
Keesokan paginya, mereka bangun dalam keadaan berpelukan. Bahkan mereka sama-sama menjadikan tubuh pasangannya sebagai guling. Kaki mereka saling menindih dan saling memeluk erat tubuh pasangannya.
Kini mereka sama-sama salah tingkah dan canggung ketika bertatap mata. Pasalnya, mereka semalam tidur dengan saling membelakangi. Tapi, ketika mereka bangun, posisi mereka seratus persen berubah. Apa yang mereka tidak inginkan malah terjadi.
Dengan segera Miyuki masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Tristan, dia merasa aneh dengan dirinya yang merasa bahagia dalam hatinya.
“Lebih baik aku mandi di kamar sebelah saja,” ucap Tristan sambil beranjak dari ranjangnya.
Setelah beberapa saat, Tristan masuk ke dalam kamar mereka dengan penampilan yang berbeda. Dia sudah terlihat segar dan berpakaian rapi.
Saat itu juga Miyuki keluar dari kamar mandi. Dia juga sudah memakai pakaiannya di dalam kamar mandi. Mata mereka saling menatap dan teringat akan posisi tidur mereka saat mereka terbangun pagi tadi, sehingga mereka kembali salah tingkah.
“Mau berangkat jam berapa?” tanya Tristan dengan berpura-pura sibuk melihat ponselnya.
“Terserah Kak Tristan saja. Mau berangkat sekarang juga boleh. Aku sudah siap kok sekarang,” jawab Miyuki sambil berdiri menghadap ke arah suaminya, memperlihatkan jika dia sudah siap.
Tidak dipungkiri jika Tristan terpukau dengan penampilan istrinya. sayangnya dia menolak untuk memujinya. Dia tidak ingin dirinya jatuh dalam perangkap cinta istri yang hanya menjadi istri kontraknya saja.
“Aku tunggu di bawah,” ucap Tristan sambil berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar tersebut.
“Yes!” ucap Miyuki lirih sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas setelah suaminya keluar dari kamarnya.
Dengan segera dia meneliti penampilannya. Berdirilah dia di depan cermin besar dan memutar-mutar badannya, melihat penampilannya dari samping dan belakang melalui cermin.
Setelah dirasa sudah cukup, dia segera keluar dari kamarnya dengan membawa sling bag nya.
Setelah beberapa saat, Miyuki turun dari tangga ketika Tristan sedang menikmati kopinya sambil membaca koran. Melihat istrinya berjalan ke arahnya, Tristan segera meletakkan cangkirnya di atas meja makan dan melipat korannya. Kemudian dia berkata,
“Apa mau sarapan dulu?” tanya Tristan sambil memandang istrinya yang sedang berjalan ke arahnya.
Miyuki melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Kemudian dia berkata,
“Langsung berangkat aja deh Kak. Nanti kesiangan loh.”
__ADS_1
Tristan melihat arloji yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dahinya mengernyit dan berkata,
“Masih jam segini. Memangnya mau ke mana sih takut kesiangan?”
Miyuki tersenyum lebar mengingat rencananya dan tempat yang akan mereka tuju. Sayangnya dia tidak memberitahukan pada suaminya untuk saat ini. Dia ingin memberitahukannya nanti saat mereka sudah berangkat.
“Nanti deh Yuki kasih tau. Kita berangkat sekarang aja yuk Kak,” ucap Miyuki sambil menarik tangan suaminya tanpa ragu.
“Loh Tuan sama Nyonya mau pergi sekarang?” tanya Bik Saroh yang membawa segelas susu UHT untuk Miyuki.
“Iya Bik. Kita pergi dulu ya Bik,” jawab Miyuki dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
“Eh tunggu sebentar. Ini Nyonya, susunya diminum dulu,” ucap Bik Saroh sambil mengulurkan gelas yang berisi susu UHT pada Miyuki.
Dengan segera Miyuki melepas tangan Tristan dan menerima gelas tersebut dari Bik Saroh. Kemudian dia meminumnya.
“Tidak sarapan dulu Tuan?” tanya Bik Saroh pada Tristan.
“Mimi tidak mau Bik. Katanya takut kesiangan,” jawab Tristan sambil melihat istrinya yang sedang menghabiskan segelas susu.
“Tidak usah Bik!” seru Miyuki setelah meneguk habis minumannya.
“Tunggu sebentar saja. Bibik tidak mau dimarahi sama Nyonya besar jika Nyonya dan Tuan tidak sarapan sebelum pergi,” seru Bik Saroh sambil berjalan cepat membawa box makanan dari arah dapur menuju meja makan.
“Jadi makannya nanti di dalam mobil gitu Bik?” tanya Miyuki sambil melihat Bik Saroh dengan lihainya menata semua makanan yang ada di atas meja ke dalam satu box besar.
“Iya Nyonya. Biar Nyonya tidak sakit lagi,” jawab Bik Saroh sambil meletakkan makanan ke dalam box.
“Tapi Bik, besar sekali itu box nya. Isinya juga kebanyakan Bik. Mubazir nanti. Lebih baik bawa sedikit saja, lainnya bisa Bibik makan,” tukas Miyuki sambil menunjuk box yang ada di tangan Bik Saroh.
Bik Saroh menutup box tersebut yang berisi penuh makanan dalam box besar tersebut. Kemudian dia menatap Miyuki sambil berkata,
“Ini nanti dimakan berdua dengan Tuan. Kan Tuan yang nyetir, jadi Nyonya yang menyuapi Tuan sambil menyuapi Nyonya sendiri.”
__ADS_1
Seketika mulut Miyuki menganga. Dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sedangkan Tristan terkekeh melihat reaksi istrinya ketika mendengar ucapan Bik Saroh. Dan dia merasa jika inilah kesempatan dia untuk memberi pelajaran pada istrinya.
Mendengar kekehan suaminya, Miyuki jadi tersadar. Kemudian dia memprotes pada Bik Saroh,
“Kenapa Yuki harus menyuapi Kak Tristan Bik? Dia bukan bocah yang harus disuapi.”
“Tapi Tuan Tristan suami Nyonya. Jadi sudah sewajarnya jika suami istri saling menyuapi. Mungkin pagi ini Nyonya yang menyuapi Tuan, tapi siapa tau jika nanti malam Tuan yang menyuapi Nyonya,” tutur Bik Saroh sambil tersenyum geli.
“Tuan sombong ini menyuapi saya Bik? Tidak mungkin Bik. Dan tidak bisa diharapkan itu bisa terjadi,” ucap Miyuki dengan kesalnya sambil menunjuk ke arah Tristan.
Kemudian dia mengambil box tersebut dari tangan Bik Saroh dengan memasang wajah kesalnya. Setelah itu dia berjalan menuju pintu untuk segera keluar dari rumah.
“Tuan sombong ini suami kamu. Ingat itu!” sahut Tristan sambil menyenggol tubuh Miyuki yang sedang berjalan ke arah pintu.
Tubuh Miyuki terhuyung karena senggolan dari Tristan. Untung saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh ke lantai.
Dia menatap tidak percaya dengan tingkah konyol suaminya yang tidak pernah diketahuinya.
Bahkan tanpa sepengetahuan Miyuki, Tristan tidak pernah sama sekali melakukan hal itu. Hanya kali ini dia melakukan sikap kekanak-kanakan pada istrinya.
Bik Saroh terkekeh melihat tingkah lucu sepasang suami istri yang menurutnya sangat menyenangkan.
Bahkan di mata Bik Saroh, Miyuki dan Tristan saling mencintai. Dan cara mereka berdua menunjukkan kasih sayang dan cinta mereka masing-masing berbeda dengan pasangan yang lainnya.
Menurut Bik Saroh, pasangan suami istri seperti Miyuki dan Tristan tidak akan membosankan. Dan yang terpenting, banyak yang iri dengan mereka berdua. Itu yang diyakini oleh Bik Saroh saat melihat keseharian Miyuki dan Tristan jika bersama.
Tiba-tiba Bik Saroh dikagetkan dengan dering telepon dari ponsel yang ada di sakunya. Segera diambilnya ponsel tersebut dari sakunya dan segera diangkatnya telepon tersebut setelah melihat nama Nyonya besarnya pada layar ponselnya.
“Halo, selamat pagi Nyonya,” sapa Bik Saroh mengawali percakapan mereka.
“Mereka pasangan yang serasi Nyonya. Saya lihat mereka saling mencintai. Sekarang saja mereka sedang pergi berdua menghabiskan waktu liburan mereka,” ucap Bik Saroh menanggapi perkataan dari seseorang yang berbicara dengannya melalui telepon.
“Baik Nyonya,” ucap Bik Saroh setelah mendengar apa yang dikatakan orang tersebut.
__ADS_1
Kemudian dia mematikan teleponnya dan membawa tumpukan piring kotor bekas makanan tadi menuju dapur.