
Setelah beberapa lama, Miyuki keluar dari dalam kamar mandi dengan keringatnya yang bercucuran. Melihat istrinya seperti itu, Tristan segera berjalan ke arahnya dan menggendong Miyuki untuk didudukkan di sofa.
Miyuki sudah tidak bisa memberontak lagi. Tubuhnya sudah lemas dan dia kehilangan banyak tenaga untuk berjuang di toilet tadi.
“Kamu sedikit pucat. Dan sepertinya kamu lemas sekali. Lebih baik aku panggilkan dokter saja ya,” ucap Tristan sambil mengusap peluh di dahi dan pelipis istrinya.
Miyuki mengangguk lemah. Dia sudah malas bergerak karena tidak ada tenaga yang tersisa saat ini. Dia hanya memejamkan matanya dan berharap agar sakit perutnya tidak kambuh kembali.
Tristan memindahkan Miyuki ke ranjangnya ketika melihat mata istrinya terpejam. Perlahan dia memindahkan tubuh istrinya di atas ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dadanya. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk menghubungi dokter keluarganya.
Pas sekali saat dia sudah selesai menghubungi dokter tersebut, Bik Saroh datang dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur, segelas minuman hangat dan segelas air putih.
“Tuan, ini buburnya sudah siap,” ucap Bik Saroh sambil memperlihatkan apa yang dibawanya pada Tristan.
Tristan mengambil alih nampan tersebut sambil berkata,
“Biar saya saja yang bawa Bik.”
Bik Saroh pun memberikan nampan tersebut pada Tristan dan meminta ijin untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Di dalam kamar, Tristan melihat istri cantiknya itu sedan memejamkan matanya. Entahlah Tristan tidak tahu, Miyuki sedang tidur atau hanya memejamkan matanya saja. Dia tersenyum melihat wajah damai istrinya itu sambil berkata dalam hatinya,
Kita tidak saling menyukai, tapi kita terikat dalam ikatan pernikahan. Dan sekarang kamu selalu menggodaku dengan tubuhmu itu.
Dia meletakkan nampan tersebut di atas meja yang berada di dekat ranjangnya. Kemudian dia duduk di tepi ranjang dan menggerak-gerakkan lengan Miyuki sambil berkata,
“Mimi, bangun. Makan dulu buburnya, setelah ini ada dokter yang datang untuk memeriksamu.”
Miyuki membuka matanya. Dia berusaha untuk duduk, tapi terlihat sangat lemah sehingga Tristan membantunya untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
“Ini buburnya dimakan dulu,” ucap Tristan sambil memperlihatkan semangkuk bubur di hadapan Miyuki.
__ADS_1
Miyuki menggeleng lemah. Dia tidak mau memakan apa pun. Yang dia mau hanyalah tidak lagi merasakan sakit pada perutnya.
Tristan tahu jika Miyuki saat ini lemah dan tidak ingin melakukan apa pun. Tristan mengaduk-aduk buburnya dan menyendok sedikit bubur tersebut, kemudian dia mengarahkan sendok yang berisi bubur di depan mulut Miyuki.
“Buka mulutnya,” ucap Tristan yang masih berusaha memasukkan sendok tersebut pada mulut Miyuki.
Miyuki masih saja keras kepala. Dia tidak ingin memakannya, sehingga dia enggan untuk membuka mulutnya.
“Buka mulutnya Mimi… Apa mau dicium dulu biar mulutnya bisa terbuka?” ucap Tristan yang bermaksud untuk mengancam istrinya.
Dengan terpaksa Miyuki membuka mulutnya. Dengan tatapan tajamnya pada Tristan, dia mengunyah sebentar bubur tersebut dan menelannya.
Tristan tersenyum tipis melihat tatapan tajam yang diberikan oleh istrinya padanya. Kemudian dia berkata,
“Cepat sembuh Mimi Sayang, agar kita bisa berdebat lagi.”
Sontak saja Miyuki tersedak hingga dia terbatuk mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Tristan terkekeh melihat istrinya yang tersedak karena mendengar perkataannya. Dengan tatapan membunuhnya, Miyuki menatap Tristan seolah dia mengibarkan bendera perang pada suaminya itu.
Sedikit demi sedikit bubur tersebut berhasil masuk ke dalam mulut Miyuki. Dengan telatennya Tristan menyuapi istrinya dan tentunya dengan ancaman di setiap sendoknya.
Dalam hati Tristan tertawa terbahak-bahak. Bahkan saat Miyuki sedang sakit pun, dia bisa terhibur oleh tingkah lucu istrinya itu.
Pas sekali disuapan terakhirnya, dokter keluarga yang dihubungi oleh Tristan sudah datang. Dokter tersebut memeriksa keadaan Miyuki dan memberikannya infus serta obat untuk segera diminumnya.
Mendengar kata obat yang diucapkan oleh dokter tersebut, saat itu juga Miyuki menoleh ke arah Tristan karena teringat akan cara Tristan tadi yang memberikannya obat.
Apa aku harus meminumnya dengan cara itu? Miyuki berkata dalam hatinya sambil memandang Tristan dan menggelengkan kepalanya.
Tristan merasa ada yang sedang melihatnya ketika dia sedang berbicara dengan dokter tersebut. Kemudian dia menoleh dan benar saja dia melihat istrinya yang sedang memandangnya dan menggelengkan kepala padanya.
Bibir Tristan melengkung ke atas ketika melihat istrinya memandangnya, tanpa dia ketahui jika istrinya itu tidak mau meminum obat dengan menggunakan caranya tadi.
__ADS_1
“Jika cairan infusnya sudah habis, silahkan hubungi saya. Akan saya usahakan untuk datang secepatnya,” ucap dokter tersebut di hadapan Tristan.
“Baik dok,” tukas Tristan sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian dia mengantar dokter tersebut keluar dari kamarnya. Sedangkan Miyuki menatap cairan infus yang tergantung pada tiang penyangga dan dia melihat selang infus dengan jarum yang menancap di pergelangan tangannya.
“Huuufffttt… Bagaimana cara mandinya kalau begini? Boro-boro mandi, cebok aja gak tau gimana caranya. Mana males berdiri lagi. Apalagi jalan, males banget. Coba ada Kak Ken, pasti aku digendong sama dia kalau sedang sakit,” gerutu Miyuki sambil melihat jarum infusnya lebih dekat.
“Sekarang kamu sudah punya suami, jadi sudah tidak perlu meminta bantuan dari kakakmu itu.”
Tiba-tiba terdengar suara Tristan dari arah pintu. Dia tidak suka mendengar nama Kenshin disebut orang terdekatnya. Dan sekarang, Miyuki sudah menjadi istrinya. Dia tidak suka istrinya itu lebih mengagung-agungkan Kenshin dibandingkan dengan dirinya.
“Suami lagi… suami lagi. Bosen dengarnya. Jika memang aku benar-benar memiliki suami dan kita saling mencintai, mungkin saja hidupku sekarang ini sangat indah dan bahagia. Sayangnya kita hanya-“
“Minumlah obatmu agar cepat sembuh,” sahut Tristan menyela ucapan istrinya.
Dia dan Miyuki memang menikah dengan suatu perjanjian kontrak yang mereka sepakati. Tapi entah mengapa Tristan tidak suka jika status kontrak mereka diungkit lagi oleh Miyuki, seolah mengingatkannya akan status hubungan mereka yang tidak boleh melanggar perjanjian mereka.
Miyuki menutup mulutnya menggunakan tangannya. Dia takut jika Tristan kembali meminumkan obat padanya dengan cara yang seperti sebelumnya.
Tristan terkekeh melihat tingkah istrinya yang sungguh menggemaskan baginya. Dengan segera dia mengambil obat yang diberikan oleh dokter tadi dan membawanya mendekat ke arah Miyuki yang terlihat sangat ketakutan.
“Ayo Mimi… minum obatnya agar cepat sembuh,” ucap Tristan sambil terkekeh dan semakin mendekat pada Miyuki.
Miyuki menggelengkan kepalanya sambil mempererat tangannya untuk menutupi mulutnya. Dia tidak bisa bergerak karena merasa sudah terpojok dan terkunci.
“Apa kamu sengaja tidak mau meminum obat agar bisa tetap aku rawat seperti sekarang?” tanya Tristan sambil menyeringai menatap intens mata istrinya.
“Enak saja, bukan karena i-“
“Mmmmppphhh.”
__ADS_1
Bibir Miyuki sudah terbungkam oleh bibir Tristan sehingga ucapannya tidak selesai dan dia hanya bisa membiarkan Tristan kembali memasukkan obat itu ke dalam mulutnya melalui ciuman Tristan padanya.
Dasar laki-laki yang selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan. Awas saja, akan aku blas nanti! Miyuki mengomel dalam hatinya ketika ciuman mereka masih berlangsung.