Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Bahagia


__ADS_3

"bagaimana keadaan Nadia dokter?" tanya Alam saat melihat Dokter keluar dari ruang UGD


"kami minta maaf, Kami sudah berusaha sekuat mungkin. Namun takdir tuhan berkehendak lain"


"maksut dokter?"


"ibu Nadia sudah meninggal"


"innalillahi.. " Alam tercengan mendengar penjelasan sang dokter. Ia tak menyangka mantan istrinya akan pergi secepat itu bahkan diusianya yang masih terbilang muda.


"Ibu..." teriak Alfaro yang langsung nyelonong masuk ke dalam ruang UGD.


Faro memeluk erat tubuh sang Ibu yang sudah tak bernafas itu. Ia bahkan sesekali mencium pipi ibunya dengan lembut diiringi isak tangis yang terdengar memilukan.


"sayang.. jangan menangis. Ikhlaskan ibu pergi. Sebagai anak yang baik, Faro doakan saja yang terbaik untuk ibu supaya ibu tenang di alam sana ya nak.." Lirih Alam tepat di telinga Alfaro. Ia berusaha memberikan ketenangan dan semangat pada bocah llaki laki yang sudah ia anggap sebagai putranya itu.


Setelah mengurus surat kematian dan segala administrasi rumah sakit, Alam dan Alfaro pun kembali ke kota J.


Mereka pulang ke kota dengan membawa jenazah Nadia yang akan dimakamkan di kota J. Hal itu tentu saja atas permintaan dari Alfaro.


Karena sedari tadi, Alfaro tak mau ikut ke kota J bersama Alam jika jenazah ibunya tak ikut dibawa kesana. Hingga akhirnya, Alam pun menyetujui semua persyaratan dari Alfaro tersebut.


Setelah sampai di kota J, jenazah Nadia langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum.


Beberapa minggu kemudian.


"sayang.. kenapa kau murung nak?" tanya Rayya pada Alfaro


Alfaro hanya diam saja dan tak menyahut, dalam hati kecilnya, ia sebenarnya masih berada diambang kebingungan. Antara harus percaya pada kata kata ibunya tempo lalu atau percaya akan keadaan saat ini?


"sayang.. apa kau masih bersedih atas kepergian ibu?"


Alfaro masih diam. Hal itu membuat Rayya menghela nafas berat dan menghembuskannya perlahan.


"sayang.. bersedih boleh saja, tapi jangan sampai berlarut larut. Alfaro harus ingat, sekarang Alfaro dan ibu sudah berada di alam yang berbeda, jadi Alfaro harus bangkit. Alfaro harus tunjukkan pada Almarhumah ibu kalau Alfaro adalah laki laki yang sangat kuat"


Mendengar nasehat dan sedikit petuah dari mama Rayya, entah mengapa membuat hati Alfaro merasa sangat sejuk, nyaman, dan tenang.


Ibu pernah mengatakan kalau mama Rayya adalah orang pertama yang sangat tidak menginginkanku. Tapi mengapa aku merasa bahwa justru mama Rayya lah orang pertama yang sangat peduli padaku?


"baiklah kalau kau tak ingin berbicara dengan mama, mama akan pergi. Tapi mama harap kau mau ikut sarapan pagi ini"

__ADS_1


"ma.."


Saat Rayya hendak berdiri dan pergi, tiba tiba saja langkahnya terhenti kala Alfaro memanggilnya.


"mama.."


Dengan gerakan tak terduga, Alfaro lantas berlari memeluk kaki Rayya. Ia menumpahkan segala kerinduan yang selama ini terpendam pada sang mama.


"mama.. maafkan Alfaro ma.."


Rayya tersenyum tipis, Ia begitu bahagia saat melihat putra terbesarnya itu mau berbicara lagi kepadanya. Karena sejak awal Alfaro datang ke rumah ini lagi, belum pernah sekalipun Alfaro menyahut setiap ucapannya.


Rayya mensejajarkan dirinya dengan Alfaro. Ia menangkup pipi sang putra dengan lembut. Mencium keningnya perlahan. Serta mengusap air mata yang terus membanjiri wajah tampannya.


"sayang.. dengarkan mama. Mama sangat menyayangi Alfaro seperti anak kandung mama sendiri. Mama tak pernah membedakan Alfaro dengan Filio atau Fiona"


"iya ma.. Faro tau. Faro minta maaf sama mama. Faro minta maaf karena Faro sudah berburuk sangka sama mama"


"tidak apa apa sayang.. yang terpenting bagi mama saat ini adalah kembalinya Faro menjadi anak mama lagi"


"iya ma, Faro akan menjadi anak mama selamanya. Terimakasih ma.."


"ya sudah kalau begitu, ayo kita turun? di bawah sudah ada seseorang yang menunggumu sejak tadi"


"kalau kau penasaran, mengapa tidak turun saja sekarang?"


"ayo ma.."


Alfaro menggandeng tangan Rayya menuruni tangga. Namun belum sempat langkahnya sampai di ruang makan, tubuhnya mendadak kaku dan tak mampu lagi bergerak dikala ia melihat siapa yang sedang duduk dan menatap kearahnya.


"hai Alfaro" sapa seorang pemuda yang duduk santai di meja makan itu


"o..om.. Alex?" lirih Alfaro yang tiba tiba memberhentikan langkahnya


"ayo nak, om Alex dan tante Amel sudah menunggumu sejak tadi" ucap Rayya sembari menuntun tangan Alfaro untuk mendekat.


Faro hanya diam dan mengikuti langkah mama Rayya yang semakin mendekat pada Alex. Dan saat keduanya saling berhadapan, tiba tiba saja Alex mendekap erat tubuh Alfaro.


"Alfaro anakku.."


Alfaro yang mendapatkan pelukan dadakan itu tak mampu berkutik. Ia hanya diam dan menerima setiap sentuhan dari laki laki yang menjadi ayah kandungnya tersebut.

__ADS_1


"sayang.. maafkan papa, papa tidak akan memaksamu lagi untuk tinggal bersama papa dan mama Amel"


Ya, setelah seminggu pemakaman Nadia, Alex membawa paksa Alfaro dari Alam. Ia ngin membuktikan pada Alam bahwa yang berhak merawat Alfaro adalah dirinya karena dirinya adalah ayah kandung dari Alfaro.


Hingga Alam pun membiarkan Alfaro dibawa asal dengan syarat tertentu. Syarat jika saja Alfaro betah tinggal bersamanya, Alam akan melepaskan dengan ikhlas Alfaro tinggal bersamanya. Namun jika sebaliknya, maka Alfaro harus di kembalikan padanya.


Dan apa yang terjadi? Ternyata setelah Alfaro tinggal bersama Alex, Alfaro hanya diam, murung, dan bahkan menangis.


Hal itu tentu membuat Alex merasa sangat bersalah pada putranya. Hingga ia pun sadar bahwa kebahagiaan Alfaro ada pada keluarga Alam dan Rayya.


Alrx mengembalikan Alfaro secara baik baik. Dan sejak saat itu, hubungan keduanya pun semakin membaik. Mereka bahkan sudah nampak seperti seorang sahabat lama.


Sementara Alfaro, ia pun sadar bahwa semua orang memang sangat menyayanginya. Hanya saja ia yang telalu percaya pada sang ibu malah membuat dirinya menjadi menutup hati untuk semua orang yang ada disekitarnya.


"papa.."


"apa?" Alex mengerukan keningnya saat mendengar Alfaro memanggilnya papa untuk yang pertama kalinya


"papa maafkan Alfaro"


"sayang.. kau tidak salah nak.. kami yang salah. kami terlalu egois padamu"


"tidak pa.. Alfaro yang salah, Alfaro minta maaf"


"iya nak, iya, Papa sudah memaafkanmu sayang.."


Akhirnya Alfaro dan Alex pun saling memeluk erat. Keduanya sama sama menyesali setiap perbuatan yang mereka lakukan.


Dan Amel, sang istri pun menerima Anak suaminya itu dengan lapang dada. Karena memang sejak awal ia sudah tau kenyataannya.


"akak.. akak.." Suara anak kecil mampu membuyarkan suasana haru di meja makan tersebut.


Ya, Fiona datang dan langsung memeluk tubuh Alfaro dengan eratnya. Bocah kecil itu bahkan mencium dan menggigit pipi Alfaro dengan gemasnya hingga membuat para orang dewasa tersenyum dan tertawa bahagia.


.


.


...TAMAT...


.

__ADS_1


.


__ADS_2