
"bagaimana ini? aku tak mau kehilangan Alfaro. Alam dan kak Alex pasti sedang berusaha merebut Alfaro. Mereka sama sama memiliki kekuasaan karena mereka memiliki banyak uang. Sementara aku? aku tak memiliki apapun untuk membuat Alfaro berada terus bersamaku"
Nadia benar benar merasa frustasi akan semua permasalahan yang ia hadapi saat ini. Hingga pada detik ini, sebuah ide untuk menghubungi Alexanderpun tiba tiba melintas dalam otaknya.
"ada apa?" sahut Alex datar
"kak, Alfaro sudah boleh pulang"
"benarkah?"
"ya, tapi ada sebuah permasalahan yang tengah aku hadapi kak"
"apa?"
"aku tak memiliki uang untuk membayar biaya Alfaro selama dirawat disini"
"memangnya berapa biayanya?"
"sekitar empat puluh juta kak"
"baiklah aku akan membayarnya, tapi aku belum bisa menjemput kalian. Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan"
"tidak apa apa kak, kakak transfer saja ke rekeningku. Tapi cepat ya kak, sebelum Alam dan Rayya datang kesini"
"memangnya kenapa?"
"kenapa kakak harus bertanya lagi? bukankah kita sudah memiliki kesepakatan sejak kemarin?"
"ya.. tapi kau mengubah rencana kita dengan tiba tiba"
"maaf, aku hanya tak mau Alam lebih dulu mengambil Alfaro"
"ya, aku mengerti. Kalau begitu cepat urus semuanya dan bersiaplah! aku akan mengutus satu orang untuk menjemputmu"
"oke"
__ADS_1
Begitulah percakapan antara Nadia dan Alexander. Kemarin mereka memang sepakat untuk merebut Alfaro dari Alam.
Sebenarnya Alex tidaklah sejalan dengan Nadia. Namun karena desakan dan rayuan yang di lancarkan oleh Nadia, akhirnya Alex pun mau bekerjasama dengan Nadia untuk mengambil Alfaro
Dan benar saja Setelah Alexander mentransfer uang sebesar lima puluh juta ke rekeningnya, Nadia segera melunasi semua biaya Alfaro sekitar dua puluh lima jutaan.
Ia sengaja mengatakan empat puluh agarvia memiliki kelebikan uang untuk kebutuhan pribadinya. Namun diluar dugaan, ternyata Alex malah mentransfer uang lebih untuknya.
Alex mengatakan uang kelebihan itu untuk dirinya karena sudah membantunya membawa Alfaro pergi dari Alam. Padahal tanpa Alex ketahui, Nadia memiliki rencana terselubung di balik kebaikannya membantu Alex.
"kita mau kemana?" tanya Nadia sembari mendekap tubuh Alfaro yang sedang tertidur dalam mobil
"kata tuan, tuan sudah mempersiapkan villa untuk anda"
"benarkah?"
"iya non"
Baguslah, setidaknya aku dan Alfaro tidak akan tinggal di tempat kumuh itu.
Pengawal yang diutus oleh Alex pun segera memarkirkan mobilnya ke salah satu villa mewah yang tak jauh dari rumah sakit itu.
"ibu.. kenapa selama aku disini ayah dan mama tidak menjengukku? apa ibu sudah mengatakab kalau aku sudah keluar dari rumah sakit?"
"tentu saja sudah sayang. Tapi maaf ya nak.. ada satu hal yang harus kamu tau"
"apa bu?"
"tapi janji ya, kalau ibu beritahu, Alfaro jangan menangis"
"iya bu, Alfaro janji"
"Alfaro, ayah Alam dan mama Rayya sudah tidak ingin mengurusmu lagi nak. Mereka sudah bahagia karena sudah memiliki anak sendiri. Dan akhirnya mereka menyerahkanmu pada ibu" jelas Nadia sembari memasang wakah sedihnya
"apa benar ayah dan mama tega melakukan ini padaku bu?"
__ADS_1
"maafkan ibu nak, tapi itulah kenyataannya. Ibu sengaja mengatakan padamu agar kau tak begitu berharap lebih pada mereka. Karena mau bagaimanapun, mereka itu memang bukanlah orang tuamu, mereka bukanlah siapa siapa kamu nak"
Alfaro nampak terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bahkan dalam satu kedipan saja, air mata itu lolos begitu saja tanpa terkendali.
tes
Alfaro segera menghapus air matanya. Ia sudah berjanji tak akan menangis di depan ibunya.
"Alfaro? kau tak apa apa nak?"
"iya bu, Alfaro baik baik saja. Alfaro ke kamar ya bu, Alfaro ngantuk"
"iya sayang, selamat beriatirahat"
Alfaro segera melenggang masuk ke kamarnya. Ia menginci rapat pintu kamar itu. Setelahnya, ia tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya terhadap ayah dan mama Rayya.
Alfaro membanting tubuhnya diatas ranjang. Dalam posisi tengkurap, Ia menumpahkan segala sesihnya lewat tangis sesenggukan.
Alfaro ingin sekali berusaha menjadi anak yang tegar, namun nyatanya, hatinya belumlah cukup kuat untuk menerima kenyataan hidup.
Ayah.. Mama.. Mengapa kalian tega membuangku dengan cara seperti ini?
Aku sudah menganggap kalian sebagai orang tua kandungku
Jika kalian tak mau merawat dan menganggapku sebagai seorang anak, setidaknya ijinkan aku untuk melihat kalian sebentar saja
Ijinkan aku menatap wajah Kalian untuk terakhir kalinya
Aku ingin mengucapkan selamat berpisah dengan baik pada Kalian, Ayah.. Mama..
Dan setidaknya, ijinkan aku untuk memeluk kedua adikku sebagai tanda perpisahan kita.
Aku sangat merindukan bermain dengan Fiona
.
__ADS_1
.
.