
Max membawa Miyuki ke ruang Kesehatan. Dengan telatennya Max menyiapkan semua keperluan Miyuki dan merawatnya.
“Yuki, apa kamu baik-baik saja?” tanya Raline yang terlihat sangat khawatir pada adik iparnya.
“Aku baik-baik saja Kak. Lebih baik Kak Raline kembali bekerja saja. Ada Max di sini yang selalu menjagaku,” jawab Miyuki sambil tersenyum pada Raline.
“Balik kerja aja Kak. Ada aku yang jaga Raline,” ucap Max yang seolah mengusir Raline dari ruangan tersebut.
Raline merasa gusar, dia sangat cemas pada Miyuki, tapi benar yang dikatakan Miyuki dan Max bahwa dia harus kembali bekerja. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali bekerja, tapi sebelum itu dia mengatakan sesuatu pada Max dan Miyuki.
“Kakak akan kembali bekerja, tapi jika ada apa-apa atau kalian butuh sesuatu, kalian harus hubungi Kakak.”
Miyuki dan Max tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Raline. Setelah itu Raline meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan Miyuki dan Max hanya berdua di dalamnya tanpa menutup pintunya.
Dengan telatennya Max membersihkan luka Miyuki menggunakan cairan antiseptic yang membuatnya terasa perih hingga meringis kesakitan. Sontak saja Max meniupi luka tersebut secara perlahan dan telatennya.
Begitu juga pada saat max mengoleskan salep untuk luka lecet yang ada di beberapa bagian tubuhnya. Hal yang sama dilakukan oleh Max, dengan telatennya dia mengoleskan salep tersebut dengan perlahan dan meniupi lukanya yang terasa pedih ketika disentuh dan terkena obat.
“Luka ini bisa hilang kan Max?” tanya Miyuki sambil meringis menahan rasa pedih ketika Max mengoleskan salep pada lukanya.
“Kenapa? Takut gak laku ya karena ada bekas lukanya?” tanya Max sambil terkekeh.
“Dikira barang, gak laku? Tapi bener juga sih Max, nanti kalau ada bekas lukanya kan jadi gak mulus lagi. Terus gak ada yang suka sama aku gimana? Apalagi nantinya status aku sudah berubah meskipun masih ori,” ucap Miyuki sambil terkekeh di akhir perkataannya.
Max pun ikut terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh sepupunya itu. Kemudian dia berkata,
“Kamu lupa masih ada aku di sini. Aku siap melakukan apa saja untukmu Tuan Putri.”
“Iya juga ya Max,” sahut Miyuki sambil terkekeh.
Ternyata ada Tristan yang mendengar dan melihat semua yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Dia berada di sana sejak Raline meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Dadanya bergemuruh, kedua tangannya mengepal dengan kuat, rahangnya mengeras menahan amarahnya.
Bahkan wajahnya saat ini terlihat sangat marah melihat istri dan sepupunya yang terlihat seperti pasangan dan mendengar percakapan mereka yang membuat Tristan tidak terima dan ingin menghajar Max yang berani menyentuh istrinya, bahkan dengan terang-terangan menggendong Miyuki di depannya.
Dengan hatinya yang dikuasai oleh emosi, Tristan masuk ke dalam ruangan tersebut dan mendekati mereka sambil berkata,
“Mimi, ayo aku antar ke rumah sakit.”
Miyuki dan Max menoleh ke arah Tristan yang kini sudah berdiri di dekat mereka. Miyuki mengacuhkannya. Dia merasa malas dan tidak ingin bertemu dengan suaminya itu.
Max tersenyum sinis melihat kehadiran Tristan di ruangan tersebut. Dia melihat Miyuki yang mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah tidak ingin melihatnya.
“Sepertinya kehadiran anda di sini tidak diinginkan Tuan Tristan yang terhormat,” ucap Max sambil tersenyum sinis pada Tristan.
Tatapan Tristan semakin tajam pada Max seolah tatapannya itu menghunus ke dalam jantungnya. Max menyeringai. Dia tidak pernah gentar menghadapi apa pun.
Tristan meraih tangan Miyuki untuk diajaknya segera keluar dari ruangan tersebut. Sayangnya Miyuki dengan tegas menolaknya. Dia menghindari sentuhan Tristan. Bahkan pada awal dia menyentuh tangannya, Miyuki dengan kasarnya menghempaskan tangan Tristan.
Tristan menatap nanar pada Miyuki yang menolak ajakannya. Dia merasa bersalah pada istrinya. Diakuinya jika dia memang bersalah. Tapi dia ada di antara dua pilihan. Menolong istrinya atau menolong wanita yang dicintainya.
“Sudah dengar kan? Sekarang lebih baik anda tinggalkan ruangan ini agar kami berdua bisa beristirahat di sini,” tukas Max sambil menyeringai seolah mengolok Tristan.
Merasa harga dirinya diinjak-injak, Tristan meninggalkan ruangan itu dengan langkah beratnya yang sebenarnya tidak ingin meninggalkan tempat itu.
Max tersenyum penuh dengan kemenangan melihat kekalahan dalam mata Tristan. Dia menutup pintu ruangan tersebut. Kemudian dia mengulurkan tangannya di depan Miyuki sambil berkata,
“Tos dulu dong.”
Miyuki tersenyum dan menyambut uluran tangan Max dengan memberinya tos ala mereka. Kemudian dia berkata,
“Max, cabut yuk. Aku ingin makan es krim.”
__ADS_1
Max mengernyitkan dahinya mendengar permintaan dari sepupunya itu. Dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya sambil berkata,
“Masih jam segini Yuki. Mereka masih belum buka.”
Miyuki mengerucutkan bibirnya, mirip sekali dengan maminya jika sedang kesal ataupun merajuk. Sebenarnya dia ingin tetap di sana, tapi entah mengapa dia ingin melupakan kejadian tadi pagi sehingga dia tidak ingin berada di kampus untuk saat ini.
Seketika mata Miyuki berbinar saat dia mengingat sesuatu. Kemudian dia berkata,
“Max, kemarilah. Aku ingin membisikkan sesuatu padamu.”
Max pun menurut. Dengan segera dia mendekati Miyuki dan mendekatkan telinganya di depan wajah Miyuki. Dengan segera Miyuki mendekatkan bibirnya di telinga Max dan membisikkan sesuatu padanya.
Saat itu Tristan yang sudah berjalan menuju parkiran, tiba-tiba dia merubah tujuannya. Dia berjalan kembali ke ruang Kesehatan untuk membawa paksa istrinya bersamanya. Dan kini, dari jendela kaca dia bisa melihat apa yang sedang dilakukan istrinya bersama dengan sepupunya itu.
Dari sudut pandangnya, Tristan melihat seolah Miyuki sedang mencium pipi Tristan. Padahal Miyuki hanya membisikkan sesuatu di telinga Max. Setelah itu Max dan Miyuki terlihat saling menatap dan tersenyum.
Hanya dengan melihat hal itu saja membuat hati Tristan sangat sakit dan dadanya terasa bergemuruh. Tidak tahan melihat apa yang terjadi, Tristan meninggalkan tempat tersebut dengan kemarahannya yang merajai hatinya.
“Kamu serius Yuki?” tanya Max sambil menatap Miyuki dengan serius.
Miyuki menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari Max. Kemudian dia berkata,
“Aku sangat yakin Max. Aku ingin ketenangan saat ini. Dan aku juga ingin tahu apa yang akan dilakukannya nanti ketika aku melakukan itu.”
Max mengerti apa yang sedang dirasakan dan sedang dipikirkan oleh sepupu cantiknya itu. Dia tidak bisa melepaskan begitu saja Miyuki dari pengawasannya. Mereka sudah terbiasa bersama sejak kecil dan dia sudah terbiasa menjaga Miyuki di mana pun dia berada.
“Baiklah. Aku akan menuruti keinginanmu. Tapi apa kita tidak perlu meminta ijin pada siapa pun?” tanya Max yang terlihat sedikit ragu.
“Gak perlu Max. Lagi pula kita juga hanya pergi sebentar saja. Hanya hari ini saja kita di sana dan kita tidak akan menginap,” jawab Miyuki sambil menggerak-gerakkan alisnya sambil tersenyum meyakinkan Max.
Max pun tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membantu Miyuki beranjak turun dari bed yang didudukinya.
__ADS_1