Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Pertunangan


__ADS_3

Satu bulan berlalu, setelah Alam mampu menyelesaikan tugas dari Dante, Ia pun segera mempersiapkan semua persiapan untuk pertunangannya.


Alam benar benar sudah menyiapkan semuanya dengan baik sesuai keinginan Rayya. Alam tahu jika Rayya sangat menginginkan pertunangan yang sangat mewah. Gedung yang dihiasi bunga berwarna putih. Juga gaun yang sangat indah dan megah bak putri dalam dongeng.


Ya, Alam sangat tahu semua itu sejak lalu karena Alam secara tidak sengaja memang selalu berpartisipasi dalam mengikuti perkembang tumbuhnya diri Rayya.


"aku yakin nona akan sangat menyukainya" Alam bernafas lega saat semuanya sudah beres. Ia begitu yakin bahwa kejutan ini akan membuat Rayya berkesan.


*


"nona, kenapa anda sangat murung?" tanya sang perias sembari terus mendempul wajah cantik Rayya


"tidak, aku hanya tak habis pikir bahwa ini akan benar benar terjadi pada kehidupaku" sahut Rayya sembari menatap kosong ke cermin yang menampakkan dirinya


"kau pasti sangat bahagia dan grogi ya? tenanglah.. kau sangat cantik, pasti calon suamimu itu sangat terkesan melihatmu nanti"


Rayya hanya tersenyum miris kala mengingat dirinya yang hanya bisa pasrah akan pertunangan ini. Pertunangan yang sama sekali tak pernah Rayya inginkan.


Jangankan menginginkan, membayangkannya pun Rayya tak berani.


Ya, satu minggu lalu semenjak Rayya melihat Alam dan Nadia saling memeluk, Rayya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka meski tanpa memberikan kabar apapun pada Alam.


Ia hanya mengatakan pada sang ayah bahwa dirinya pasrah. Dirinya tak akan lagi mempertahankan om Alam.


Rayya menerima permintaan sang ayah untuk menjodohkannya dengan laki laki pilihan sang ayah.


"Rayya siap menerima apapun keputusan ayah. Rayya siap untuk bertunangan yah, meaki Rayya tak pernah tau siapa dan bagaimana calon tuangan Rayya" begitulah kata kata pasrah yang di lontarkan oleh Rayya pada sang ayah.


Ayah Dante pun hanya tersenyum puas kala melihat wajah pasrah dari putri cantiknya tersebut.


Dan disinilah Rayya berada. Disebuah gedung hotel yang mewah.


Awal melangkahkan kakinya, Rayya benar benar terkesan akan semua dekorasi yang ada disana. Benar benar sesuai dengan impiannya semasa dulu.


Aku benar benar merasa seperti seorang princess.


Rayya berjalan menyusuri kain berwarna merah yang langsung menuju ke panggung utama acara tersebut.

__ADS_1


Deg


Jantung Rayya seketika berhenti berdetak. Saat ia sampai di atas panggung tersebut. Ia begitu syok kala tangannya di raih oleh seorang pria tampan.


Namun bukan itu yang membuat Rayya tersentak, melainkan ia tersentak kaget saat melihat siapa yang sedang meraih ujung tangannya tersebut.


om Alam


Rayya terus menatap wajah Alam. Rayya benar benar terkejut. Ia pun langsung menatap sang ayah dan memintanya untuk mejelaskan sesuatu.


Ayah Dante yang mengetahui hal itupun segera ikut naik. Ia menjelaskan pada sang putri tentang semua tantangan yang ia berikan pada Alam. Rayya pun terharu akan hal itu.


Namun di seperkian detik berikutnya, setelah Sang Ayah turun kembali, tiba tiba saja ekspresi wajah Rayya berubah.


Sepanjang acara berlangsung, Rayya tak hentinya menampilkan senyum manis pada setiap tamu undangan.


Namun ada satu yang membuat Alam merasa aneh. Alam nerasa tuan putrinya itu tak menampakkan raut wajah yang bahagia. Alam merasa senyum nona mudanya itu senyum yang sangat terpaksa.


Namun Alam mencoba menampik semua pikiran aneh itu. Ia berfikir bahwa pasti nona Rayya masih syok dan tak percaya bahwa mimpinya selama ini sudah menjadi kenyataan.


Beberapa jam kemudian, acara itupun selesai. Semua tamu undangan juga sudah mulai meninggalkan lokasi gedung.


Begitupun dengan Alam dan Rayya. Mereka menginap di kamar yang terpisah namun kamar mereka saling bersebelahan.


Rayya melangkahkan kakinya beriringan dengan Alam. Ia hanya berjalan tanpa bicara sepatah katapun dengan laki laki yang baru saja resmi menjadi tunangannya tersebut.


Melihat ada keanehan sikap yang di tunjukkan oleh Rayya, Alam pun tak kuasa untuk menahan. Ia segera mendatangi Rayya ke kamarnya. Alam ingin bicara dengan wanita yang sudah ia ikat barusan.


"nona, bolehlah saya bertanya"


"apa?" sahut Rayya datar


"nona kenapa? apa nona sakit?"


"tidak"


"apa nona sedang tidak enak badan?"

__ADS_1


"tidak"


"lalu nona kenapa? apa nona tidak senang dengan pertunangan kita?"


"tidak"


deg


"apa maksut nona?"


"kenapa kau masih bertanya apa maksutku? bukankah kau sudah dengar dengan jelas bahwa aku sangat tidak menyukai pertunangan ini"


deg


Lagi lagi jantung Alam terpompa dengan cepat saat mendengar jawaban Rayya.


"nona, jika memang nona tak menginginkan pertunangan ini, mengapa nona tak menolak sejak awal acara?"


Rayya tersenyum miring


"hh.. apa kau pikir akau tega mempermalukan nama baik keluargaku di mata orang banyak? tidak! aku tak mungkin tega melakukannya. Apalagi mencoreng muka ayah di depan para koleganya hanya karena putri pertamanya gagal melangsungkan pertunangannya"


"kenapa anda berubah nona?"


"kau yang membuatku berubah! sekarang pergilah dari kamar ini! aku lelah"


"nona, tapi__"


"aku ingin beristirahat"


"baiklah nona. Selamat malam dan selamat beriatirahat.


Alam hendak mencium kening Rayya, namun secepat kilat Rayya segera memalingkan wajahnya.


Akhirnya Alam pun kembali ke kamarnya dengan berjuta pertanyaan yang terus berputar diotaknya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2