
Tristan membuka kamarnya dan melihat istrinya yang tidur dengan posisi tidak wajar. Istrinya itu sedang meringkuk menahan perutnya yang kemungkinan masih terasa sakit.
Dia mendekat ingin memasangkan selimut pada istrinya. Tapi, seketika matanya melotot ketika Miyuki tiba-tiba merubah posisinya menjadi telentang.
Tali bathrobe nya terbuka, sehingga bagian depan bathrobe nya tersibak dengan lebarnya dan menampakkan bagian depan tubuh Miyuki yang putih mulus tak berbekas.
“Oh jadi ini tubuh anak made in Japan?” celetuk lirih Tristan tanpa berkedip melihat tubuh polos istrinya yang hanya terlihat bagian depannya saja.
Meskipun hanya terlihat bagian depannya saja, tapi itu mencakup semua yang ingin dilihat oleh Tristan sebagai kaum laki-laki normal. Dia meneguk ludahnya sendiri melihat dengan jelas aset berharga milik istrinya.
Sayangnya dia tidak bisa menyentuhnya sekarang ini karena ada perjanjian tertulis yang sudah mereka setujui dan telah mereka tandatangani sebelum mereka menikah.
Tok… tok… tok…
“Tuan, ada yang mengantar obat di luar,” ucap seseorang wanita yang dari suaranya terdengar memiliki usia paruh baya.
Sontak saja Tristan tersadar setelah mendengar suara dari balik pintu kamarnya yang sedang memanggilnya. Segera ditutupinya badan istrinya itu menggunakan selimut yang sudah ada di tangannya. Kemudian dia bergegas membuka pintu kamarnya.
“Ada apa Bik?” tanya Tristan sambil menutup pintu kamarnya ketika sudah keluar dari kamarnya.
“Ada yang mengantar obat di luar Tuan. Katanya sih obat pesanan Nyonya Miyuki,” jawab Bik Saroh sambil menunduk hormat pada Tristan.
“Baiklah Bik akan saya ambil. Tolong siapkan air untuk meminum obatnya. Dan juga tolong masakkan bubur untuk istri saya,” ucap Tristan tanpa sadar menyebut Miyuki sebagai istrinya.
Dengan langkah sigapnya dia mengambil obat tersebut yang diantar oleh kurir. Dan dengan tergesa-gesa dia segera kembali ke dalam kamarnya untuk memberikan obat tersebut pada Miyuki sesuai dengan perintah ibu mertuanya.
Kebetulan sekali Bik Saroh juga sedang mengantar air minum untuk Miyuki sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tristan padanya.
“Mimi… Mimi bangun… ini obatnya diminum dulu,” ucap Tristan sambil merapikan rambut yang menutupi wajah istrinya.
“Mimi… ayo bangun dulu. Diminum dulu obatnya,” ucap Tristan sambil menggerak-gerakkan lengan Miyuki.
“Emmm…,” gumam Miyuki sambil meringis menahan rasa sakitnya yang sepertinya datang kembali.
“Sakit ya perutnya? Ini obatnya diminum dulu. Bik Saroh masih memasakkan bubur untukmu. Nanti dimakan ya buburnya,” ucap Tristan dengan sangat lembut sehingga membuat Miyuki seperti terhipnotis dan menuruti perintah suaminya yang tidak pernah bersikap manis ataupun berbicara lembut padanya.
__ADS_1
Namun, ketika dia akan memasukkan obat tersebut ke dalam mulutnya, dia menghentikannya seolah dia enggan menelannya.
“Kenapa? Ayo diminum,” tanya Tristan dengan menatap heran pada istri kecilnya.
“Emmm… takut pahit,” ucap Miyuki sambil meringis menahan sakitnya.
“Terus gimana caranya kamu minum obat selama ini?” tanya Tristan yang masih menatap heran pada istrinya.
“Dihalusin sama Mami,” jawab Miyuki malu memperlihatkan sisinya yang masih seperti anak kecil.
Tristan mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari istrinya itu. Jujur saja dia ingin menertawakannya. Hanya saja untuk saat ini dia sadar jika bukan saat yang tepat untuknya menertawakan istrinya itu. Dia berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum tipis untuk menjalankan rencananya setelah dia berkata,
“Ya sudah, berhubung aku malas turun ke bawah, jadi….”
Tristan memasukkan obat tersebut pada mulutnya. Kemudian secepat kilat tangan Tristan memegang tengkuk leher Miyuki dan memasukkan obat yang ada dalam mulutnya ke dalam mulut Miyuki dengan cara menciumnya.
Sontak saja mata Miyuki terbelalak sempurna. Dia tidak mengira jika ciumannya kembali diambil oleh Tristan yang kini telah berstatus sebagai suaminya.
Setelah dirasa obat tersebut sudah berpindah ke dalam mulut Miyuki, Tristan melepas bibirnya dari bibir istrinya. Dia tersenyum geli ketika melihat istrinya hanya diam dengan mata yang terbelalak dan hanya bulu matanya saja yang bergerak naik turun.
Sangat menggemaskan sekali dia,Tristan berkata dalam hatinya.
“Pahit…,” ucap Miyuki sambil meraih gelas yang berisi air putih dan segera meminumnya hingga habis.
Setelah meminum habis air putih tersebut, dia bernafas ngos-ngosan seolah habis berlari keliling halaman rumahnya.
“Sudah kan?” tanya Tristan sambil menahan tawanya.
Miyuki menganggukkan kepalanya tanpa memandang ke arah suaminya. Lepas sudah tawa Tristan yang sedari tadi ditahannya. Dai tidak bisa lagi menahan tawanya ketika melihat wajah istrinya yang sepertinya sangat tersiksa ketika meminum obat.
Mendengar tawa suaminya yang sedang menertawakannya, Miyuki segera beranjak dari duduknya berniat untuk turun dari ranjang dan memukul suami lucknut nya itu.
“Bisa-bisanya kamu menertawakan istrimu yang sedang tersiksa,” ucap Miyuki sambil berdiri tanpa melihat keadaan dirinya saat ini.
Glek!
__ADS_1
Seketika Tristan menelan ludahnya ketika matanya tertuju pada aset berharga milik Miyuki yang terpampang jelas di hadapannya.
Miyuki mengomel sambil memukul-mukul tubuh suaminya dengan bertubi-tubi. Sayangnya, Tristan hanya diam saja tanpa melawan dan tatapan matanya masih tertuju pada tempat yang sama. Hingga tanpa sadar tangannya bergerak hendak menyentuh dua bagian tubuh Miyuki yang kembar.
Miyuki sadar akan tangan Tristan yang mengarah di bagian dadanya. Dengan sigapnya tangannya menghentikan tangan Tristan sambil berkata,
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Apa boleh aku memegangnya?” tanya Tristan tanpa sadar dan tatapan matanya masih mengarah di tempat yang sama.
“Gak boleh! Kita hanya nikah kontrak saja. Dan aku hanya akan memberikan semuanya untuk suamiku yang benar-benar mencintaiku,” jawab Miyuki dengan tegas.
“Itu juga?” tanya Tristan sambil melihat ke arah bagian bawah tubuh Miyuki yang merupakan aset utamanya yang sangat berharga.
“Tentu saja,” ucap Miyuki dengan tegas.
Namun dia melihat tatapan suaminya yang tidak biasa. Bahkan suaminya meneguk ludahnya berkali-kali melihat bagian tersebut.
Miyuki mengikuti arah pandang suaminya. Seketika dia berteriak sambil memukul-mukul tubuh suaminya dengan sekuat tenaganya.
“Dasar lelaki mesum. Bisa-bisanya kamu mencari kesempatan dalam kesempitan,” ucap Miyuki sambil memukul-mukul tubuh Tristan.
“Aku tidak menyentuhmu sama sekali. Kamu sendiri yang turun dari ranjang dalam keadaan seperti itu,” sahut Tristan yang tidak mau disalahkan oleh istrinya.
“Harusnya kamu langsung bilang, bukannya malah menikmatinya,” ucap Miyuki yang masih belum berhenti memukuli suaminya dengan tangannya.
“Kalau gak boleh dilihat, tutup dong, jangan dibuka terus begitu,” sahut Tristan sambil menangkis pukulan dari istrinya.
Seketika Gerakan tangan Miyuki berhenti. Dengan gerakan secepat kilat, dia menutup bagian depan tubuhnya menggunakan bathrobe nya dan mengikat kembali talinya.
Dia batu ingat jika memang tadi dirinya sendiri yang melonggarkan tali bathrobe nya ketika dia merasakan sakit perutnya semakin menjadi. Rupanya dia bukan hanya melonggarkannya saja, tangannya itu membuka tali bathrobe nya sendiri.
“Jangan salahkan suamimu ini jika melihat tubuhmu. Bahkan sudah sewajarnya jika aku menyentuhnya, karena kita sudah menikah dan menjadi suami istri yang sah secara agama dan hukum,” ucap Tristan sambil merapikan kaosnya.
“Suami istri dari mana? Singkirkan dulu itu perjanjian jika memang kita benar-benar suami istri,” ucap Miyuki sambil terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sepertinya sakit perut Miyuki belum sembuh benar. Dia kini kembali berjuang melawan rasa sakitnya di toilet. Dan kembali terdengar bunyi-bunyian khas yang mewakili rasa sakitnya.
Preeeet…!!!