Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Ciuman Pertama


__ADS_3

Rayya tengah melamun menatap langit langit kamarnya. Ia masih terbayang akan kejadian beberapa jam yang lalu.


Rayya tersenyum sendiri sembari meraba bibirnya. Rasa manis dari bibir Alam seakan masih terasa dan membekas di atas bibir mungilnya.


Rayya benar benar tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Perasaan yang ingin ia kubur dalam dalam malah kembali berkobar dan menyala sempurna.


Ya, beberapa jam yang lalu, setelah selesai jalan jalan. Alam mengantarkan Boy dan keluarganya pulang. Setelah itu, ia mengantarkan Alfaro yangbsudah tertidur pulas.


Alam menggendong Alfaro dan membaringkannya ke atas ranjang. Namun saat di baringkan, ternyata Alfaro malah terbangun. Ia malah mengajak Rayya bermain hingga larut.


Akhirnya mau tak mau Rayya pun menemani Alfaro bermain hingga tertidur kembali. Karena Rayya tak mungkin setega itu untuk meninggalkan bocah yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang dari ibunya.


"nona" Alam menepuk lembut bahu Rayya.


"om Alam.. maaf om, aku ketiduran" Rayya mengucek pelan matanya yang masih buram, melepas pelukannya pada Alfaro dan segera mendudukkan dirinya


"nona mau pulang sekarang atau nanti?"


Rayya menarap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.35


"jam setengah dua belas?" Rayya membelalakkan matanya saat menyadari ternyata dirinya sudah tertidur hampir satu jam "kenapa om tidak membangunkanku?"


"aku tidak tega, habisnya nona tidur sangat pulas sekali"


"benarkah?"


"ya, entah berapa pulau yang sudah nona ukir diatas bantal itu"


"pulau?" Rayya langsung mengelap sudut bibirnya, kemudian melihat bantal yang baru saja ia buat sandaran tidurnya tadi, ia ingin mengecek apakah benar ia baru saja mengukir pulau dia sana. Rayya melotot tajam pada Alam saat tak mendapati apa apa disana.


Melihat Rayya yang begitu kebingungan mencari pulau malah membuat Alam tertawa terbahak.


"ssssttt.. om bisa diem gak?" Rayya reflek membekap mulut Alam denfan cepat saat suaranya menggema di seluruh ruang kamar Alfaro


"kenapa om tertawa?"


"bagaimana kalau Alfaro terbangun?"


"Bagaimana kalau dia memintaku menemaninya tidur lagi?"

__ADS_1


"Kenapa om diem aja? jawab dong om"


Alam menunjuk ke tangan Rayya yang masih setia membekap mulutnya


"ups"


"bagaimana saya bisa menjawab semua pertanyaan nona kalau nona terus membekap mulut saya?"


"ah iya aku lupa"


"ya sudah mari kita keluar biar Alfaro tidak terbangun"


Rayya hanya mengangguk dan mengikuti langkah Alam. Saat hampir melewati pintu, Rayya tak sengaja menginjak mainan Alfaro yang masih berserakan hingga membuatnya terhuyung ke depan.


Beruntunglah dengan sigap Alam langsung menarik tangan Rayya hingga jatuh ke pelukannya.


Keduanya saling menatap dalam. Berada sedekat ini membuat jantung mereka tak berhenti untuk berdetak kencang seperti genderang mau perang.


Rayya mencium wangi maskulin dari tubuh kekar milik Alam. Sangat wangi dan Rayya begitu menyukainya. Apalagi posisi kedua tangan Alam yang berada di belakang punggungnya tentu menambah kehangatan dan kenyamanan tersendiri bagi Rayya.


Sementara Alam, sebagai seorang lelaki yang pernah merasakan kehangatan tubuh wanita, tentunya ia merasa tergoda dengan apa yang terjadi antara mereka.


Perlahan Alam memajukan wajahnya, dengan sangat hati hati ia mulai mengecup bibir mungil Rayya. Semakin lama semakin meresap masuk hingga mereka sama sama memejamkan kedua matanya.


Saat dirasa tak mendapatkan penolakan dari nona mudanya, Alam mulai melancarkan aksinya. Ia semakin berani untuk menjelajah lebih dalam rongga mulut Rayya.


Alam perlahan mengetuk deretan gigi Rayya dengan lidahnya. Tak butuh waktu lama untuk bertamu karena Rayya dengan levar mempersilahkan lidah Alam untuk masuk.


Alam tetus memutari setiap sudut rongga mulut Rayya hingga keduanya sama sama saling ******* dan saling mencecap mesra.


Rayya tersadar kala tangan Alam semakin mengeratkan peluaknnya. Hal itu jelas membuat Rayya merasa sesikit sesak hingga ia pun memilih melepaskan tautan bibirnya. Apalagi pasokan udara dalam rongga dadanya sudah terasa menipis.


Keduanya sama sama tersadar. Alam mengusap lembut sudut bibir Rayya yang terlohat sesikit basah karena bekas ciumannya tadi.


"om Alam"


"maafkan saya Non, saya__"


Alam tak melanjutkan ucapannya karena Rayya sudah lebih dulu menaruh jari telunjuknya ke bibir Alam. sebagai pertanda agar Alam tak lagi membahasnya. Rayya begitu malu, ia memilih keluar dan menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


Selama di dalam perjalanan, keduanya sama sama terdiam. Saling curi pandang dan bahkan sesekali mereka terlohat senyum senyum satu sama lain.


Rayya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin merka melakukan hal yang seharusnya tak merwka lakukan?


Rayya juga bingung, entah mengapa ia tak mampu menolak Alam. Padahal dengan mantan pacarnya dulu saja, Rayya tak membiarkan meaki sekedar kecupan sekilas di bibirnya.


ah... memkirkan hal itu bisa membuat Rayya semakin bingung dengan perasaannya


*Ciuman Pertamaku?


Rasanya begitu Manis dan Indah


Aku menyerah,


Aku tak mampu lagi untuk terus menyembunyikan rasa ini


Om Alam.. aku sangat mencintaimu*.


Saat Rayya masih asik berhayal dan membayang, tiba tiba saja pintu kamarnya di ketuk dari luar.


"ada apa bik?"


"nona, anda di minta tuan beaar ke ruang kerjanya sekarang"


"sekarang? memangnya ada apa?"


"saya tidak tahu nona, tapi sepertinya tuan ingin berbicara serius dengan anda"


"baiklah, saya kesana sekarang"


"kalau begitu saya permisi nona"


"ya"


Kenapa ayah ingin berbicara denganku di tengah malam seperti ini?


.


.

__ADS_1


__ADS_2