Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Siapa?


__ADS_3

"dimana rumah sakitnya?" tanya Alexander tanpa menatap ke arah Nadia


"hah?!"


"bukankah kau memintaku untuk mendonorkan darahku?"


"ah iya, di rumah sakit Sumber Medika kak"


Tanpa banyak berkata lagi, Alex langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit tersebut. Ia sudah berniat ingin membantu putra Nadia. Karena mau bagaimanapun, putra Nadia adalah putra kandungnya.


Awalnya ia tak bisa menerima anak yang di kandung Nadia, namun entah dirinya selalu kepikiran akan sosok anak laki laki yang selalu mendatangi dirinya dalam mimpi di setiap tidur malamnya.


Apa mungkin itu adalah Alfaro? ya, mungkin anak itu ingin aku mengakuinya sebagai seorang anak. Begitu pikir Alexander.


Dan tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarainya telah sampai di parkiran rumah sakit megah tersebut.


Dengan mengikuti beberapa tes kecocokan darah, akhirnya Alexpun berhasil mendonorkan darahnya. Ya, kini darahnya mengalir sempurna dalam tubuh anaknya.


Alex menatap wajah pucat yang ada di depannya. Seketika itu juga, timbullah desiran aneh yang mulai merasuki hatinya.


Entah dorongan dari mana, Alex tiba tiba membelai rambut Alfaro, menciumnya, dan jauh dari dalam hatinya, Alex malah sangat menginginkan Alfaro.


Mungkin karena ia tak memiliki anak laki laki, makanya melihat Alfaro yang tumbuh sangat tampan membuatnya ingin menguasai anak itu. Karena ia hanya memiliki dua anak yang kedua duanya adalah seorang perempuan.


Melihat hal tersebut tentu membuahkan rasa bahagia tersendiri bagi Nadia. Karena akhirnya Alfaro dapat merasakan dekapan langsung dari ayah kandungnya.


"Nadia"


"ya kak"


"aku ingin Alfaro tinggal bersamaku"


jeduar


bak tersambar petir disiang bolong. Ungkapan Alex barusan tentu membuat Nadia tersentak kaget.


Begitupun dengan Alam dan Rayya. Sepasang suami istri tersebut juga sangat terkejut akan permintaan Alex.


"kau gila! dia itu anakku! tak ada seorang pun yang boleh membawanya pergi dariku!" tutur Alam sedikit emosi


"aku ayah kandungnya, aku juga berhak atas anak ini" sahut Alex tak kalah emosinya


"atas dasar apa kau menginginkan Alfaro?"


"Aku ingin merawatnya. Dia satu satunya anak laki lakiku. Dan aku menginginkannya"


"aku yang merawarnnya sejak kecil, bahkan namanya ada dalam kartu keluargaku. Jadi akylah yang berhak atas Alfaro"

__ADS_1


"aku akan mengambilnya dengan cara apapun!"


bugh


Alam memberikan bogem mentah pada wajah Alex. Ia benar benar geram dengan sikap posesif Alex.


"stop!" Nadia berusaha melerai kedua laki laki itu


"kak Nadia, kami pamit dulu ya" Rayya segera membawa suaminya keluar ruangan.


"sayang.. kenapa kau menarikku keluar? aku harus memberikan pelajaran pada laki laki bodoh itu! seenaknya sendiri ingin merebut Alfaro dariku!"


"hubby.. bisa gak sih gak usah pakai kekerasan? Kita bisa selesaikan dengan pikirkan dingin"


"maaf sayang.. aku hanya takut kehilangan Alfaro. Aku sangat menyayanginya"


"aku tau, lebih baik kita pulang saja dulu, besok kita kesini lagi"


"baiklah"


Sementara di ruang rawat Alfaro, nampak Nadia masih berseteru dengan Alex.


Ya, ternyata sejak tadi Alex tetap pada pendiriannya. Ia ingin mengambil Alfaro dan menjadikannya penerus perusahaannya nanti. Karena Alex berfikir anak anak perempuannya tak akan bisa ia andalkan.


"kak.. aku sangat berterimakasih karena kakak sudah mau mendonorkan darah kakak untuk Alfaro. Tapi maaf, untuk memberikan Alfaro pada kakak, rasanya ini tak mungkin terjadi"


"aku tau, tapi Alamlah yang memiliki hak atas Alfaro saat ini. Kadi aku mohon dengan sangat, kakak pulanglah!"


"baiklah, aku akan pulang . tapi beaok aku akan kembali lagi"


Alexander pun akhirnya berlalu dan meninggalkan ruang rawat Alfaro.


Kini tinggallah Nadia yang ada di dalam sana. Ia menatap wajah tampan putranya dengan sendu. Ia benar benar menyesali perbuatannya dulu yang tega meninggalkan Alfaro sejak kecil.


Maafkan ibu nak..


Beberapa hari Alfaro di rawat di rumah sakit, memang Nadialah yang sering menunggunya. Karena Alam tak mungkin terus berada disana. Begitu juga dengan Rayya yang masih memiliki Filio dan Fiona yang masih kecil.


Alam dan Rayya hanya akan ke rumah sakit setiap malam saja setelah semua urusan mereka beres.


Sudah hampir dua minggu Alfaro dirawat. Kesehatan Alfaro pun sudah berangsur membaik.


"hubby.. kira kira kapan ya Alfaro diperbolehkan pulang?" tanya Rayya sembari menggandeng tangan sang suami.


"mungkin besok sudah boleh pulang" jawab Alam


"syukurlahkalau begitu"

__ADS_1


Keduanya pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang nampak sepi. Ya, karena ini sudah hampir larut malam.


Biasanya Alam dan Rayya akan datang sekitar pukul tujuh malam. Namun karena malam ini ada pekerjaan yang tak bisa Alam tinggalkan, akhirnya mereka pun pergi ke rumahsakit pukul sepuluh malam.


Saat Alam membuka pintu, Kamar Alfaro nampak sepi.


"Dimana Alfaro?"


"entahlah, mungkin ke kamar mandi"


Rayya mengecek kamar mandi, namun tak ada siapapun disana.


"bagaimana sayang?"


"tidak ada siapapun"


"dimana Nadia? kenapa mereka beedua tidak ada disini?"


Rayya membuka lemari kecil tempat biasa Nadia menyimpan bajunya. Ia begitu terkejut saat semua baju Nadia dan Alfaro tak ada disana.


"hubby.. lemarinya kosong!"


"apa?!"


Alam dan Rayya pun segera keluar dan bertanya pada salah satu perawat yang sesang melintas di sekitar ruangan itu.


"sus, apa anda tau dimana pasien yang dirawat di ruangan ini?"


"oh.. anak laki laki itu?"


"ya"


"tdi sekitar jam enam, dia di bawa pergi oleh dua orang berbaju hitam"


"apa anda tau siapa dia?"


"saya tidak tau, mereka mengaku sebagai keluarga pasien"


"apa pihak rumah sakit percaya?"


"ya, karena mereka melunasi semua biaya administrasi pasien sampai lunas"


.


siapa yang membawa Alfaro pergi?


.

__ADS_1


.


__ADS_2