
"ada apa?" tanya Dante dengan suara yang terdengar dingin dan menakutkan.
"kami__"
"saya ingin mengatakan sesuatu pada anda tuan" jawab Alam yang langsung memotong ucapan Rayya
"apa?"
"saya ingin mengakui suatu hal pada anda bahwa saya sangat mencintai putri anda"
Alam tak gentar untuk berterus terang pada bos besarnya itu. Ia benar benar bertekat memperistri Rayya.
Dante menatap tajam pada kedua orang tersebut. Terutama pada tautan tangan mereka. Ya, Alam dan Rayya saling menautkan jarinya sejak tadi.
"Rayya, keluarlah!" perintah Dante
"ayah, kenapa Rayya harus keluar?"
"ayah bilang keluar sekarang!"
"tapi ayah__"
"aku hanya ingin bicara berdua dengannya" Mata Dante menyorot tajam pada Alam.
Dante mengangguk, akhirnya mau tak mau, Rayya pun segera keluar. Ia begitu cemas akan nasib laki laki yang di cintainya. Ia juga merasa penasaran degan apa yang akan dibicarakan oleh sang ayah.
Karena yang ia tahu, dulu ayahnya itu melarang Rayya untuk dekat dengan Alam. Dan saat ini Rayya pun takut jika sang ayah akan menentang hubungan mereka.
Rayya terus mondar mandir di luar ruang kerja sang ayah. Bahkan sesekali ia menempelkan telinganya pada pintu. Berusaha untuk menguping pembicaraan dua laki laki yang sama sama ia sayang. Bamun tetap saja tak terdengar apapun dari luar.
"apa yang dibicarakan oleh ayah? kenapa mereka lama sekali? bagaimana kalau ayah menghajar om Alam?"
Semua pikiran pikiran buruk tiba tiba menubruk menjadi satu dalam benak Rayya.
Beberapa menit kemudian, Alam pun keluar dari ruangan itu. Wajahnya tanpa senyum juga tanpa sedih, benar benar datar
__ADS_1
"om.. bagaimana? apa yang terjadi? ayah marah ya? ayah tidak setuju ya?" Rayya terus mengguncang lengan kekasihnya
"Nona.. saya permisi pulang dulu ya"
"om.. kenapa om pulang? kenapa om diam saja? apa yang yag dibicarakan ayah om?"
Alam tak menghiraukan Rayya. Ia terus melangkah keluar dengan sangat tergesa.
Sementara Rayya yang melihat kekasihnya itu pergi, ia pun langsung menyelonong masuk ke dalam. Ia penasaran dengan apa yang terjadi antara dua laki laki itu.
"ayah.. apa yang terjadi? memgapa om Alam pulang? apa yang sudah ayah lakukan?"
"apa kau tak berranya pada kekasihmu itu?"
"aku audah bertanya, tapi om Alam tak menjawab apapaun"
"baguslah. dia menepati janjinya"
"janji apa ayah?"
"janji untuk tak lagi menemuimu. Karena ayah akan menjodohkanmu dengan laki laki lain"
"ya, kecuali Alam"
"kenapa yah? om Alam baik, Rayya sangat mencintainya"
"kau adalah putri ayah, ayah ingin yang terbaik untukmu, ayah ingin kau menikah dengan orang yang memiliki pekerjaan menjanjikan supaya dia bisa menghidupimu dengan layak nantinya"
"ayah! mengapa ayah mengukur cinta kami dari harta? Rayya yakin, om Alam pasti bisa menghidupi Rayya dengan baik"
"apa kau yakin dengan gaji Alam kau bisa membeli sepatu mewahmu? baju mahalmu? sepatu brandedmu itu? apa kau yakin laki laki yang hanya bekerja sebagai supir itu bisa membelikan semua itu untukmu?"
Rayya terdiam. Memang benar, gaji Alam tak mungkin untuk membeli semua itu.
"ayah.. aku mencintai om Alam. Aku ingin hidup bersamanya. Andai saja om Alam tak bisa memberikan semua itu, aku tak masalah. Aku tak akan menuntut apapun padanya"
__ADS_1
"Rayya, semua itu belum terjadi. Kau akan merasakan menyesal karena kau memilih jalan yang salah. Karena setiap kehidupan rumah tangga, hal utama yang sering memicu pertengkaran adalah masalah ekonomi. apa kau mengerti?"
"tidak! aku tidak mau mengerti hal itu. Aku mau om Alam. aku mau om Alam ayah"
"tidak ada bantahan untuk perintah ayah! satu bulan lagi, laki lali pilihan ayah akan datang untuk melamarmu"
"apa?! melamar? aku tidak mau"
"harus mau!"
"tidak ayah, aku tidak mau menikah dengan siapapun kecuali om Alam"
Dante tak bergeming.
"Jika ayah tetap menginginkan Rayya menikah dengan laki laki lain, Rayya tetap akan menolak. Lebih baik Rayya menjadi perawan tua dari pada harus menikah dengan orang lain"
Setelah mengatakan itu, Rayya langsung berlari menuju kamarnya, ia menumpahkan segala sesak dan tangisnya.
Rayya tak habis pikir dengan jalan pikiran sang ayah. Mengapa ayahnya begitu kejam memilihkan laki laki yang akan menjadi imam dalam hidupnya?
Rayya berulang kali menghubungi Alam lewat nomor ponselnya, tapi tak ada sahutan sama sekali. Hingga beberapa panggilan ia lakukan, bukannya diangkat malah dimatikan oleh Alam.
*kenapa om Alam tak mengangkat panggilanku?
kenapa om Alam malah mematikan ponselnya?
Apa yang di lakukan oleh ayah pada om Alam?
Apa ayah melukai hati on Alam dengan kata kata pedasnya sehingga om Alam marah padaku?
Om Alam... kau dimana*?
Hal itu tentu membuat Rayya begitu frustasi dengan keadaan ini.
Rayya tak bisa tinggal diam. Ia akan menemui Alam besok. Ia akan meminta Alam untuk sekali lagi berjuang mendapatkan restu dari ayahnya.
__ADS_1
.
.