Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 41 Berita bahagia


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Raline? Apa yang terjadi sebenarnya?" 


Tiba-tiba saja Kenshin sudah berada di sana dengan terengah-engah bertanya pada Max dan Lucas yang ada di dekatnya.


Tristan yang tidak jauh dari mereka menoleh ke arah Kenshin. Seperti biasa, dia tidak menyapa ataupun bertanya padanya.


"Mi, bagaimana keadaan Raline?" tanya Kenshin ketika Kiki berjalan ke arah mereka.


Kiki dan dokter Andini tersenyum. Kiki melihat Tristan dan Kenshin secara bergantian. Kemudian dia berkata,


"Raline dan Miyuki baik-baik saja. Mereka akan menjadi seorang ibu."


Mata Tristan dan Kenshin terbelalak mendengar berita yang sangat mengejutkan hati mereka.


Kenshin berhambur memeluk Kiki. Matanya berkaca-kaca, terlihat sekali dia menahan air matanya.


"Akhirnya Ken punya anak Mi," ucap Kenshin dengan suara yang bergetar.


Sedangkan Tristan, dia terperangah mendengar berita kehamilan istrinya. Saat ini dia tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya tercekat dan lidahnya kelu. Hanya matanya yang terlihat berkaca-kaca saat ini.


"Kak Tristan… Kak… Kakak baik-baik saja?" tanya Lucas sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan tepat di depan wajah Tristan.


Seketika Tristan tersadar. Dia berjalan cepat menuju bed Miyuki yang matanya masih terpejam.


Begitu juga Kenshin, dia segera mendekati Raline yang juga masih memejamkan matanya.


"Sayang, terima kasih… terima kasih sudah mengandung anak kita," ucap Kenshin yang menciumi wajah istrinya.


Hal yang sama dilakukan oleh Tristan. Dia mencium berulang kali tangan istrinya dan berkata,


"Terima kasih Sayang, terima kasih."


Tristan tak henti-hentinya mencium tangan istrinya dan berterima kasih padanya. Setelah itu dia mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.


Terbukti sekali perasaannya sampai pada hati istrinya. Mata Miyuki perlahan terbuka. Bahkan air matanya jatuh dengan sendirinya ketika matanya berkedip.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Tristan dengan senyum bahagianya pada istrinya.


Miyuki hanya mengedipkan matanya sehingga air matanya kembali menetes di pipinya.


Kiki dan dokter Andini segera mendekati Miyuki yang sudah tersadar. Dokter Andini memeriksa kembali keadaan Miyuki.


"Mi, Raline sudah sadar," ucap Kenshin dari bed sebelah Miyuki yang ditempati oleh Raline saat ini.


Kiki pun segera berpindah tempat. Kiki memeriksa keadaan Raline bergantian dengan dokter Andini yang masih memeriksa Miyuki.


"Semuanya sehat. Ibu dan janinnya tidak ada masalah. Hanya saja ibunya harus tetap waspada dan hati-hati untuk tetap menjaga kandungannya," tutur dokter Vina yang berdiri di tengah-tengah antara bed Raline dan Miyuki.


Miyuki menoleh ke arah Raline. Demikian pula dengan Raline. Mereka saling menatap dan mata mereka sama-sama berkaca-kaca. Bahkan bibir mereka bergetar menahan tangis kebahagiaan.


"Selamat ya dokter Kiki. Sekalinya dapat cucu, langsung barengan gini," canda dokter Andini sambil terkekeh.


"Iya dok. Pasti keluarga besar kami sangat senang mendengarnya," ucap Kiki menanggapi candaan dokter Andini.


Tidak lama kemudian datanglah Aydin bersamaan dengan Raditya. Mereka berdua mengucap syukur atas anugerah yang diberikan oleh Allah pada keluarga mereka.


Setelah mereka diperiksa kembali oleh dokter Andini, Raline dan Miyuki diperbolehkan pulang dengan berbekal beberapa vitamin yang diresepkan oleh dokter Andini.


Bertambah hari Miyuki bertambah manja pada suaminya. Tristan memang merasa sangat lelah menuruti kemauan istrinya yang berkedok ngidam. Tapi, Tristan tidak pernah keberatan untuk mengabulkan semua permintaan istrinya. 


Bagi Tristan, kehamilan Miyuki merupakan hal yang paling menggembirakan baginya. Dia rela meninggalkan rapat penting dengan kliennya hanya demi menuruti keinginan istrinya yang menyuruhnya untuk memasakkan nasi goreng untuknya.


"Sayang… Kak… Kak Tristan Sayang… bangun dong… dedeknya laper nih…," rengek Miyuki sambil menggerak-gerakkan badan suaminya yang sedang tidur.


"Apa sih Sayang?" tanya Tristan dengan suara seraknya sambil mengusap-usap matanya.


"Aku lapar," rengek Miyuki dengan matanya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Tristan menghela nafasnya mendengar rengekan dari istrinya yang menginginkan sesuatu.


Dia duduk dan memasang senyum semanis mungkin seraya berkata,


"Sayangnya Papa mau apa?" 


Seketika senyum Miyuki mengembang. Dengan mata yang berbinar dia berkata,


"Dedek mau makan tenderloin steak yang medium ya."


Sontak saja mata Tristan terbelalak dan mulutnya menganga mendengar keinginan istrinya yang sangat tidak masuk akal.


Tristan melihat ke arah jam yang menggantung di dinding kamarnya. Kemudian dia berkata,


"Sayang, lihat deh. Sudah jam dua pagi. Mana ada restoran yang buka?" 


Seketika senyum Miyuki memudar. Matanya yang berkaca-kaca kini sudah meneteskan air matanya.


Sontak saja Tristan meraih tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan istrinya yang kini malah menangis dengan sesenggukan di dalam pelukannya.


"Sayang… maaf. Aku akan memenuhi apa yang kamu inginkan," bujuk Tristan sambil mengusap lembut punggung istrinya.


Namun, tangis Miyuki belum reda. Dia masih saja sesenggukan dalam pelukan suaminya.


"Sebentar ya, biar aku cari infonya dulu," ucap Tristan seraya melepaskan dengan hati-hati pelukannya.


Segera dia keluar dari kamar dengan membawa ponselnya. Saat ini dia sibuk mencari cara agar bisa memenuhi permintaan istrinya.


Tiba-tiba bibir Tristan melengkung ke atas. Dia mendapatkan jawaban yang mudah, hanya saja sedari tadi tidak terpikirkan olehnya.


Segeralah dia bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia berkata,


"Sayang, ikut yuk. Kita ke restoran saja sekarang. Aku yang akan memasak spesial untuk istriku tercinta."


Mendengar hal itu, seketika mata Miyuki kembali berbinar. Bahkan senyumnya pun kembali mengembang. Dengan sangat antusias dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,


Tristan tersenyum melihat istrinya yang sangat mudah sekali menangis dan tertawa.


Di sinilah mereka sekarang berada. Mereka berada di dapur restoran western milik Tristan yang terinspirasi oleh restoran milik Aydin.


"Kamu duduk di sini aja ya Sayang," ucap Tristan sambil mendudukkan istrinya di atas working table.


Tristan begitu lincah menyiapkan semua bahan yang dibutuhkannya. Dia memang tidak pandai memasak, tapi jika Miyuki yang meminta, Tristan berusaha memasaknya meskipun harus terlebih dahulu membaca resep dan melihat cara pembuatannya.


Namun jika hanya steak, dia bisa membuatnya. Karena dia pernah membantu chef restorannya ketika restoran sedang banyak tamu.


Merasa bosan, Miyuki turun dari duduknya dan dia memeluk suaminya dari belakang.


Merasa istrinya sedang bermanja padanya, Tristan membalikkan badannya untuk menghadap istrinya.


"Kenapa hmmm?" tanya Tristan sambil tersenyum dan mencubit gemas hidung istrinya.


"Bosen…," rengek Miyuki dengan suara manjanya.


Melihat ekspresi istrinya itu, Tristan merasa gemas pada istrinya yang sedang manja karena kehamilannya.


Seketika bibir Tristan meraup bibir istrinya. Ciuman itu disambut oleh Miyiki. Mereka saling berbalas ciuman hingga ciuman mereka sangat dalam dan menuntut.


Tiba-tiba tercium bau gosong yang membuat mereka berdua menghentikan ciuman mereka.


"Ya… gosong deh. Padahal kan aku maunya yang medium," ucap Miyuki dengan wajah sedihnya.


Tristan merasa bersalah pada istrinya. Akhirnya dia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Sayang, aku bisa saja membuatnya lagi. Tapi aku tidak menjamin jika akan berhasil apabila ada kamu di sekitarku. Bagaimana kalau kita ke hotel Papi saja?"


"Kenapa tidak dari tadi saja? Ayo berangkat," sahut Miyuki sambil menarik tangan suaminya untuk segera keluar dari dapur tersebut.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada satpam penjaga restoran, mobil Tristan membelah jalanan malam yang sepi menuju hotel milik Aydin.


Sesampainya di sana, mereka segera memesan apa yang diinginkan oleh Miyuki.


"Sayang, aku kok lelah ya? Aku juga merasa ngantuk. Kita tunggu di kamar saja ya?" rengek Miyuki yang memang terlihat mengantuk.


Tristan tersenyum mendengar keinginan istrinya yang selalu berubah-ubah. Tanpa berkata-kata, dia segera mengangkat tubuh istrinya dengan menggendongnya ala bridal style menuju resepsionis.


"Cepat bukakan pintu kamar kami yang biasanya," ucap Tristan pada resepsionis yang sedang berjaga.


Dengan cepatnya resepsionis tersebut membawa kunci kamar yang biasanya ditempati oleh Miyuki pada bellboy agar mengantarkan mereka ke kamar dan membukakan pintu kamar mereka.


"Tolong makanan kami diantar saja ke kamar," imbuh Tristan pada resepsionis tersebut.


Setelah beberapa saat mereka berada di dalam kamar, makanan mereka datang. Dengan lahapnya Miyuki memakannya. 


Perutnya pun kini sudah kenyang. Miyuki kini meminta suaminya agar memeluknya dan menidurkannya.


Setelah beberapa bulan berlalu, kini saatnya Miyuki melakukan operasi. Dia memang disarankan untuk operasi karena anak yang ada dalam kandungannya adalah bayi kembar.


Berbeda dengan Raline. Dia hanya mengandung seorang anak. Tapi, anehnya dia pun merasakan kontraksi pada hari itu juga.


Kini Miyuki sedang berada di ruang operasi. Raline pun demikian. Dia sedang berjuang untuk melahirkan buah hatinya dan Kenshin.


Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi yang menggema di ruang operasi Miyuki. Dua suara tangis bayi kembar itu membuat seisi ruangan tersenyum bahagia. Terlebih untuk mereka yang sedang menunggu di luar ruang operasi tersebut.


Setelah beberapa saat, dokter keluar dan memberitahukan pada Tristan yang sedang menunggu di luar bersama dengan keluarga besarnya.


"Selamat Pak, anak Bapak kembar, laki-laki dan perempuan," ucap dokter Andini dengan memperlihatkan wajah bahagianya.


Setelah itu terdengar suara bayi dari ruang bersalin. Dokter dari ruangan tersebut keluar setelah melakukan pekerjaannya di dalam ruangan itu untuk menemui Kenshin yang menunggu bersama Tristan dan keluarga besarnya.


"Selamat Pak, putra Bapak lahir dengan selamat," ucap dokter tersebut sambil tersenyum bahagia.


Mereka semua bahagia menyambut kedatangan anggota keluarga baru mereka.


"Akan kalian beri nama siapa anak-anak kalian?" tanya Aydin yang ingin mengetahui nama cucu-cucunya.


Kenshin memegang tangan Raline dan berkata,


"Kami memberinya nama Bara."


Miyuki dan Tristan saling memandang, kemudian mereka berdua berkata secara bersamaan,


"Revan dan Revana."


Aydin dan Kiki tersenyum bahagia melihat keluarga utuh mereka dengan hadirnya anggota baru dalam keluarga besar mereka.


"Semoga cucu-cucu kita menjadi orang hebat ya Pi," tukas Kiki meminta dukungan suaminya.


Tidak hanya Aydin, semua yang ada di sana menyahuti bersamaan harapan Kiki pada Bara, Revan dan Revana. 


"Amin…."


...----------------TAMAT----------------...


Mau tahu cerita tentang kehidupan dan percintaan Max?


Temukan ceritanya di novel She_Na selanjutnya yang berjudul:


'Mas Badut, I Love You!'


Hai... Hai semuanya, She_Na ucapkan terima kasih sudah membaca karya-karyaku.


Baca karya She_Na yang lain ya🥰


Jangan lupa follow akun author She_Na untuk mengetahui karya-karya baru She_Na.

__ADS_1


Big love buat kalian semua😘💜


__ADS_2