
Tristan dan Max kembali beradu pandang setelah mereka mendengar keluhan dari Miyuki. Mereka saling menyalahkan satu sama lainnya atas kebisingan yang mereka buat.
Sedangkan Miyuki, matanya perlahan kembali terpejam seolah tidak melihat kehadiran mereka berdua di dekatnya.
“Lebih baik kamu tinggalkan tempat ini, karena ada aku, suaminya yang akan menjaganya di sini,” ucap Tristan lirih dengan menegaskan di setiap katanya.
“Jangan kamu sebut-sebut lagi tentang suami jika memang kamu tidak peduli padanya. Lepaskan dia, biarkan dia bersama dengan laki-laki yang mencintainya,” ucap Max lirih dengan menekankan setiap katanya.
Sontak saja Tristan bertambah emosi ketika mendengar ucapan Max yang sangat mengesalkan hatinya. Dengan emosi yang sedikit ditahannya, Tristan berjalan memutari bed yang ditiduri oleh Miyuki dan menarik lengan Max dengan paksa keluar dari ruangan tersebut.
Max memberontak berusaha untuk melepaskan tangan Tristan dari lengannya. Sayangnya tenaga Max tidak sepadan dengan emosi Tristan saat ini, sehingga Max tidak bisa melepaskan diri dari Tristan.
Miyuki hanya masa bodoh melihat Tristan yang terlihat sangat marah pada Max. Dia malah dengan tenangnya kembali memejamkan matanya seolah tidak khawatir akan terjadi sesuatu dengan mereka berdua.
Bukannya Miyuki tidak khawatir pada Max, hanya saja dia percaya jika Max bisa menjaga dirinya. Bukan karena hanya modal kepercayaannya saja pada Max, Miyuki sendiri tahu kehebatan bela diri Max yang memang wajib diikuti oleh keluarga mereka.
Tristan segera menghempaskan lengan Max ketika mereka sudah berada di luar ruangan. Ditatapnya Max penuh emosi dan kemarahannya seolah meluap-luap untuk melampiaskan pada Max.
“Apa?” tanya Max seolah menantang Tristan.
Tristan yang sudah diselimuti emosi, mengepalkan tangannya dan giginya bergemelatuk menahan sekuat tenaga emosinya. Sedangkan Max hanya menyeringai meremehkan Tristan yang tidak berani menyerangnya.
“Kenapa kalian ada di luar?”
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tidak asing berjalan mendekat ke arah mereka.
Sontak saja mereka berdua menoleh ke arah suara tersebut dan mendapati Kenshin serta Raline dan juga Lucas yang berjalan ke arah mereka.
“Beruntung kita sedang di rumah sakit. Jika tidak, pasti sudah aku bikin babak belur kamu sekarang,” ucap Tristan lirih sambil mengeratkan gigi-giginya ketika berbicara.
Max hanya tersenyum sinis ketika Tristan mengatakan itu padanya. Dia tidak gentar sedikit pun dengan ancaman yang diberikan oleh Tristan padanya. Jelas saja dia tidak gentar, dia seorang cucu dari Aydin Permana yang sudah dikenal banyak orang karena bisnisnya.
Aydin memang mengharuskan anak dan cucunya agar bisa olahraga bela diri untuk bekal diri mereka sendiri.
Sejak dulu Aydin takut jika anak dan cucunya dimanfaatkan oleh orang lain menggunakan keselamatan mereka untuk kepentingan mereka. Contohnya penculikan yang hanya bertujuan untuk meminta uang tebusan pada keluarganya tanpa menjamin keselamatan mereka ketika diculik.
Dan tampaknya Tristan tidak mengetahui kehebatan Max dalam bela diri. Sehingga dia meremehkan Max dan menantangnya. Emosi Tristan itu hanya diterima dengan tenang oleh Max karena dia percaya diri dengan kekuatan dan keahliannya, tanpa meladeni emosi Tristan dengan emosinya juga.
__ADS_1
“Apa Miyuki sudah sadar?” tanya Raline pada Max dan juga Tristan.
“Sudah,” ucap Tristan sambil menatap ke arah Raline.
“Sudah Kak,” ucap Max bersamaan dengan Tristan.
Seketika Tristan menatap tajam pada Max. Dan Max hanya menyeringai menghadapi Tristan yang seolah mengeluarkan laser dari matanya.
“Ayo masuk, kenapa kalian berdua ada di luar? Kasihan Miyuki sendirian di dalam,” sahut Kenshin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Raline dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan Miyuki.
Lucas yang mengerti arti tatapan dari Tristan dan Max, dengan tanggapnya dia menarik tangan Max dan mengajaknya masuk ke ruangan Miyuki mengikuti Kenshin dan Raline di belakangnya.
Tangan Tristan yang terkepal, kini semakin kuat melihat Kenshin memeluk dengan posesif pinggang Raline. Terlebih lagi melihat mereka semua masuk ke dalam ruangan Miyuki yang notabene nya adalah istrinya.
Dengan langkah cepatnya, dia masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menyelamatkan harga dirinya.
Miyuki adalah istrinya dan dia tidak mau ada seorang laki-laki manapun yang mendekati ataupun menyentuh miliknya. Siapapun itu, tak terkecuali Kenshin yang merupakan kakak kandung Miyuki dan Max yang merupakan sepupu Miyuki.
Dengan cepatnya Tristan kini sudah berada di dekat Miyuki. Dia duduk di kursi dekat bed Miyuki dan menggenggam tangannya seperti tidak mau kehilangannya.
Tentu saja hal itu tidak luput dari semua orang yang ada dalam ruangan tersebut. Terlebih Max yang tersenyum tipis menatap tajam ke arah Tristan seolah marah dengan apa yang dilakukan oleh Tristan saat ini.
Tok… tok… tok…
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut diketuk oleh seseorang tanpa mengeluarkan suaranya. Semua orang di dalam ruangan itu saling menatap seolah bertanya tentang siapa yang mengetuk pintu tersebut.
Tanpa menunggu aba-aba, Raline berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut. Dahi Raline mengernyit ketika melihat seseorang yang berpakaian rapi dan tidak dikenalnya.
Melihat tatapan penuh tanya dari Raline, orang yang berdiri di depan pintu tersebut berkata,
“Saya sekretaris Pak Tristan. Saya ke sini untuk mengantarkan berkas-berkas ini pada Pak Tristan sesuai dengan perintahnya.”
Seketika Raline tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti apa yang diucapkan orang yang dihadapannya.
“Masuklah!” seru Tristan dari tempatnya saat ini tanpa mau melepaskan tangan istrinya.
Dia mendengar suara dari sekretarisnya, tapi dia tidak mau berpindah dari tempatnya karena takut jika Max menempati tempat duduknya saat ini.
__ADS_1
Raline mempersilahkan orang tersebut masuk ke dalam ruangan itu dan menutup kembali pintu ruangan tersebut.
“Ini Pak, semua berkas yang Bapak minta tadi,” ucap orang tersebut sambil menyerahkan tumpukan berkas pada Tristan.
“Letakkan di meja itu,” ucap Tristan sambil menunjuk meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Orang tersebut pun melakukan perintah Tristan, dia meletakkan tumpukan berkas yang dibawanya tadi di atas meja yang ditunjuk oleh Tristan. Kemudian dia berkata,
“Apa ada lagi yang harus saya kerjakan Pak?”
“Tidak usah. Cepatlah kembali ke kantor dan laporkan setiap hal padaku,” jawab Tristan sambil meletakkan tangan Miyuki yang digenggamnya pada pipinya secara tidak sadar.
“Baik Pak, saya permisi dulu,” ucap orang tersebut yang menjabat sebagai sekretaris Tristan selama beberapa tahun.
Setelah itu orang tersebut keluar dari ruangan itu setelah berpamitan pada semua orang yang ada di sana.
“Sekretaris kamu laki-laki Tris?” tanya Kenshin dengan gaya menyelidik.
“Iya, kenapa?” tanya Tristan kembali pada Kenshin setelah menjawab pertanyaannya.
“Aneh saja, aku kira laki-laki sepertimu akan lebih suka memiliki sekretaris perempuan,” jawab Kenshin sambil terkekeh.
“Aku tipe laki-laki setia. Jadi aku tidak ingin istriku merasa tidak aman dan curiga padaku jika aku bekerja,” ucap Tristan sambil menyeringai berniat mengejek Kenshin, kemudian dia memandang Raline setelah memandang Kenshin.
“Wah beruntung sekali adikku mendapatkan suami yang sepemikiran denganku. Bahkan semua pekerja yang ada di sekelilingku harus laki-laki. Benar kan Sayang,” tukas Kenshin menanggapi ucapan Tristan dengan bertanya pada Raline untuk meminta dukungannya.
Raline tersenyum manis pada suaminya dan menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Tristan sangat kesal dengan sikap Kenshin pada istrinya yang membuatnya panas karena cemburu.
“Aku lebih tua darimu. Bukankah kamu harus memanggilku dengan embel-embel Kakak untuk menghormati yang lebih tua darimu? Bahkan aku seumuran dengan Raline, jika kamu lupa,” sahut Tristan tidak terima.
“Aku kakak dari istrimu, apa kamu melupakan fakta penting itu?” ucap Kenshin sambil terkekeh.
Tristan semakin bertambah emosi, dia tidak terima dikalahkan oleh Kenshin. Tapi dia sadar jika dia tidak bisa meneruskan perdebatan mereka itu dihadapan Raline. Dia tidak ingin Raline menganggap buruk tentang dirinya.
Miyuki hanya memejamkan matanya sambil mendengarkan apa yang terjadi. Dia benar-benar tidak menyukai Tristan. Dengan tepatnya dia menolak menyukai Tristan karena perjanjian yang mereka buat.
Tapi nyatanya dia ingin mengetahui apa yang dilakukan suaminya itu untuknya ketika dia sedang sakit.
__ADS_1
Lalu, apa yang sebenarnya dirasakan oleh Miyuki dan Tristan?