
“Bagaimana? Apa kita menyusul ke sana?” tanya Tristan pada Miyuki yang sedang memeriksa ponselnya.
“Kita ke sana saja sekarang. mereka masih berada di sana menunggu kita,” jawab Miyuki sambil jarinya bergerak lincah menekan-nekan tombol pada layar ponselnya.
Dengan segera Tristan beranjak turun dari ranjangnya dan meninggalkan Miyuki yang masih sibuk dengan ponselnya.
Tristan menghentikan langkahnya setelah dua langkah kakinya bergerak. Kemudian dia memutar badannya untuk menghadap ke arah istrinya dan berkata,
“Sayang, kita mandi bersama yuk.”
Miyuki mengalihkan perhatiannya dari ponselnya menuju suaminya. seketika matanya terbelalak melihat pemandangan yang semalam telah disaksikannya.
“Oh no… apa itu?” tanya Miyuki tanpa berkedip melihat ke arah milik suaminya dan menunjuknya.
Sontak saja Tristan mengikuti arah pandang istrinya dan dengan refleknya dia menutup miliknya menggunakan kedua tangannya.
Namun, kejahilan Tristan kini menuntunnya untuk menjahili istrinya. Dia berjalan maju untuk mendekati istrinya.
Seketika Miyuki memandang aneh pada suaminya yang berjalan padanya. Setelah suaminya tepat di hadapannya, dia berkata,
“Itu apa? Kok bentuknya seperti belalai yang merunduk?”
Sontak saja Tristan terkekeh mendengar sebutan istrinya pada miliknya. Kemudian dia menarik tangan Miyuki dan berkata,
“Ayo kita mandi bersama dan tolong bantu aku agar belalai ini tidak merunduk lagi.”
Tangan Miyuki ditarik dengan kencangnya sehingga badannya ikut tertarik mendekati Tristan. Miyuki lupa jika dia tidak menggunakan pakaiannya. Dia berdiri dengan tenangnya dan mencoba untuk berjalan.
“Awww… sakit…,” rengek Miyuki yang sedang meringis kesakitan.
Dengan segera Tristan menggendong istrinya itu dengan gendongan ala bridal style untuk masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Seketika Miyuki sadar jika dia tidak menggunakan apa pun saat ini. Kedua tangannya menutupi wajahnya untuk menutupi rasa malunya yang tidak tertahankan pada suaminya yang sedang menggendongnya dan menatap wajahnya saat ini.
“Aku tidak menyangka jika aku merasa candu padamu. Pada kecantikanmu dan pada semua yang ada pada dirimu,” ucap Tristan seraya tersenyum melihat wajah istrinya yang ditutupi oleh kedua tangannya.
Miyuki membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Dia menatap intens manik mata suaminya seraya berkata,
“Karena hatimu tertutup oleh obsesimu untuk mendapatkan perempuan lain yang tidak mungkin kamu dapatkan.”
Senyum Tristan memudar. Seketika dia teringat akan sikapnya selama ini yang seperti orang bodoh memaksakan cintanya pada wanita yang sudah bersuami dan tidak pernah meliriknya sama sekali.
Tristan tersenyum kecut mendengar perkataan istrinya. Dia baru menyadari semua itu saat ini. Dia sangat malu pada dirinya sendiri, terlebih di hadapan istrinya.
“Sebaiknya kamu berendam saja dulu. Aku siapkan air hangatnya,” ucap Tristan sambil meletakkan istrinya duduk di closet untuk menunggu air hangat dalam bathub siap.
Miyuki melihat suaminya yang sedang membersihkan dirinya di bawah guyuran air shower. Diletakkannya tangannya di depan dadanya. Dia mencoba meraba dalam hatinya. Jantungnya yang sedari tadi berdegup sangat kencang itu membuatnya salah tingkah dan memikirkan tentang perasaannya saat ini.
Apa ini yang namanya cinta? Atau hanya rasa suka saja? apa yang sebenarnya sedang aku rasakan saat ini? Miyuki bertanya-tanya dalam hatinya.
“Emmm… Kak, apa tidak sebaiknya kita mandinya bergantian saja? Dan bukannya Kak Tristan tadi sudah mandi?” tanya Miyuki sambil memainkan air yang ada di hadapannya untuk mengalihkan rasa malunya agar tidak terlihat oleh suaminya.
Tristan tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya. Meskipun istrinya itu tidak melihat ke arahnya, dia tahu jika saat ini istrinya itu sedang malu padanya.
“Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok. Aku cuma ingin membantu kamu mandi saja,” jawab Tristan sambil terkekeh.
Tristan mengambil sabun dan mengusapnya perlahan pada kulit istrinya yang seputih susu itu. Awalnya Miyuki terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya saat ini, tapi lambat laun dia merasakan ketulusan dari suaminya.
“Oh iya Mami sama Papi. Apa mereka masih menunggu kita di sana?” tanya Miyuki yang baru saja teringat akan keluarganya saat ini.
“Sepertinya kita tidak bisa ke sana menemui mereka Sayang. Kamu saja tidak bisa jalan seperti biasanya. Apa kamu mau mereka bertanya padamu tentang jalanmu yang tidak seperti biasanya itu?” ucap Tristan sambil terkekeh menanggapi perkataan istrinya.
Miyuki menghela nafasnya dan memperlihatkan wajah kecewanya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
“Tapi aku lapar. Aku ingin makan bubur itu. Aku paling suka bubur itu.”
Masih dengan kegiatan menyabunnya, Tristan berkata seraya tangannya telaten membersihkan setiap bagian tubuh istrinya,
“Nanti akan aku suruh orang untuk membelikan bubur di warung itu.”
Mendengar perkataan dari suaminya, Miyuki kini yakin jika Tristan sudah benar-benar suka padanya. Tapi dia belum bisa memastikan rasa cinta Tristan padanya karena tiba-tiba Miyuki teringat akan surat kontrak perjanjian mereka yang akan mengakhiri pernikahan mereka setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Sebenarnya Miyuki ingin menanyakannya saat ini juga, sayangnya dia enggan bertanya pada suaminya. Dia malu jika nantinya dikatakan oleh Tristan terlalu mengharapkan cintanya. Akhirnya dia memutuskan akan menanyakan itu di lain waktu.
Setelah beberapa saat, akhirnya ritual mandi mereka sudah usai. Tubuh Miyuki kembali digendong oleh Tristan dan didudukkan di atas ranjang.
Tristan yang masih memakai bathrobe itu, kini berganti dengan pakaiannya. Dia juga mengambilkan baju ganti milik Miyuki dan dengan telatennya dia memakaikan baju istrinya.
Tidak hanya itu saja, Tristan juga memindahkan istrinya untuk duduk di depan cermin. Kali ini dia mengeringkan rambut istrinya menggunakan hair dryer. Setelah itu dia menyisir rambut istrinya dengan perlahan dan hati-hati agar istrinya tidak merasakan sakit.
Tristan tersenyum melihat apa yang dilakukannya saat ini melalui cermin yang ada di hadapannya. Dia juga mengingat hal apa saja yang dilakukannya mulai dari semalam dengan istrinya.
Mengingat hal itu dia merasa jika selama pernikahannya dia menjadi bodoh. Dia sekuat tenaga untuk menahan tidak mau menyentuh istrinya. Tetapi, Tuhan telah membuka matanya dan membuat mereka bersatu kemarin malam.
Dalam hati dia merasakan senang yang sangat melimpah, hingga dia tidak mau terpisah sedetik pun dari istrinya. Dan kini dia rela memanjakan istrinya dengan membantunya seolah istrinya itu majikan yang sangat berarti baginya.
Melihat suaminya yang tersenyum tanpa sebab, Miyuki bertanya pada suaminya,
“Kenapa Kak Tristan senyum-senyum gitu dari tadi? Apa ada hal lucu yang gak aku sadari?”
Tristan menghentikan gerakannya dan menyudahi kegiatan menyisir rambut istrinya itu. Dia meletakkan sisir tersebut pada tempatnya dan menundukkan badannya agar bisa meletakkan kepanay di ceruk leher istrinya. Dia menatap lurus ke arah cermin dan berkata,
“Aku gak nyangka bisa melakukan ini semua untukmu.”
“Apa Kak Tristan mencintaiku?”
__ADS_1
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Miyuki. Tanpa sadar dia membuat ekspresi Tristan yang tadinya tersenyum, kini menjadi serius. Semua itu bisa dilihat Miyuki dari cermin yang ada di hadapannya.