
Hari berganti hari, waktu berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa kinu Alfaro sudah mulai memasuki sekolah dasar. Ya, umurnya saat ini sudah menginjak tujuh tahun. Namun ia begitu dewasa dan pintar diatas rata rata bocah seusianya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. ini sudah waktunya untuk pulang. Alfaro masih menunggu mama Rayya untuk menjemput. Karena di hari sabtu ini mereka berencana ingin jalan jalan ke mall bersama dengan dua dedek kecil yang kini berusia dua tahun.
Ya, selisih usia Alfaro dengan si kembar baby F sekitar lima tahunan. Dan entah mengapa Alfaro lebih senang bermain dengan baby Fiona ketimbang bermain dengan baby Filio.
Saat Alfaro tengah menunggu mama dan adiknya, tiba tiba saja ia di datangi seorang perempuan berpenampilan dekil dengan memakai kerudung yang ia tutupkan di depan wajahnya.
"Alvaro" panggil seorang wanita berkerudung itu.
"Ibu" Alfaro menatap pada wajah cantik yang terlihat lusuh di depannya. Ya, wanita berkerudung itu adalah Nadia, ibu kandung dari Alfaro.
"Alvaro sayang, ibu kangen Nak" Nadia memeluk erat tubuh yang ia rindukan.
Berpisah dengan Sang putra hampir tiga tahun itu membuatnya begitu merindukan sosok malaikat kecil nan tampan yang pernah ia kandung.
Sebenarnya berulang kali Nadia ingin menemui Alvaro dan memintanya dari Alam, namun mantan suaminyaviyu tak memperbolehkan Alfato untuk ikut dengannya dengan alasan putranya tak akan mendapatkan kehidupan yang layak bersama Nadia.
Nadia pun akhirnya mengerti akan keadaannya saat ini. ia pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Alam. Alfaro tak akan mendapagkan kehifupan yang layak.
Pada akhitnya, Nadia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Alam. Ia menerima dengan terpaksa uang yang diberikan alam padanya. Atas peekintaan Alam, Ia pun memulai kehidupan baru di sebuah desa kecil yang jauh dari sudut kota.
Namun terus-terusan menahan rindu pada sang buah hati, membuatnya tak bisa hidup dengan tenang. Apalagi membiarkan Sang putra tinggal bersama seorang yang tak memiliki ikatan darah apa-apa padanya.
Meskipun alam berjanji akan menyayangi Alvaro seperti anaknya sendiri. Namun Nadia hawatir jika suatu saat nanti Alvaro pasti akan tersakiti dengan kenyataan yang ada.
Dan Ia berpikir mungkin lebih baik Alvaro tahu sejak dini bahwa dia bukanlah anak kandung dari ayah Alam. Dari pada nanti ia tahu setelah ia tumbuh dewasa. begitu pikirnya.
""Alvaro Ibu sangat merindukanmu, Apa kau tak merindukan ibu nak?"
__ADS_1
"Ibu.. aku juga merindukan ibu,ibu ke mana saja? Kenapa Ibu tidak pernah menjenguk Alvaro?"
"maafkan Ibu sayang, Ibu pergi karena suatu hal dan Alvaro belum saatnya tau akan hal ini, tapi Ibu janji, ibu tidak akan meninggalkan Alvaro lagi"
"Ibu apa ibu akan kembali bersama faro dan Ayah?"
"Maaf nak, Ibu tidak bisa kembali bersama ayah lagi, bukankah ayah juga sudah memberimu mama baru?".
"Iya bu, Alfaro sudah punya mama baru, namanya Mama Rayya. Mama Raya itu orangnya baik banget, Mama sangat menyayangi Alfaro. Mama juga sudah memberikan Alfaro dua adik bayi yang sangat lucu"
"Apa Alvaro senang?"
"Iya bu, Alfaro sangat senang"
Nadia hanya tersenyum getir mendengar ungkapan hati dari Sang putra.
Sebenarnya Nadia pun merasa menyesal telah meninggalkan lelaki baik alam demi mengejar cintanya yang telah lalu.
"Apa Faro mau ikut dengan Ibu?"
Alfaro terdiam, ia nampak berfikir dan terlihat ragu
"sebentar saja sayang".
"iya bu"
Akhirnya Alvaro pun ikut pergi bersama Nadia.
Sementara Rayya yang baru saja sampai, Ia langsung mencari keberadaan Alvaro di tempat biasa. Rayya mengerutkan keningnya Saat ia tak melihat Alvaro di tempat biasa ia menunggu itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya Raya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas kembali dan bertanya kepada guru ataupun penjaga sekolah yang masih ada disana.
Raya pun nampak tercengang saat penjaga dan guru itu mengatakan bahwa sudah tidak ada satupun murid yang masih tinggal di dalam kelas.
Hal itu tentu membuat ketakutan tersendiri dalam hati Rayya. Dia pun segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan segera menghubungi suaminya.
"apa? Alfaro tidak ada? Bagaimana bisa?"
"entahlah, aku rasa aku tidak telat untuk menjemputnya hari ini. Tapi mengapa Alfaro menghilang?"
"baiklah sayang, tunggu, aku akan segera ke sana"
"iya hubby, cepatlah, aku sangat hawatir dengannya"
Dengan kecepatan tinggi Alam pun segera melajukan mobilnya menuju sekolah Alfaro.
Dan tak Berapa lama kemudian, Alam pun sampai.
Melihat sang suami sudah datang, Rayya pun segera memeluk tubuh suaminya itu sembari menangis sesenggukan. Ia benar benar takut kehilangan putra sambung yang sangat ia sayangi itu.
Saat semua orang sibuk tengah sibuk mencari Alfaro, tiba-tiba saja darisudut yang berbeda, nampak seorang anak kecil tengah berjalan ke arah mereka.
"ayah.. mama"
Alam dan Rayya pun menoleh ke arah sumber suara itu. Mereka begitu terkejut saat melihat Putra yang sejak tadi dicarinya tiba-tiba saja muncul dari arah yang tak terduga.
"Alfaro"
Rayya langsung mendekap erat tubuh Alvaro, begitupun Alam.
__ADS_1
Namun saat ia memeluk Sang putra, mata Alam pun tengah mengarah pada sosok wanita berkerudung yang memakai cadar muka dan tengah menatap kearahnya.
Namun tak Berapa lama kemudian wanita itu berbalik dan meninggalkan tempst itu, memutuskan pandangan yang sempat beradu antara mereka berdua.