
Dua bulan kemudian.
Alam yang sedang berada di kota S harus segera pulang saat Rayya menelfonnya. Bukan karena ada sesuatu hal yang penting, melainkan hanya untuk memenuhi ngidamnya.
Ya, Rayya sudah dinyatakan hamil. Dan kini usia kandungannya sudah menginjak tiga bulan.
Alam pun sering dibuat kerepotan dengan tingkah manja sang istri yang segala keinginannya harus segera di penuhi. Jika tidak, maka istri kecilnya itu akan mogok makan seperti yang sudah sudah.
"sayang.. kenapa kau menyuruhku pulang secepat ini? padahal aku baru sampai beberapa jam yang lalu di kota S"
Alam sedikit menggerutu karena ia pun merasa lelah dalam perjalanan bolak balik antara kota J dan kota S
"memangnya kenapa? Kau menyesal sudah pulang lagi? ya sudah balik lagi saja sana" Sahut Rayya sembari memalingkan tubuhnya dan hendak meninggalkan wajahnya.
Namun dengan sigap Alam langsung menarik tubuh Rayya hingga menatap dada bidangnya. Memeluk wanitanya dengan sangat posesif.
"bukan begitu maksutku, maafkan aku sayang, aku hanya sedang pusing memikirkan pekerjaan yang begitu menumpuk disana"
Mendengar penuturan dari Alam, entah mengapa membuat hati Rayya jadi merasa tidak enak. Ia merasa menjadi beban untuk Alam.
Jujur, sebenarnya Rayya merasa kasihan juga dengan Alam, namun ini bukanlah murni keinginannya, melainkan keinginan calon buah hatinya yang saat ingin melihat sang Ayah harus segera di penuhi.
"hubby, boleh akubtanya sesuatu?"
"tentu?"
"apa hubby merasa keberatan dengan semua keinginanku? apa aku terlalu merepotkanmu? apa aku terlalu manja? apa aku terlalu banyak minta? apa aku__"
"ssstt.. kau adalah bidadariku, kau permaisuri hatiku, dan kau adalah belahan jiwaku, selamanya aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Jadi jangan pernah berfikir untuk pergi meninggalkanku. Karena aku akan selalu ada untukmu, Sayang..."
Alam terus memeluk tubuh Rayya, ia bahkan sesekali mencium kening istrinya dengan sangat lembut.
Sungguh Alam harus ekstra berhati hati saat berbicara dengan istrinya. Karena semenjak hamil, Rayya jadi sangat sensitif. Ia jadi sering marah marah.
Segala sesuatu yang menyangkut dirinya pasti akan sangat ia seleksi secara detail. Begitulah Rayya saat ini.
Beberapa hari berlalu, Alam duduk melamun di taman rumah. Ia masih heran dengan istrinya yang tidak biasa.
"dor!" Boy mengagerkan Alam dari belakang
"ah! sialan kau! mengagetkan saja"
"ya abisnya melamun di tengah malam begini. Awas kesambet baru tau rasa loh"
"gak bakalan kesambet, kan udah ada kamu"
__ADS_1
"maksutnya?"
"ya kan kalau mau kesambet gak bakalan jadi karean setannya udah keburu takut dengan kamu"
"brengsek kau"
"hahaha" Alam tertawa renyah
"udah ah, aku mau pulang aja"
"jangan donk! disini aja dulu nemenin aku"
"kau itu masih pengantin baru, ngapain diluar? enakan di dalam lah bisa in the hoy dengan istri"
"ya kalau lagi gak hamil aih mau banget"
"memang apa bedanya?"
"jelas beda, semenjak hamil istriku itu aneh"
"aneh gimana?"
"aneh aja, dia itu suka tiba tiba pengen lihat wajahku"
"ya gak papa dong"
"gak papa lah, itung itung buat nebus kesalahanmu dulu yang udah mengabaikan nona Rayya selama bertahun tahun lamanya"
"kenapa kau berbicara seperti itu? kau seperti sedang menyindirku"
"bukan menyindir, aku hanya mengingatkanmu saja supaya kau tak melupakan penantian panjang nona padamu"
Alam terdiam
"sudahlah.. jangan terlalu dipikirkan. Aku pulang dulu"
"hhmm.."
Saat Boy hendak melangkah, ia mengurungkan niatnya kala melihat Rayya menghampiri Alam.
"hubby.. aku jadi ingin sesuatu deh"
Deg
Jantung Alam berhenti berdetak, perasaannya mulai merasakan aneh, sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"kau ingin apa sayang?"
Rayya menyodorkan ponselnya di depan Alam. Ia menunjukkan sebuah gambar buah yang menurut Alam terlihat aneh.
"hubby, aku ingin makan buah ini"
"hah? sayang, itu buah apa ?"
"aku juga tidak tau"
"lalu kau dapat gambar ini dari mana?"
"dari ponsel"
"apa tidak ada rincian buah itu?"
"tidak ada hubby, hanya ada gambar saja"
Alam menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia sepertinya akan kerepotan mencari buah itu.
Melihat Alam yang merubah ekspresi menjadi gelap, Boy pun mengambil langkah seribu untuk melarikan dirinya.
Karena jika tidak, ia pasti juga akan ikut dibuat repot dengan keinginan nona mudanya itu.
Saat Boy hendak menjalankan mobilnya, tiba tiba saja sebuah suara dari kursi penumpang mampu membuatnya terkejut.
"ngapain kamu disini? turun!"
"tidak bisa, karena kau harus menemaniku mencari buah cerry hijau"
"cerry hijau?"
"ya, bukankah ini buah cerry hijau?" Alam menyodorkan ponselnya pada Boy.
Hahahhaha...
Saat melihat gambar, Boy malah tertawa terbahak bahak dan menggema di dalam mobil itu.
"kenapa kau tertawa?" tanya Alam penasaran
"Alam.. Alam.. ternyata kau tak sepintar yang ku bayangkan. Kau memang ahli dalam mencari informasi penting. Tpi tidak dengan ini"
.
__ADS_1
.