
"ALFARO!!"
Teriak Alam dan Nadia serentak. Tubuh mereka seketika menegang saat melihat tubuh kecil Alfaro sedang tergelepar di jalanan dengan penuh darah.
Ya, ternyata Alfaro menjadi korban tabrak lari. Saat tubuh Alfaro tertabrak demgan kerasnya hingga terpental di jalan dan berlumur darah, Sang supir pun begitu ketakutan.
Karena suasana sekitar begitu sepi, sang supir itupun memilih melarikan dirinya dan membawa pergi kendaraan truk yang ia kendarai. Meninggalkan tubuh Alfaro sendirian di jalanan yang panas siang itu.
Dengan cepat, Alam segera membopong tubuh Alfaro. Sementara Nadia, ia segera berlari mengambil mobil Alam yang terparkir tak jauh dari jalanan itu.
Mereka begitu panik, wajah Alfaro benar benar pucat pasi. Tubuhnya memutih seakan akan tak teraliri darah dalam tubuhnya.
"Alfaro, bertahan sayang.. " Nadia terus mendekap tubuh kecil itu.
Dan tak berapa lama kemudian, mobil Alam telah sampai di salah satu rumah sakit yang terdekat dari lokasi kejadian kecelakaan itu.
Alfaro langsung di bawa ke ruang UGD.
Alam dan Nadia hanya bisa menunggu di depan pintu. Mereka hanya dapat berdoa dan berharap semoga putra mereka dapat di selamatkan.
Nadia duduk di kursi tunggu. Ia menangis sembari menutupi seluruh wajah dengan telapak tangannya. Terlihat jelas raut penyesalan di wajah ibu muda tersebut.
"Alfaro, maafkan ibu nak.. harusnya kau tak mendengarkan pembicaraan kami tadi" lirih Nadia
Alam yang mendengar rintihan Nadia pun jadi tak tega. Ia mendekat ke arah mantan istrinya itu. Mendudukkan dirinya di samping Nadia. Dan tanpa sengaja, ia pun mendekap tubuh yang dulu pernah menghangatkan ranjangnya.
Tubuh yang jauh dari awal mereka menjadi sepasang suami istri. Tubuh yang dulunya begitu sehat dan berisi, kini kurus kering bak tulang dan kulit.
"sudahlah, semua sudah terjadi. Kau tak perlu menyesali apa yang yelah kita lalukan tadi yanf membuat Alfaro jadi seperti ini. Sekarang yang terpenting, kita doakan saja semoga Alfaro baik baik saja"
Nadia hanya mengangguk. Ia mengaminkan doa Alam pada putranya.
__ADS_1
Dan entah dorongan dari mana, kini Nadia pun malah ikut mebdekap erat tubuh Alam. Tangannya benar benar melingkar sempurna di pinggang mantan suaminya.
"ehem"
Satu deheman yang terdengar dari arah samping mampu membuyarkan inyeralsi keduanya.
Alam dan Nadia seketika saling melepaskan pelukan mereka saat melihat sosok wanita cantik tengah berdiri di depan mereka.
Ya, wanita itu adalah Rayya. Istri dari Alam.
Rayya yang sedang asik bercengkrama dengan putra dan putrinya tiba tiba saja mendapat panggilan dari Alam. Panggilan yang mengabarkan bahwa Alfaro mengalami kecelakaan.
Rayya pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia meninggalkan anak kembarnya pada dua baby siter yang ia sewa untuk membantu merawat buah hatinya.
Selama peejalanan, Rayya begitu cemas akan keadaan Alfaro, bocah yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri. Ia takut Alfaro terluka parah, karena saat di telfon tadi, Alam tak mau menjelaskan apapun tentang kondisi Alfaro.
Rayya sebenarnya sudah merasakan keanehan dalam hatinya sejak pagi tadi. Entah mengapa sejak pagi firasat dan perasaannya terasa tidak enak. Jantungnya pun berdebar tak karuan sejak itu.
Namun siapa sangaka, di saat ia begitu hawatir dan cemas pada putra pertamanya, sang ayah dan ibu kandung bocah itu malah tengah asik saling memeluk.
Hati wanita mana yang tak luka? saat ia begitu cemas dan ingin segera sampai di ruang UGD itu, ia malah di sambut dengan pemandangan yang begitu menyesakkan dadanya.
Suguhan awal yang tak akan bisa ia lupakan. Melihat sang suami tengah memeluk mesra wanita lain tentu membuat hati Rayya begitu terluka. Apalagi yang di peluk adalah mantan istrinya. Wanita yang dulu peenah me jalin cinta dengan suaminya.
Rayya takut jik mereka akan kembali demi Alfaro. Atau jangan jangan? mereka memang sudah menjalin hubungan lagi setelah perceraian mereka terjadi? Apalagi saat Albert tak lagi menginginkan Nadia. Rayya takut jika Alam akan terpengaruh lagi pada mantan istrinya.
"sayang.. kau sudah sampai" Alam mendekati Rayya. Ia memegang lembut tangan sang istri.
"bagaimana keadaan Alfaro?" Rayya menghempaskan pelan tangan suaminya
Mendapat penolakan dari Rayya membuat Alam yakin bahwa istrinya itu tengah marah padanya.
__ADS_1
"Alfaro masih ada di dalam, dokter masih menanganinya. doakan saja yang terbaik untuk dia"
"tentu saja aku akan mendoakan yang terbaik untuknya"
"kau sendirian?"
"ya, memangnya dengan siapa lagi aku kesini? bukankah suamiku sudah ada disini sejak tadi?"
"ya sudah, kau duduklah dulu"
Alam menarik tangan Rayya, namun belum sempat tangan itu menyentuh kulitnya, Rayya langsung menarik pelan tangan itu dan mendudukkan dirinya di kursi tunggu.
Mata Rayya menatap tajam pada Nadia yang sejak tadi hanya menunduk.
"Nadia, bajumu sangat kotor, tanganmu juga penuh darah, bersihkanlah dulu dirimu" ucap Alam pada Nadia
"tapi__"
"aku akan menunggu alfaro disini. tenanglah"
Nadia hanya mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sepertinya sedang beraura gelap.
Sementara Rayya, ia hanya menyaksikan dimana suaminya sedang memperhatian mantan istrinya tersebut tanpa rasa canghung sedikitpun padanya.
Sepeninggal Nadia, Alam segera mendudukkan dirinya di samping Rayya. ia mencoba meraih tangan sang istri. Namun lagi lagi Rayya menepis halus sentuhan tangannya itu.
"sayang..."
.
.
__ADS_1
.