Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 10 Awal yang buruk


__ADS_3

Kini Miyuki berada di dalam mobil Tristan dengan sumringah dan terlihat sangat ceria. 


Sepertinya dia memang sudah sembuh, Tristan berkata dalam hati sambil tersenyum tipis melihat istrinya yang tidak henti-hentinya tersenyum lebar melihat jalanan.


"Kenapa sih semua orang gak ngebolehin aku nyetir mobil sendiri? Kan enak kalau aku bawa mobil sendiri," ucap Miyuki lirih sambil melihat ke arah jalanan melalui jendela kacanya.


"Ya karena mereka sayang sama kamu. Mereka gak mau kamu terluka karena membawa mobil sendiri," sahut Tristan sambil fokus mengemudikan mobilnya.


Sontak saja Miyuki menoleh ke arah suaminya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kemudian dia berkata,


"Meskipun yang nyetir bukan aku, jika memang takdirnya terjadi kecelakaan pada saat itu, ya pasti terjadi," ucap Miyuki yang tidak mau kalah dengan pendapat suaminya.


"Ya kalau gitu… mereka khawatir karena kamu ceroboh," sahut Tristan sambil terkekeh.


Seketika Miyuki menatap tajam ke arah suaminya. Kemudian dia berkata,


"Benar, aku memang ceroboh. Harusnya aku menolak menikah denganmu. Sekarang, karena kecerobohanku itu, aku menjadi tersiksa menjadi istrimu."


Tiba-tiba Tristan mengerem mobilnya secara mendadak hingga membuat Miyuki terkejut.


"Turun. Sudah sampai. Dan ingat, kamu tidak bisa merubah statusmu kecuali kita bercerai di pengadilan agama," ucap Tristan dengan tegas dan tersirat kekesalan dari nada bicaranya.


Miyuki menatap kesal pada suami kontraknya itu. Ingin rasanya dia mengomel pada suaminya itu, hanya saja dia takut jika terlambat hadir untuk pertama kalinya.


Diurungkannya keinginannya tadi dan dengan segera dia keluar dari mobil tersebut dengan penuh kekesalan pada suaminya.


Braak!


Pintu mobil ditutup dengan kerasnya oleh Miyuki. Seolah menunjukkan betapa besarnya kekesalannya pada Tristan.


"Awas aja nanti, aku gak akan mau bicara sama kamu meskipun kamu memohon padaku," ucap Miyuki dengan kesalnya sambil berjalan terburu-buru.


...----------------...


Di tengah kegiatan ospek, Miyuki merasa kelelahan. Keringat tak henti-hentinya mengalir di wajah dan tubuhnya, hingga dia benar-benar merasa sangat gerah dan lengket.


Namun, keringat yang menetes itu menambah keseksian pada diri Miyuki. Semua mata tidak bosan memandangnya. Mereka semua mencuri pandang pada Miyuki.


"Sudah ku bilang jika dia tidak usah ikut ospek," ucap Max yang pada saat itu sedang berbicara pada Lucas.


"Kamu kan tau sendiri jika Yuki tidak mau mereka semua tau siapa sebenarnya dirinya di kampus ini," ucap Lucas menanggapi perkataan Max.

__ADS_1


"Lihat mereka semua. Mereka menatap Yuki seperti orang kelaparan saja," tukas Max yang tidak suka jika saudara sepupunya selalu ditatap penuh minat oleh laki-laki.


"Sudahlah Max. Kita hanya bisa menjaganya saja. Biar Yuki yang menentukan bagaimana dia menjalani hidupnya," tutur Lucas sambil menepuk kecil pundak Max.


"Kamu tau kan jika semua keluarga menyuruhku untuk menjaganya dengan posesif?" tanya Max pada Lucas yang berniat mengingatkannya.


"Itu dulu Max, sebelum Yuki menikah. Sekarang dia menikah, biarkan suaminya yang menjaganya," tutur Lucas menyakinkan Max agar tidak terlalu khawatir pada Miyuki yang sudah dianggapnya seperti adik kandung sendiri.


"Menikah," ucap Max sambil terkekeh.


"Kenapa Max?" tanya Lucas sambil mengernyitkan dahinya.


"Sudahlah. Nanti juga kamu akan tau jika sudah saatnya nanti. Yang terpenting kita harus menjaga Yuki karena dia sangat bodoh untuk urusan laki-laki," tukas Max sambil menepuk lirih pundak Lucas.


Bruuuk!


Suara itu mengalihkan perhatian Max dan Lucas ketika semuanya berlarian menuju tempat Miyuki.


"Yuki!" seru Max sambil berlari ke arah Miyuki.


Lucas pun mengikuti Max berlari ke arah Miyuki berada. Dia membantu Max menyingkirkan beberapa orang yang berkerumun agar memberi mereka jalan.


"Yuki!" seru Max sambil meraih tubuh Yuki yang sedang ditolong oleh seorang laki-laki.


Semua pasang mata melihat aksi Max yang seolah sedang menolong kekasihnya. Mereka saling bertanya tentang Max dan Miyuki. Sayangnya, tidak ada yang tahu hubungan yang sebenarnya antara mereka berdua.


Banyak yang mengenal mereka karena sekolah mereka yang sama sewaktu SMP dan SMA. Sayangnya mereka hanya tahu kedekatan mereka bertiga tanpa tahu hubungan mereka sebenarnya.


Mereka belum tahu pernikahan antara Miyuki dengan Tristan. Mereka tidak mengundang teman-teman mereka. Dan hanya relasi bisnis kedua orang tua mereka saja yang diundang dalam pernikahan mereka.


"Ada apa ini? Miyuki?! Dia kenapa?" tanya Raline dengan paniknya ketika melihat Miyuki berada dalam gendongan Max dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Dia pingsan Kak. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan," jawab Max sambil berjalan menuju ruang kesehatan.


Raline sangat panik. Dia menghubungi suaminya, Maminya dan tentu saja Tristan yang sekarang berstatus suami Miyuki.


Tentu saja mereka semua menjadi panik. Hari ini, awal yang buruk untuk Miyuki berada di kampus tersebut. Dia menyita perhatian banyak orang dengan aksi pingsannya di tengah kegiatan ospek yang sedang berlangsung.


...----------------...


Di sebuah ruangan kantor, Tristan sedang sibuk dengan beberapa berkas yang menyita perhatiannya saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba ada suara dering ponsel yang mengalihkan perhatiannya. Diambilnya ponselnya itu dan dilihatnya nama si penelepon pada layar ponselnya.


"Raline?" celetuk Tristan ketika melihat nama wanita yang selama ini ada dihatinya.


Segera dia menekan tombol hijau untuk menjawab telepon tersebut.


"Halo Raline, tumben kamu masih ingat sama aku?" ucap Tristan sambil terkekeh.


Tristan, istrimu pingsan. Sekarang Miyuki sedang berada di ruang kesehatan. Cepatlah ke sini sekarang juga, Raline berkata dari seberang sana dengan suara yang terdengar sangat panik.


Seketika Tristan mematikan telepon tersebut tanpa mengatakan apa pun pada Raline. Tanpa disadarinya, dia sangat khawatir pada istri kecilnya itu.


Dengan kecepatan tinggi Tristan mengemudikan mobilnya menuju kampus Miyuki. Untung saja Raline menjadi dosen di sana. Jika tidak, sudah bisa dipastikan dia tidak akan mengetahui kabar tentang Miyuki saat itu juga.


Setibanya di kampus tersebut, Tristan segera memarkirkan mobilnya dan berlari menuju ruang kesehatan.


Sayangnya, dia melihat istrinya sedang digendong oleh laki-laki yang tidak asing menurutnya.


"Sialan! Beraninya dia menyentuh istriku!" ucap Tristan dengan menahan emosinya.


Segera dia berjalan cepat menghampiri mereka. Terlihat jelas oleh Tristan wajah khawatir Max yang sedang menggendong Miyuki keluar dari ruang kesehatan dengan didampingi oleh seorang laki-laki yang juga tidak asing di mata Tristan.


"Ada apa ini?" tanya Tristan yang baru saja berada di depan mereka.


Terpaksa Max menghentikan langkahnya. Kemudian dia menatap tajam ke arah Tristan sambil berkata,


"Minggir, Yuki harus mendapatkan pertolongan sekarang juga."


"Mimi kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Tristan yang seolah memaksa untuk mencari tahu.


"Dia pingsan dan dia sangat lemah. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Mami menyuruh kita untuk membawanya ke sana," jawab Max sambil berusaha melewati Tristan, tapi tetap saja dihalau olehnya, sehingga Max tidak bisa melewatinya.


"Berikan Mimi padaku. Aku akan mengantarnya ke rumah sakit sekarang juga," ucap Tristan dengan tegas sambil berusaha merampas tubuh Miyuki dari gendongan Max.


"Ck, tidak usah berpura-pura khawatir. Biar aku saja yang membawanya," ucap Max sambil mempertahankan tubuh Miyuki dalam gendongannya.


"Sialan kamu! Aku suaminya, aku berhak membawanya!" ucap Tristan sambil menekankan setiap katanya dan berusaha sangat keras untuk mengambil alih tubuh Miyuki dari gendongan Max.


"Max!" seru Lucas sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat Max menahan Miyuki dalam gendongannya.


Akhirnya Max memberikan Miyuki pada Tristan, karena dia sadar jika emosinya kali ini membuatnya egois mempertahankan Miyuki untuk bersamanya.

__ADS_1


Tristan segera membawa Miyuki yang berada dalam gendongannya menuju mobilnya untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"Mimi, kamu harus kuat. Bertahanlah," ucap Tristan yang terlihat panik dan khawatir sebelum melajukan mobilnya.


__ADS_2