
tok tok tok
Rayya mengetuk pelan pintu ruang kerja sang ayah. Entah mengapa lama sekali tidak ada sahutan dari dalam, hingga Rayya pun memutuskan untuk untuk membuka sendiri pintu ruang kerja tersebut.
Mata Rayya terbelalak dan membulat sempurna saat ia masuk ke dalam dan mendapati pemandangan area 21+ di sana.
"ayah! Bunda!"
Merasa ada yang memanggil, Nata dan Dante segera menengok ke belakang. Mereka terperanjat kaget saat mendapati sang putri yengah masuk ke ruangannya.
"Rayya?" Keduanya langsung merapikan baju masing masing.
Ayah Dante sibuk mengancingkan baju, sementara Bunda Nata sibuk membenahi daster rumahan yang bagian atasnya sudah melorot serta bagian bawahnya sudah menyikap ke atas.
"Ayah.. Bunda! apa kalian tidak bisa melakukannya di dalam kamar saja?"
Rayya sedikit kesal saat melihat Ayahnya sedang mencumbu mesra sang Bunda. Beruntunglah keadaan mereka masih berpakaian lengkap.
"Terserah ayah, Kalo sama pasangan halal itu bebas" Sahutnya tanpa merasa bersalah telah menodai mata putri cantiknya.
Sementara sang bunda hanya tertunduk malu. Ia bahkan tak berani menatap putrinya karena terpergok sedang berbuat tak senonoh di depan sang putri.
"ayah membuatku iri saja. apa ayah tidak tau kalau jiwa jombloku ini sedang meronta"
"makanya buruan nikah"
"ayah.. nikah sama siapa coba? pacar aja gak punya"
"dasar jones! cantik cantik kok gak punya pacar"
"biarin, dari pada punya pacar tapi tukang selingkuh"
__ADS_1
"itu kan pilihan kamu sendiri?"
Rayya memitar bola matanya malas. "lupakanlah.. hmm mgomong ngomong ada apa ayah memanggilku kesini? Tidak hanya disuruh menyaksikan ayah sedang berbuat mesum kan?"
"sembarangan kalau ngomong! ayah memanggilmu karena memang ada sesuatu hal yang ingin ayah sampaikan"
"apa ini penting?"
"tentu saja. Dan ini sangatlah penting untuk masa depan kamu"
"masa depan?"
Dante hanya menganggukkan kepalanya pelan
"maksut ayah apa?"
"adikmu sebentar lagi akan bertunangan"
"entahlah, ayah juga tidak tahu. Kata adikmu siapa yang akan melamarnya adalah sebuah kejutan untuk keluarga kita"
"okey... lalu apa hubungannya denganku?"
"tentu saja ada, Sebagai anak pertama, kau harus lebih dulu menikah. Apa kau mau jika adikmu melangkahimu dan lebih dulu membina rumah tangga?"
"tidak bisa, aku tidak mau dilangkahi"
"Tepat sekali, itulah yang akan ayah bicarakan denganmu"
Rayya mengerugkan keningnya menatap lekat sang ayah
"Karena pertunangan adikmu akan diadakan dua bulan lagi, maka kau harus memiliki calon suami dalam waktu satu bulan. Jika kau tak mampu mendapatkan calon suami, maka pilihannya hanya ada dua, tetap menjomblo atau menerima laki laki yng ayah pilihkan untukmu.
__ADS_1
"What? Satu bulan?"
"Ayah.. ayah pikir mencari calon suami itu seperti memasak gorengan yang hanya tinggal di bolak balik langsung matang?"
Dante hanya mengedikkan bahunya acuh
"apa Ryana dan calon suaminya itu tak bisa menungguku dulu?"
"Mereka berdua tak akan menunggumu karena calon suami adikmu tak mau menunda terlalu lama pernikahan mereka. Jadi, jika saja kau tak segera mendapatkan calon suami, maka dengan sangat terpaksa kau harus menerima adikmu menikah lebih dulu darimu"
"jahat! Egois sekali mereka!"
"entahlah.. semua keputusan ada ditanganmu. Ayah tau kau pasti memiliki cinta. Raih dan Kejarlah cintamu itu"
*Kejar dan Perjuangkan?
Apa aku harus mengejar dan memperjuangkan om Alam?
Tapi kan Om Alam belum bercerai dengan istrinya*?
Rayya hanya terdiam sembari mencerna segala sesuatunya dengan cepat. Ia tak ingin di langkah. Akhirnya mau tak mau Rayya pun menerima tantangan satu bulan itu.
"ayah serahkan semua kepadamu. Kau pasti tahu mana yang terbaik untuk semua orang"
Dante menepuk pundak sang putri lalu bergegas meniggalkannya masuk ke dalam kamar bersama sang istri.
"sayang.. apa menurutmu ini keputusan yang tepat?" tanya Nata sembari menyisir rambutnya
"ya.. dengan seperti itu, mereka berdua pasti tak akan lagi membohongi perasaan masing masing"
"tapi bagaimana kalau mereka tak menyelesaikan cinta mereka?"
__ADS_1
"berarti itu adalah takdir"