
Setelah mengantarkan sang putra dan babysiternya pulang ke rumah, Alam segera kembali ke mall tadi. Ia langsung menuju ke bioskop dan membeli tiket.
"anda mau pesan berapa tiket tuan?" tanya salah satu petugas pelayan tiket
"satu?"
"anda yakin ingin menonton film ini sendirian?"
"kenapa memangnya?" Alam sedikit meninggikan suaranya
"tidak apa apa tuan, silahkan"
Alam langsung masuk ke dalam. Ia tak menghiraukan beberapa pengunjung yang sedang menertawakannya.
Ia tak peduli jika dirinya sedang di remehkan orang karena tak memiliki pasangan menonton. Yang terpenting baginya saat ini adalah segera masuk dan mencari Rayya.
Setelah masuk, ia memilih duduk di kursi paling atas. Karena dengan ia duduk di barisan atas, ia dapat dengan mudah mencari posisi nona mudanya dimana.
Film di putar, namun Alam tak menghiraukan film tersebut. Ia lebih memilih fokus pada pencariannya. Meneliti satu persatu kursi duduk dari paling ujung bawah hingga ujung atas.
Kenapa nona tidak ada?
Alam terus bergumam dan mengumpat kesal saat ia tak mendapati apa yang ia cari.
apa nona nonton di bioskop lain? tapi bukankah tadi dia ke arah sini? kenapa tidak ada?
Lelah mencari, akhirnya Alam memutuskan untuk keluar. Ia tak tertarik sesikitpun untuk menikmati tontonan yang hanya akan membuat darahnya berdesir.
Saat Alam sedang melamun di dalam mobilnya, tiba tiba saja ponselnya berdering dan menampilkan nama sahabatnya
📞 hai bro..
📞 ada apa? (jawab Alam malas)
📞 bolehkah aku mengajak Alfaro pergi nanti malam?
📞 kemana?
📞 jalan jalan lah..
📞 boleh, asal jangan pulang malam
__ADS_1
📞 apa kau mau ikut?
📞 tidak
📞 kau yakin?
📞 tentu saja
📞 baiklah berarti hanya mereka berdua yang ikut
📞 berdua? dengan siapa?
📞 tentu saja dengan nona
📞 non Rayya maksut kamu?
📞 tentu saja, memang siapa lagi nona kita?
📞 baiklah, aku ikut (sahut alam begitu semangat saat mendengar nama Rayya)
Mendapat kabardari boy seakan menjadi angin segar penyejuk jiwanya yang sedang berkobar. Alam bergegas pulang demi mempersiapkan untuk nanti malam.
Akhirnya selesai. Alam memilih memakai baju santai. ia benar benar meninggalkan kemeja, celana kain dan jas rapinya.
Dan pukul tujuh malam, ia pun menjemput Rayya ke rumahnya namun sebelumnya telah menitipkan Alfaro ke rumah boy. Ia bahkan tak peduli jika harus bolak balik demi bisa satu mobil berdua dengan nonanya itu.
"om Alam?" Rayya terbengong melihat penampulan Alam yang terlihat lebih muda dari biasanya. Ia tak menyangka bahwa om kesayangannya itu ternyata sangat tampan jika berpakaian santai seperti ini.
"mari nona" Alam membukakan pintu depan
Rayya pun menurut saja. Ia tak jadi duduk di belakang. Saat ia sudah nyaman duduk, dengan gerakan tak terduga Alam mendekatinya. Wajah mereka begitu dekat. Hembusan nafas keduanya bahkan begitu terasa di setiap pori pori wajah merwka.
Deg
Jantung keduanya seolah berhenti berdetak. Baik Alam maupun Rayya sama sama tak mengalihkan pandangannya.
ceklek
"maaf nona, saya hanya ingin memasangkan sabuk pengaman anda"
blush
__ADS_1
Pipi Rayya langsung merona kala itu. Ia pikir Alam akan berbuat sesuatu yang lebih padanya. Tertanya tidak.
Ya, om Alam mana mungkin seberani itu padaku. pikir Rayya
Selama perjalanan, Rayya terus menatap ke samping jendela. Hanya Alam yang sesekali melirik dan mencuri pandang pada gadis cantik di sebelahnya.
Alam juga bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia tak pernah merasakan sebahagia ini berdua bersama Rayya. Padahal momen seperti ini bukanlah yang pertama kali untuknya.
Alam seperti seorang remaja yang sedang puber dan kasmaran.
ciit
Alam mendadak menginjak rem hingga Rayya terpental ke depan. Rambut yang awalnya rapi kini terlihat sedikit berantakan kedepan.
"om Alam.. kenapa om ngerem mendadak?"
"maaf nona, saya tidak sengaja, tadi ada tikus lewat"
"tikus sih gak papa juga kalau keinjek. kan gak sengaja. Dari pada kita yang celaka" gerutu Rayya sembari merapikan rambutnya dengan kasar
"bukan tikus deng. tapi kucing"
"om Alam ini yang bener tikus atau kucing? kalau kucing sih kita memang wajib menghindar"
"gak tau non, pokoknya ada yang lewat gitu tadi"
"ya sudahlah, ayo jalan lagi" Rayya berbicara dengan wajah yang di tekuk.
Alam perlahan memegang pipi Rayya dan memutarnya hingga menatap dirinya. Perlahan ujung jari Alam mulai merapikan helaian rambut yang masih berada di depan wajah cantik Rayya. Menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga dengan sangat lembut.
Rayya pun tak mampu menolak. Jujur saja, hatinya malam ini terasa sangat berbunga ketika mendapat perlakuan manis dari orang yang ia suka sejak dulu.
Namun secepat mungkin Rayya mengalihkan pandangannya. Ia merapikan sendiri sisa sisa helaian rambut yang menutupi dahinya.
Rayya tak akan tertipu lagi oleh sikap manis Alam. Ia takut jika ia terus menerima, nantinya ia akan tersakiti lagi karena terlalu berharap pada sosok lelaki yang masih menjadi suami orang itu.
.
.
.
__ADS_1