Bahkan saat semua orang menentang hubungannya dengan Albert, Istri Alex lah yang dulu selalu mendukungnya.
Dan kini ia malah menghianati istri Alex dengan berselingkuh dengan suaminya. Ia tak bisa bayangkan jika istri Alex tau, pasti hatinya sangat hancur berkeping.
"Alam.. Rayya, aku pergi. Aku titip Alfaro ya"
"iya kak"
Tanpa pikir panjang lagi, Nadia segera berlalu. Ia sudah memutuskan dan membulatkan tekat untuk menemui Alexander demi menolong putranya.
.
__ADS_1
.
.