Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Hidup Baru


__ADS_3

Alexander yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya bergegas menjenguk Alfaro dan Nadia. Entah mengapa hari ini perasaannya mengatakan sesuatu hal yang tak mengenakkan.


Seperti akan terjadi sesuatu. Namun Alex segera menggelengkan kepalanya pelan. Mengusir jauh pikiran aneh yang mulai memenuhi otaknya.


"selamat pagi tuan" sapa sang security penjaga Villa


"selamat pagi, dimana Nadia?"


"Non Nadia dan tuan Alfaro sedang berjalan jalan tuan"


"mereka belum pulang?"


"belum tuan"


"apa mereka pergi bersama pengawal?"


"iya tuan"


"baguslah"


Alex pun segera memasuki Villa. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Namun saat beberapa detik Alex bersantai, tiba tiba saja ponselnya berdering dan tertera nama sang pengawal disana.


"ada apa?"


"tuan.. maafkan saya, non Nadia dan tuan muda tiba tiba menghilang"


"apa?? menghilang? bagaimana bisa?"


"saya tidak tahu tuan, tapi sepertinya mereka kabur saat pamit ke kamar mandi"


"apa kau sudah mencarinya?"


"sudah tuan, tapi tetap saja tidak ada"


"apa kau masih disana?"

__ADS_1


"masih tuan"


"baiklah tunggu, aku kesana sekarang"


Alex pun segera menyambar kunci mobilnya. Dengan perasaan hawatir dan takut, Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Tak berapa lama kemudian, mobil Alex sudah terparkir di tempatnya. Tanpa menunggu lama, Alex pun segera menemui sang pengawal yang sudah terlihat berdiri di depan pintu Salah satu Mall terbedar di kota J.


"apa yang sebenarnya terjadi?"


"maafkan saya tuan. Tadi nona dan tuan muda ijin ke kamar mandi dan saya tetus mengawasinya"


"lalu?"


"Nona mengatakan jika ia tak mau diantar sampai kamar mandi karena ia merasa malu pada banyak orang yang melintas disana, hingga akhirnya saya pun menunggu di luar pintu kamar mandi tuan"


"bukan itu yang saya tanyakan bodoh!"


"maafkan saya tuan, saya hanya ingin menceritakan lebih detailnya"


"bb... bbbaik tuan"


Disaat Alex sedang bingung mencari keberadaan Ibu dan anak itu, Sementara di bawah terik matahari yang sangat panas, dua orang yang di maksut justru sedang berlari menyusuri panasnya jalan beraspal.


"sayang.. ayo cepat"


"kita mau kemana bu?"


"kita harus segera pergi dari om Alex! dia itu jahat nak!"


"jahat? tapi Alfaro rasa om Alex itu baik kok bu"


"sudahlah nak, kau tak akan mengerti karena kau belum cukup umur untuk mengetahui semuanya"


Akhirnya Alfaro pun mengikuti sang ibu tanpa banyak berkata. Bahkan saat dirinya dibawa masuk ke dalam kereta pun ia hanya diam dan menurut.

__ADS_1


Dengan sisa uang yang diberikan oleh Alex tempo lalu, Nadia berniat membawa Alfaro pergi dari kota ini. Ia ingin pergi ke desa dimana tempat mendiang nenek Alam tinggal dulu.


Karena selain sepi, disana juga kehidupannya tak seperti di kota yang semua serba mahal. Mungkin Nadia akan memulai hidup baru dari bawah bersama putanya tanpa gangguan dari siapapun.


"Ibu.. ini rumah siapa?"


"ini rumah kita sayang.. mulai sekarang, kita akan tinggal disini berdua"


Alfaro menunduk dan diam. Ia tak berekspresi apapun saat ini.


"sayang.. kau kenapa? apa kau menyesal ikut bersama ibu disini?" tanya Nadia dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin


"tidak ibu.. Faro tidak menyesal kok, hanya saja Faro merasa kangen sama Filio dan Fiona. Apa selamanya aku tidak akan pernah bertemu dengan kedua adikku lagi bu?"


"Faro sayang.. dengarkan ibu, mereka semua bukanlah siapa siapa kamu sekarang. Kamu hanya memiliki ibu, hanya ibu yang tulus sayang padamu. Percayalah, jika sampai kau bertemu dengan mereka, mereka tak akan peduli padamu. Kau harus pergi menghindar ya nak.. Karena sekarang kau sudah tak dianggap lagi oleh mereka sayang"


Benarkah apa yang dikatakan ibu? apa mereka sudah melupakanku? apa mereka sudah tak mau mengenalku lagi? kalau memang benar, aku akan menghindar dari mereka sampai kapanpun. Bahkan sampai aku besar nanti.


"Faro..."


"iya bu"


"mulai sekarang Faro hanya milik ibu. tak ada yang lain. okey?"


"iya bu"


Faro sebagai bocah kecil pastilah sangat mudah untuk terkompromi. Karena bagi seorang anak, ibu adalah segalanya. Ibu adalah dunianya. Ibu adalah tumpuan hidupnya.


Dan bagi seorang anak, semua perkataan ibu adalah kebenaran untuknya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2