Mengejar Cinta Om Suami Orang

Mengejar Cinta Om Suami Orang
Pertengkaran Malam Hari


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Rayya benar benar mengatakan yang sejujurnya pada keluarga besar mantan tunangannya. Awalnya mereka tak terima dengan keputusan sepihak ini.


Namun karena Albertlah yang terlihat salah, akhirnya mereka mau tak mau harus menerima kenyataan batalnya pertunangan. Walau sebenarnya mereka sangat menyayangkan jika harus kehilangan Rayya. Karena gadis itu termasuk keluarga konglomerat di kota J.


Seiring berjalannya waktu, Albert semakin dekat dengan Nadia kembali. Ia bahkan tak mempedulikan lagi status Nadia sebagai istri orang.


Awalnya Albert memang masih terus mencoba mengambil hati Rayya, namun karena hasutan dari Nadia, akhirnya Albert melupakan niatnya untuk bersama Rayya.


Dan saat ini, hubungan Alam dengan Nadia semakin menjauh. Mereka bahkan tak lagi tidur seranjang.


Alam yang sedang menenani putranya tidur tersentak kaget kala mendengar sebuah langkah sepatu yang berdetak pelan. Alam yakin bahwa itu adalah Nadia.


"Nadia! mau kemana kau?" gertak Alam pada Nadia yang saat ini sedang menggenggam koper besar di tangannya


deg


Nadia menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang yang ternyata sudah ada Alam di ambang pintu kamar dengan bersedekap dada


"ssa..sayang" lirih Nadia


"mau kemana kamu malam malam begini? Dan itu! kenapa kau membawa koper besar?"


"aa.. aku.. mm.. aku mau kerja. Ya, mau kerja" jawabnya sedikit terbata


"sejak kapan kau mulai kerja?"


"sejak besok sayang. Aku akan bekerja untuk membantu perekonomian kita. Aku mendapat panggilan kerja di luar negeri"

__ADS_1


Alam tersenyum sinis. Ia mendekati Nadia dan mencengkeram dagunya dengan sedikit tekanan agar tak dapat melepaskan diri


"Ssayang apa yang kau lakukan? ini sakit, lepaskan aku"


"sakit kau bilang? lebih sakit mana dari hati yang kau hianati?"


"apa maksutmu?"


"Nadia Nadia.. jangan kau pikir aku ini orang bodoh yang mudah untuk kau tipu! Kau pikir aku tak tahu apa yang kaublakukan di luar sana bersama Albert? Aku tahu semuanya. Aku tahu"


Nadia terdiam membeku. Ia pikir selama ini Alam tak mengetahui apa yang ia lakukan di luar. Karena selama ini, Alam tak pernah curiga dan tak pernah bertanya apapun padanya.


"kenapa diam? Kau terkejut? kau pasti sedang bertanya mengapa aku tahu semuanya? iya kan?"


"aku__"


"Alam! kenapa kau hanya menyalahkanku? kenapa kau juga tak menyalahkan dirimu sendiri?"


"ini bukan tentangku. tapi tentang kamu"


"stop! Kau pikir aku juga tak sakit hati selama ini? Kau pikir aku tak tau kalau kau tak pernah mencintaiku? Alam, aku memang memiliki ragamu, tapi tidak dengan hatimu. Aku selalu tersingkir oleh orang yang selalu kau agungkan itu. Aku selalu terkalahkan oleh Nona mudamu itu! Apa kau tahu? ini sangat menyakitkan Alam. Sangat menyakitkan.. Lau apakah salah jika aku menerima seseorang yang bisa memberilan lebih dari apa yang bisa kamu berikan?"


"bohong! kau yang terus merayu Albert. Kau yang menjadi penghalang. Kau yang mempengaruhinya agar tak lagi memperjuangkan non Rayya. Iyakan?"


"jangan sok tau kamu! Kau tak mengerti apapun tentang aku dan dia"


"Aku tahu Nadia.. Aku tau semuanya. Aku bahkan tak menyangka bahwa kau rela melemparkan tubuhmu pada laki laki yang bahkan sama sekali tak memiliki status apapun padamu"

__ADS_1


"Jangan salahkan aku jika aku melakukannya dengan orang lain. Semua ini karenamu juga Alam! Kau tak pernah menyentuhku! Kau tak pernah memanjakanku! Kau bahkan tak pernah menggauliku hingga aku haus akan belaian. Istri mana yang rela di perlakukan seperti itu hah?!"


"hh.. aku tidak akan pernah sudi menggauli istri jal*ng sepertimu!"


"oke.. kalau begitu mari kita berpisah! Bukankah sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kita?"


"Jaga bicaramu! Andai saja aku tak memikirkan Nasib Alfaro, tentu saja aku sudah menceraikanmu sejak dulu"


"Alfaro sudah besar, dia akan tahu bagaimana keadaan orang tuanya nanti"


"Kau tidak tau apa yang ada dalam pikiran anak kita Nadia! Kau itu benar benar keterlaluan! Kau itu ibu macam apa sih?" Alam benar benar geram. Ia seolah tak mengenal Nadia yang dulunya penuh kelembutan.


"Aku tidak peduli semua itu. Aku hanya ingin hidup bahagia" Nadia ikut mrninggikan nada suara yang seakan menantang suaminya itu


plak


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Nadia. Alam benar benar kehabisan kesabaran. Ia tak bisa lagi menahan amarahnya hingga ia tega menampar istrinya sendiri.


Nadia memegang pipinya yang terlihat memerah. Ia pun segera menyeret koper besar keluar meninggalkan Alam yang masih mematung di tempatnya


"Nadia! Jika kau tetap pergi, maka kau bukan lagi istriku" teriak Alam


Nadia tak menghiraukan seruan Alam. Ia tetap kokoh untuk pergi meninggalkan keluarga kecilnya.


Aaaacchhhh!!


.

__ADS_1


.


__ADS_2