
Ckiiiiiit!
Max menekan rem mobilnya secara mendadak tatkala mobil Tristan sudah berada di depan mobilnya untuk menghadangnya.
Tristan keluar dari mobilnya dengan wajah yang penuh dengan amarah. Dia berjalan mendekati mobil Max dengan kedua tangannya yang berada di pinggangnya.
Tok… tok… tok…
Tristan mengetuk kaca jendela mobil tersebut seraya berkata,
"Keluar!"
Miyuki menoleh ke arah Max untuk meminta pendapatnya. Max pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Miyuki sebagai tanda untuk mengijinkannya keluar dari mobil tersebut.
Miyuki menghela nafasnya sebelum dia membuka pintu mobilnya. Bukannya dia tidak berani menghadapi Tristan yang kini sudah menjadi suaminya, dia hanya menyiapkan hatinya agar tidak berpengaruh pada rencana yang sudah disusun oleh Max.
"Ada apa? Kenapa Kak Tristan menghadang kami? Minggirlah Kak, kami akan telat jika Kakak tetap berada di sini untuk menghadang kami," ucap Miyuki dengan nada bicara seperti biasanya.
Tristan mengacuhkan perkataan istrinya. Dia berjalan mendekati istrinya dan menarik tangannya seraya berkata,
"Masuklah ke dalam mobilku. Aku akan mengantarkanmu."
Demi menjalankan rencananya bersama dengan Max, Miyuki berakting sedikit memberontak ketika berjalan dengan tangannya yang ditarik oleh Tristan menuju mobilnya.
Max hanya terkekeh di dalam mobilnya melihat Tristan yang terlihat sangat marah padanya.
Dia pun keluar dari mobilnya dan berusaha menghentikan Tristan yang akan membawa Miyuki masuk ke dalam mobilnya.
"Slow man… Kenapa harus sekasar itu pada perempuan?" tukas Max diiringi seringaiannya pada Tristan.
Tristan menoleh ke arah Max. Dengan tatapan membunuhnya itu dia berkata,
"Aku tidak akan menyakitinya karena dia istriku. Lebih baik kamu tidak usah ikut campur."
Tristan membukakan pintu mobil untuk Miyuki. Setelah itu Tristan melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Max yang masih berdiri menatap mobil Tristan sambil terkekeh.
Max pun segera masuk ke dalam mobilnya dan segera menyusul mobil Tristan. Dia sengaja hanya mengikutinya dari belakang saja, dia tidak mau mendahului mobil Tristan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, mobil Tristan masuk ke dalam kampus Miyuki. Dia sengaja mengantarkan istrinya itu hingga masuk ke dalam parkiran mobil.
Di sana mereka bertemu dengan Kenshin yang sedang mengantar Raline. Mereka terlihat begitu mesra hingga hal itu membuat Miyuki menatap Tristan untuk memperhatikan reaksi suaminya.
"Kamu gak cemburu sama mereka?" tanya Miyuki dengan menatap suaminya.
Tristan yang tadinya melihat ke arah Kenshin dan Raline, kini mengalihkan perhatiannya pada Miyuki yang duduk di sebelahnya. Dia mengubah ekspresinya dengan tersenyum manis pada istrinya itu sambil berkata,
"Ayo kita turun Sayang."
Miyuki menghela nafasnya. Dia kecewa pada suaminya yang lagi-lagi tidak menjawabnya. Dalam hatinya berkata,
Dia selalu mengalihkan pembicaraan setiap aku tanya tentang perasaannya. Apa itu berarti dia masih mencintai Kak Raline? Lalu, apa aku harus tetap melanjutkan rencana ini?
"Ayo Sayang."
Suara Tristan yang kini telah berdiri di samping miyuki dengan membuka pintu mobilnya, membuat Miyuki menjadi sadar akan lamunannya.
Keluarlah Miyuki dari mobil tersebut. Dia menerima uluran tangan Tristan untuk membantunya turun dari mobil itu.
Ternyata Max sudah lebih dahulu menyapa Kenshin dan Raline. Mereka saling bertanya kabar dan bercanda seperti biasanya.
"Sepertinya aku harus segera masuk kelas," ucap Miyuki setelah dia menyapa Kenshin dan Raline.
Raline melihat jam yang melingkar di sebelah kirinya. Kemudian dia berkata,
"Iya benar. Kita harus masuk sekarang juga. Kapan-kapan saja kita berkumpul lagi."
Raline menarik tangan Miyuki untuk berjalan bersamanya. Dan Max, dia berjalan di sebelah Miyuki dengan tangannya yang merangkul pada pundak Miyuki.
Tristan kembali kesal melihat Max yang seolah selalu membuatnya ingin menghajarnya.
Tatapan amarahnya itu terlihat jelas oleh Kenshin. Kenshin menepuk pelan pundak Tristan dan tersenyum padanya.
Merasa ada yang menepuk pundaknya, Tristan menoleh ke arah tersebut. Dia melihat Kenshin yang tersenyum padanya.
"Enggak usah cemburu. Dari dulu Miyuki jadi princess nya kita semua. Jadi semua keluarga dan saudara laki-laki harus bisa menjaganya," tutur Kenshin sambil terkekeh.
__ADS_1
Setelah itu Kenshin meninggalkan Tristan untuk masuk ke dalam mobilnya. Tristan masih berdiri di sana dengan pandangan matanya yang masih tertuju pada istrinya.
Penuturan Kenshin masih terngiang di telinga Tristan. Dia masih memandang istrinya yang berjalan bersama dengan Raline dan juga Max.
"Tunggu!"
Teriakan dari suara yang familiar itu menghentikan langkah Miyuki, Raline dan juga Max. Mereka menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata Lucas yang sedang berlari ke arah mereka sambil berteriak memanggil mereka bertiga.
Tawa mereka pecah ketika Lucas sudah bergabung bersama dengan mereka. Candaan yang mereka keluarkan pun sedikit terdengar oleh telinga Tristan.
"Mereka tampak sangat bahagia. Apa aku harus bergabung bersama mereka agar bisa menjaga Mimi dari mereka berdua?" ucap Tristan lirih dengan pandangan matanya yang masih setia pada istrinya.
Setelah mereka semua sudah tidak terlihat olehnya, Tristan segera masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil itu dia kembali berpikir. Dalam hatinya dia berkata,
Sepertinya memang benar. Hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa menjauhkan Mimi dari mereka. Terutama dari Max yang selalu bersamanya.
Selama perjalanan menuju kantornya, Tristan tidak bisa tenang. Bahkan di saat dia bekerja pun hanya nama Miyuki lah yang ada di benaknya.
Kadang dia terbayang jika saat ini istrinya itu kembali mencium Max. Dan dia juga mengingat saat istrinya itu digendong oleh Max saat sedang pingsan.
Tristan menjambak rambutnya dengan frustasi. Dia mencoba memukul-mukul kepalanya agar semua pikiran buruk tentang istrinya itu bisa enyah dari kepalanya.
Dia berusaha keras mengenyahkan Miyuki dari pikirannya, sayangnya semua itu tidak membuahkan hasil.
Semakin lama bayangan dirinya bersama dengan istrinya ketika berada di dalam kamar villa waktu itu kembali hadir.
Bahkan kini dia bisa melihat istrinya sedang duduk pada kursi yang ada di hadapannya dengan tersenyum manis padanya.
"Sayang, apa ini benar kamu?" tanya Tristan secara tidak sadar dan tersenyum bahagia.
Tangan Tristan pun terulur ke arah istrinya untuk menyentuh wajahnya. Sayangnya tangan Tristan hanya menembus wajah Miyuki yang ternyata hanya suatu bayangan saja.
"Ah… Rasanya aku akan gila jika harus seperti ini," ujar Tristan yang terlihat sangat frustasi saat ini.
Dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke sana-kemari layaknya orang yang sedang memikirkan suatu hal yang penting.
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku akan benar-benar gila jika terus begini. Aku akan ke sana dan membawanya bersamaku agar aku merasa aman," ucap Tristan seraya tangannya meraih ponsel serta kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya.