
Hari ini Tristan tidak bisa bekerja dengan tenang. Dia masih saja kepikiran istrinya yang sedang marah padanya.
Bertumpuk-tumpuk berkas yang ada di mejanya tidak disentuh satu pun olehnya. Hanya satu map yang sedari tadi ada di hadapannya. Map tersebut hanya dilihatnya saja tanpa dikerjakan sedikit pun olehnya.
"Aku harus membujuknya agar dia tidak marah lagi padaku. Tapi bagaimana caranya?" tanya Tristan sambil berpikir.
Sesaat kemudian dia menutup map yang ada di hadapannya dan beranjak dari duduknya. Disambarnya tas, ponsel dan kunci mobilnya dengan tergesa-gesa.
"Pak Tristan mau ke mana?" tanya sekretaris Tristan yang hendak memberikan laporan padanya.
"Aku sedang terburu-buru," jawab Tristan sambil berjalan cepat menjauhi sekretarisnya tersebut.
"Tapi Pak," seru sekretaris tersebut untuk menghentikan Tristan.
"Nanti saja," seru Tristan sebelum dia memasuki lift.
Sekretarisnya itu hanya bisa menghela nafasnya. Itu berarti pekerjaannya akan bertambah nanti. Dia pun kembali ke ruangannya untuk meneruskan pekerjaannya dan menunggu Tristan di sana.
Dengan tergesa-gesa Tristan mengendarai mobilnya menuju kampus istrinya. Dia sudah tidak memikirkan hal lainnya.
Pekerjaan menurutnya memang penting, tapi menurutnya lebih penting meredakan amarah istrinya, karena kesejahteraan kehidupannya bersumber pada istrinya.
Tristan keluar dari mobilnya seolah dia sedang terburu-buru mencari seseorang.
"Tristan?! Kamu mau jemput Miyuki?"
Suara seorang perempuan mengalihkan pandangan mata Tristan yang sedang mengelilingi seluruh area tempatnya berdiri saat ini.
"Raline?! Kamu tau di mana Mimi berada?" tanya Tristan pada Raline yang saat ini sudah ada di dekatnya.
Raline melihat jam yang melingkar di tangan kirinya seraya berkata,
"Mungkin sebentar lagi dia akan keluar dari kelas."
Tristan menghela nafasnya lega sambil tangannya mengusap dadanya. Tiba-tiba dia melihat Raline yang terlihat aneh.
"Raline!" seru Tristan yang sudah dalam keadaan menangkap tubuh Raline.
Raline tiba-tiba pingsan. Beruntung ada Tristan yang sedang bersamanya, sehingga dengan cepatnya dia bisa menangkap tubuh Raline.
Semua pasang mata yang ada di sekitar tempat itu mengarah pada Raline. Tepat pada saat itu Miyuki sedang berjalan bersama dengan Max dan juga Lucas. Mendengar suara laki-laki yang menyerukan nama Raline, mereka bertiga pun menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Mata Miyuki terbelalak ketika melihat suaminya yang sedang menggendong Raline dan berjalan tergesa-gesa.
Miyuki menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa dia merasa kecewa dan cemburu melihat Raline yang dalam keadaan pingsan digendong oleh Tristan. Padahal selama ini Miyuki tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Kak Raline kenapa Kak?" tanya Lucas pada Tristan yang menghampiri mereka.
Terlihat jelas wajah Tristan yang sangat cemas pada Raline. Hati Miyuki merasa sangat sakit, hingga buliran air mata menetes di pipinya.
"Sayang, aku ke sini untuk menemuimu," ucap Tristan dengan wajah memohonnya pada istrinya.
Miyuki menatap Raline yang masih dalam gendongan Tristan. Hatinya kembali sakit. Bulir air matanya jatuh begitu saja di pipinya.
Tristan mengikuti arah pandang istrinya. Seketika dalam hatinya merutuki kebodohannya yang masih membawa tubuh Raline dalam gendongannya.
"Lucas bawa Raline!" seru Tristan dengan emosinya.
Lucas menerima tubuh Raline yang masih pingsan dalam gendongannya.
Miyuki mengusap kasar air mata yang luruh begitu saja di pipinya. Tanpa mereka sadari, kini banyak sekali pasang mata yang menjadikan mereka sebagai layaknya tontonan gratis.
Tristan sudah kehilangan cara untuk meminta maaf pada istrinya. Melihat air mata istrinya, membuatnya semakin merasa bersalah.
Tristan berlutut di hadapan istrinya. Kedua tangannya meraih kedua tangan istrinya dan memegangnya dengan erat seraya berkata,
Rencana Max dan Miyuki selama ini bisa dikatakan berhasil saat ini. Tristan telah mengakui cintanya pada Miyuki di hadapan semua orang yang ada di sana.
Tapi entah mengapa Miyuki merasa hatinya sakit dan air matanya masih saja ingin memaksa keluar dari pelupuk matanya.
Tidak ingin mendengar alasan dari suaminya, Miyuki menghempaskan tangan suaminya dan segera membalikkan badannya untuk meninggalkan suaminya.
Namun, pada saat itu juga Miyuki terbentur badan seorang mahasiswa yang berbadan besar sehingga tubuh Miyuki oleng dan hilang keseimbangan.
Dengan cepatnya tubuh Miyuki ditangkap oleh Max. Dan kini Miyuki sudah ada dalam gendongan Max, sama seperti Raline dalam gendongan Tristan.
"Yuki… Yuki… sadar!" seru Max yang melihat mata Miyuki terpejam dan badannya sangat lemah.
"Sial!" umpat Tristan melihat kejadian yang begitu cepat terlihat di depan matanya.
Max masih saja membangunkan Miyuki, sayangnya Miyuki memang benar-benar pingsan saat ini.
"Biar Mimi bersamaku," ucap Tristan sambil mencoba mengambil alih Miyuki dari gendongan Max.
__ADS_1
"Aku akan membawanya ke rumah sakit. Kami urus saja Kak Raline," tukas Max sambil tersenyum sinis pada Tristan.
Tristan meraih paksa tubuh istrinya seraya berkata,
"Dia istriku. Aku yang harus mengurusnya karena aku suaminya."
Max sengaja tidak mempererat pegangannya pada tubuh Miyuki. Dia hanya menyulut kemarahan dan rasa cemburu Tristan saja.
Tristan berjalan cepat menuju mobilnya dengan membawa Miyuki dalam gendongannya.
Lucas dan Max pun membawa Raline ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Max karena Lucas yang masih dalam posisi menggendong tubuh Raline.
Dengan segera mobil mereka melaju membelah jalan raya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Miyuki segera digendong oleh Tristan menuju ruang IGD.
Hanya selang beberapa detik saja, Raline pun tiba di ruang IGD dengan Lucas yang membopongnya menuju ruangan tersebut.
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang familiar di indera pendengaran mereka.
Mereka semua menoleh ke arah sumber suara dan mereka terkejut saat mendapati Kiki sudah ada di ruangan tersebut karena mereka belum sempat untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi padanya.
"Mami?! Mimi sama Raline Mi. Tiba-tiba mereka pingsan Mi," ucap Tristan yang terlihat sangat cemas.
"Kenapa mereka bisa pingsan bersamaan? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kiki sambil menatap penuh tanya pada Tristan, Max dan Lucas secara bergantian.
Max dan Lucas menoleh pada Tristan. Seolah mereka berdua mengharap agar Tristan yang menjawab pertanyaan yang diajukan Kiki pada mereka bertiga.
Tristan menghela nafasnya dan mengumpat Lucas serta Max yang seolah menyalahkannya. Kemudian dia berkata,
"Tadi tiba-tiba Raline pingsan Mi. Dan setelah itu Mimi juga pingsan."
Tristan tidak menceritakan secara detail karena dia akan malu didengar oleh staf medis yang ada di ruangan tersebut.
Setelah mendengar jawaban dari Tristan, Kiki mendekati dokter yang sedang memeriksa Miyuki dan Raline.
Tampak dari tempat Tristan, Max dan Lucas saat ini berdiri, Kiki sedang berbicara dengan dokter tersebut.
Tiba-tiba dokter Andini, dokter SpOG, masuk ke ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Miyuki dan Raline secara bergantian.
"Kenapa dokter Andini memeriksa Yuki dan Kak Raline?" ucap Max lirih sambil menatap dokter yang masih memeriksa Miyuki dan Raline secara bergantian.
__ADS_1
Seketika Lucas dan Max saling menoleh dan berkata bersamaan,
"Jangan-jangan…."