
Berulang kali Rayya mendatangi rumah Alam, namun berulang kami juga ia tak menemukan kekasihnya itu. Pembantu Alam mengatakan jika tuannya jarang sekali pulang kerumah.
Mungkin hanya satu minggu sekali dia akan tidur dirumah. Karena setiap pulang ia hanya akan menjenguk sang putra, kemudian ia akan pergi lagi setelah putranya tertidur.
"jadi om Alam akan tidur dirumah saat hari minggu?"
"iya nona, biasanya tuan akan tidur dirumah setiap hari minggu"
"baiklah, kalau begitu aku akan kesini hari minggu, tapi jangan beritahu om Alam ya bik.. aku mau buat kejutan untuknya"
"siap nona"
Rayya pun memutuskan untuk pulang. Ia benar benar frustasi tak bisa menemui kekasihnya hampir dua minggu ini. Ponsel Alam pun tak bisa di hubungi olehnya.
"sayang.. kau kenapa?" tanya sang Bunda yang tak sengaja lewat depan pintu kamar putrinya dan melihat putrinya tengah melamun dan bersedih
"Bunda.. apa yang dilakukan oleh ayah? kenapa om Alam jadi menghindari Rayya? apa salah Rayya bunda?
"sayang.. percayalah, semua yang dilakukan oleh orang tua demi kebaikan anaknya. Begitupun ayah, ayah pasti tau mana yang terbaik untukmu nak"
"tapi aku sangat mencintai om Alam bunda.."
"sabar ya sayang.."
Bunda Nata hanya mampu memeluk sang putri. Ia tak mampu melakukan apapun saat ini.
*
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, akhirnya sampailah pada hari minggu, hari yang ditunggu tunggu oleh Rayya.
Malam ini Rayya benar benar berdandan begitu cantik, ia sengaja berpenampilan cantik agar sang kekasih mau bertemu dan berbicara dengannya tanpa menghindar lagi.
Rayya langsung masuk ke rumah Alam. Nampak sepi karena pembantu Alam sedang pulang kampung lantaran ada acara keluarga. Begitu penjelasan dari security depan pada Rayya.
Perlahan Rayya mulai memasuki ruang tengah. Samar samar ia mendengar suara tawa dari arah kamar Alfaro.
Rayya pun menuntun langkahnya untuk masuk ke dalam kamar itu. Ia membuka perlahan pintu yang memang tidak tertutup rapat.
Mata Rayya membulat, Tubuhnya seolah tak mampu bergerak. Sendi sendi tubuhnya seolah tak mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Lidahnya pun tak mampu berucap kata apapun lagi.
tes
hanya air mata yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Rayya benar benar terluka. Ia benar benar sakit hati lebih dari apapun.
"tante cantik" seru Alfaro sembari menunjuk ke arah pintu
Alam begitu terkejut saat melihat Rayya yang ternyata sudah berada di balik pintu. Entah sejak kapan tuan putrinya itu berdiri disana, ia pun tak tau.
Rayya begitu terluka, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Alam. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba tiba suara Alfaro yang memanggilnya mampu menghentikan langkahnya.
"tante cantik kenapa pergi? ayo kita main"
Rayya beejongkok dan mensejajarkan dirinya dengan putra tampan kekasihny itu. Ia segera mengusap air matanya dengan cepat
"Alfaro sayang.. maafkan tante ya, tante ada acara penting dan tidak bisa ditinggalkan. Jadi tante gak bisa nemenin Alfaro bermain sekarang. Tante janji lain kali kita main bareng ya"
__ADS_1
"kenapa gak sekarang aja tante? mumpung ada ayah sama ibu juga"
Mata Rayya menatap ke arah dimana ada Alam dan Nadia yang tengah berdiri diambang pintu kamar itu. Tatapan mata Alam benar benar tak bisa terbaca. Rayya tak bisa mengartikan tatapan mata kekasihnya itu.
"sayang, maafkan tante ya"
Rayya segera pergi dari ruang yang membuat dadanya bak terhimpit batuan besar. Perih, nyeri, sesak, sakit, semuanya bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya saat ini.
Rayya berlari menyusuri jalan. Ia tak mempedulikan lagi banyaknya orang yang tengah menatapnya heran karena menangis sepanjang jalan yang ia lalui tersebut.
om Alam.. mengapa om tega menyakitiku lagi?
Mengapa om Alam tega membohongiku?
Om bilang bahwa om sangat mencintaiku
Om bilang akan memperjuangkanku
Om bilang om tak alan kembali bersamanya.
Tapi mengapa? Mengapa om Alam menghianati cintaku yang sudah om terima?
Ini sangat menyakitkan om.. lebih menyakitkan dari rasa sakit yang pernah om berikan untukku dulu.
Ya, Rayya benar benar hancur, ia merasa terbohongi oleh perasaan Alam kekasihnya itu. Andai saja Alam tak mengatakan perasaann cinta padanya, mungkin rasa sakit ini akan sama seperti rasa sakit yang sudah sudah.
Sementara Alam, ia masih tetap berada di posisinya. Jujur, melihat Rayya yang begitu terluka, ia ingin sekali menyusul kekasihnya itu dan memeluk erat tubuh kecil Rayya. Menenangkan dan menghibur sera menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Namun Alam tak dapat melakukan itu. Ia tetap teguh pada pendiriannya agar segera mencapai tujuannya. Ia ingin membuktikan pada Dante bahwa ia adalah laki laki yang terbaik untuk Rayya.
Alam tetap berdiri teguh untuk menepati janjinya pada Dante, tuan besar yang tiga minggu lalu memberikan tanggung jawab besar kepadanya.