Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Mengulang Momen


__ADS_3

"sayang.. kenapa kau masih diam? apa penjelasanku tak cukup membuatmu percaya?"


Merasa tak ada sahutan dari Rayya, Alam pun segera mengangkat wajah kekasihnya itu. Menatap lekat mata yang menurutnya begitu indah.


"sayang.. percayalah.. aku sangat mencintaimu"


Rayya tak bergeming sedikitpun. Ia masih mematung tanpa mau mengeluarkan sepatah kata.


Merasa diabaikan, Alam dengan sigap langsung memeluk tubuh kecil kekasihnya. Tanpa permisi, ia pun langsung menyambar bibir mungil dan seksi milik Rayya.


Rayya masih tak berekspresi apapun. Ia hanya diam dan tak membalas, namun ia juga tak menolak apa yang di lakukan kekasihnya itu.


Merasa tak ada penolakan, Alam pun semakin memperdalam ciumannya. Menyesap lidah Rayya dan memainkan dengan lincahnya.


Rayya yang awalnya ingin diam saja pun akhirnya tak kuasa untuk menahan gejolak yang timbul karena rangsangan dari Alam. Ia akhirnya ikut melilitkan lidahnya dan sesekali menghisap belitan lidah kekasihnya.


Keduanya sama sama menikmati penyatuan bibir itu. saling mengungkap cinta lewat hasrat yang menggebu.


Alam dan Rayya saling melepas pagutan bibir mereka kala pasokan udara di dalam rongga dadanya terasa semakin menipis dan hampir habis.


"apa kau sudah memaafkanku?"


Rayya hanya mengangguk lemah. Ia tersipu malu setelah apa yang terjadi pada mereka barusan. Rayya sebenarnya masih sangat merasa malu dan risih saat berciuman, karena jujur, Alam adalah laki laki pertama yang merasakan manis bibirnya.


"terimakasih sayang"


"hah? om Alam panggil aku apa tadi?"


"sayang"


"benarkah apa yang aku dengar ini?"


"tentu saja, memangnya kenapa? apa ada yang salah?"


"tidak ada. Hanya saja aku seperti mimipi bisa berada di posisi ini. Bisa mencintai dan di cintai. Bisa memeluk. Bisa marah. dan__"


"bisa mencium" "cup" Alam melanjutkan kata kata Rayya sembari mencium sekilas pipi kekasihnya itu


"om Alam! selalu deh ciuri kesempatan dalam kesempitan"


"kan memang enakan yang sempit sayang"


"sempit? apaan sih? om Alam jorok deh!"


"kok jorok?"

__ADS_1


"nah itu? apaan tuh sempit sempit?


"sayangku.. coba dipikir deh, pakai kaos kaki sempit itu enak ketimbang kelonggaran. ya kan?"


"kaos kaki?"


"ya.. kau pikir apa? wah.. wah.. jangan jangan kekasihku ini punya pikiran jorok ya?"


"apa sih? gag jelas banget deh! udah ah" Rayya nampak cemberut dan berlalu pergi meninggalkan Alam


Sementara Alam yang bisa membaca situasi ini pun segera mengekor di belakang Rayya. Ia pun langsung membopong tubuh kekasihnya ala bridal style dan membawanya keluar apartemen.


"om! apa yang kau lakukan? turunkan aku! aku malu" Rayya terus memberontak saat beberapa orang tengah memandangnya


"sayang.. kalau kau terus memberontak, semuaa orang akan semakin memperhatikan kita"


"benarkah?" Rayya mengangkat kepalanya. Ia nampak celingukan kesan kemari melihat sekitar. Dan benar saja, beberapa karyawan dan pengunjung apartemen tengah menatapnya aneh


"ah aku malu om" Seketik itu juga Rayya langsung menenggelamkan kepalanya di dada bidang Alam.


"Silahkan masuk sayang" Alam yang baru saja menurunkan Rayya langsung membuka pintu mobil depan


"kita mau kemana om?"


"hari baikan?"


"ya.. hitung hitung sebagai rasa terimakasihku untuk kamu yang sudah menerima permintaan maaf dariku"


"baiklah.. ayo"


Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat yang Alam tuju. Akhirnya sampailah mereka di sebuah pantai yang dulu pernah mereka datangi


"om.. kenapa kita ke pantai ini lagi?"


"ya, aku sengaja membawamu ke pantai ini lagi karena aku ingin mengulang momen indah yang dulu sempat tertunda"


"maksut om?"


"nona, aku sangat mencintaimu. Benar benar mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"


Alam berjongkok dan menggenggam tangan Rayya. Bagi siapapun yang melihat adegan itu pastilah merasa terharu. Adegan yang begitu romantis bak di negeri dongeng.


"tentu saja aku mau, aku juga sangat mencintai om"


Alam memeluk mesra kekasihnya. Tak peduli jika orang orang menatapnya aneh. Ia hanya meresapi cinta lewat deburan ombak pantai dan terpaan angin yang begitu sejuk menerpa tubuhnya.

__ADS_1


Keduanya pun menghabiskan waktu sore ini di pantai. Menunggu matahari hingga terbenam.



"sayang.." panggil Alam sembari terus memeluk mesra Rayya dari belakang


"ya"


"bolehkah aku minta tolong?"


"minta tolong apa om?"


"aku minta tolong jangan panggil aku om lagi"


"memangnya kenapa?"


"aku ini kekasihmu, tidak lucu kan kalau kau terus memanggilku dengan sebutan om?"


"lalu aku harus panggil apa?"b


"apa aja. sayang, honey, hubby, gantengku, tampanku, pacarku, atau apa saja boleh asalkan bukan om. Aku merasa tua dipanggil seperti itu" gerutu Alam


"bukankah kau itu memang sudah tua ya om?"


Alam melotot tajam, ia pun melepaskan pelukannya dan hendak pergi. Namun dengan cepat Rayya langsung menarik lengan Alam hingga membuatnya terduduk kembali.


"hubby.. jangan marah dong" Rayya menangkup pipi Alam



"hubby harus denger baik baik. Sekarang, eaok, dan seterusnya, aku akan tetap mencintaimu. Aku akan tetap setia menjadi belahan jiwamu asal kau tak menghianatiku. Apa kau tau? aku tak pernah merasakan sebahagia ini, aku sangat bahagia bisa memiliki hatimu my hubby"



Sementara Alam, ia hanya menikmati suasana sore ini dengan sesekali mengecup bibir kekasihnya sekilas.


Kruk.. kruk..


Terdengar bunyi dari dalam perut Rayya yang membuat suasana romantis itu harus terpaksa terhenti .


"hubby.. aku lapar"


Entah mengapa rasa bahagia ini terus menggebu hingga mereka pun lupa jika belum mengisi perut merka.


Alam pun hanya tersenyum dan sesekali mengacak rambut kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2