
Boy mengurungkan niatnya untuk pulang karena langkahnya terhalang oleh keinginan Alam. Akhirnya mau tak mau pia harus menemani alam untuk mencari buah yang dinamakan oleh sahabatnya ceri hijau.
Mereka berdua benar-benar merasa kesulitan untuk mencari buah itu karena memang saat ini belumlah musimnya.
"Bagaimana ini? kita tidak bisa mendapatkannya" Ucap Boy sembari menggaruk rambut belakangnya.
"Entahlah aku juga bingung, kita harus cari kemana lagi?" sahut Alam menghela nafas panjang. Iya benar-benar merasa lelah dan frustasi karena sejak siang hingga menjelang petang, mereka belum juga mendapatkan buah ceri hijau tersebut.
"Apa lebih baik kita pulang saja? kita cari saja besok". saran boy
"Tidak bisa kita harus mendapatkannya malam ini juga"
"Eh judul jangan ngada-ngada kamu, Mana ada malam-malam kita cari buah cermai? Yang ada nanti kita malah dikira maling bego"
"Kamu tuh yang peak! kita itu mau minta bukannya mau maling atau kalau perlu kita beli aja semua buah itu sampai pohon-pohonnya"
"hh.. Ya sudah ayo kita cari lagi"
"Eh tunggu-tunggu apa tadi namanya tadi? Cermai Sejak kapan buah ceri hijau itu merubah namanya menjadi cermai? "
"Dul dul Makanya kalau bego itu jangan dipelihara, dari dulu namanya itu buah cermai bukan buah cerri hijau".
Kenapa gak bilang dari awal? 0pantas saja kamu tertawa ngakak tadi, berarti kamu tadi lagi menertawakanku ya?"
"Tentu saja, iya kamu pikir aku menetapkan apa sejak tadi? adanya juga cuman kita berdua"
"sialan"
Akhirnya mereka berdua pun melanjutkan perjalanan untuk mencari buah ceri hijau tersebut.
Saat sampai di sebuah rumah yang terbuat dari rotan, Alam cantik Boy langsung menghentikan mobilnya saat melihat ada sebuah pohon cermai yang memiliki beberapa buah diatasnya.
__ADS_1
Mereka pun turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah rotan tersebut, mereka berdua bahkan dengan sangat sopannya sudah meminta izin untuk memetik buah itu.
Namun sayangnya sang pemilik rumah tak mengizinkan buahnya untuk dipetik.
Lelaki paruh baya dengan kumis tebal itu malah marah-marah kepada kedua pemuda dan mereka malah dianggap mengganggu ketentraman dan kenyamanan istirahat sang penghuni rumah.
"Alam Bagaimana ini kita sudah muter-muter kesana kemari, tapi hanya ada pohon ini yang tersisa"
"Tenang saja aku punya rencana yang bagus untuk mendapatkannya"
"Rencana bagus apa?"
"Kita tunggu saja sampai Pak Raden itu tertidur lagi"
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Dan sepertinya Pak Raden itu sudah tertidrencananya.
Alam pun bersiap untuk memulai rencananya. Karena rumah itu tak memiliki pagar pembatas, ia pun langsung naik ke atas pohon. Sementara Boy ditugaskan untuk menunggu di bawah dan mengamati sekeliling
Dan setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, Alam dan Boy pun langsung tancap gas untuk kembali pulang ke rumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.
"Hahaha.. Alam, idemu memang benar-benar gila! kau benar-benar nekat. Kau berhasil membuatku merasa seperti seorang perampok"
"Yang penting kan kita tidak merampok sungguhan! aku kan juga sudah memberikan kompensasi untuk buah cermai ini, salah sendiri kita sudah bicara baik-baik dianya malah sewot dan ngusir kita. Sekarang rasain kan buahnya aku tumpas sampai habis"
"ah terserah kau sajalah, yang penting Sekarang kita bisa pulang dan istirahat di rumah. Badanku sudah merasa sangat capek"
Akhirnya mereka berdua pun pulang ke rumah masing masing.
Disaat Boy langsung tertidur nyaman di ranjang empuknya. Sementara Alam ia harus menemani sangat istri yang sedang asik makan buah berasa asam tersebut.
Alam terkekeh sendiri saat mengingat tragedi pemetikan buah tadi. Dimana saat ia tengah asik memetik, tiba tiba saja ada sebuah kain kacamata yang jatuh tepat mengenai atas kepalanya.
__ADS_1
Ya karena pohon itu digunakan untuk pengait tali jemuran, dan masih banyaknya jemuran yang berada diatas kawat tersebut, ditambah lagi dengan terpaan angin yang berhembus, pastinya membuat beberapa jemuran akan terbang kemana mana.
Dan sialnya, Mengapa malah sebuah kain kacamata tipis yang harus nyangkut di kepalanya? kenapa tidak kain yang lain saja?
Andai saja kain itu masih baru dan bagus sih mungkin Alam tidak apa apa. Tapi ini? Kawat dari kain kacamata yang ia ambil dari atas kepalanya itu sudah karatan dan bahkan dari tiga kawat itu sudah ada dua yang terputus.
Dan yang membuat Alam semakin merasa jijik adalah saat ia melihat banyak sekali jamur jamur hitam yang menempel pada area kolor bawah bra usang tersebut.
hiii...
Jika mengingatnya, Alam terkadang sampai merinding sendiri saat membayangkan dirinya harus memegang bra usang itu hingga beberapa kali karena saat ia menempelkan bra tersebut kembali ke jemuran, lagi lagi bra tersebut malah kembali tertiup angin dan terjatuh.
Akhirnya setelah selesai, Alam pun menuliskan sebuah surat dan meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang ia selipkan di tengah tengah kain bra yang sudah mengelupas dari busanya tersebut.
Pak Raden maaf ya saya mengambil paksa buah cermai anda karena saya harus memenuhi ngidam istri saya yang sedang hamil.
Ini saya tukar dengan uang yang mungkin cukup untuk memberikan kutang baru untuk istri anda
Sekali lagi terimakasih ya pak Raden
Begitulah kira kira isi surat yang diberikan Alam untuk bapak bapak paruh baya berkumis tebal yang diberi nama pak Raden oleh Alam.
"hubby.. kau kenapa?"
"tidak apa apa, makanlah"
"apa kau mau mencobanya?"
" ah tidak tidak! aku tak suka buah itu, makanlah yang banyak, akan menunggumu"
"baiklah"
__ADS_1
Akhirnya Rayya pun menghabiskan banyak sekali buah asam tersebut