
Ciuman yang hanya sekilas itu berhasil membuat Miyuki mematung. Dia benar-benar terkejut mendapatkan serangan dari suaminya.
Memang tadinya dia mengharapkan hal yang lebih ketika Tristan hanya membantunya untuk membuka sabuk pengamannya. Tapi dia tidak mengira jika Tristan tiba-tiba menciumnya.
Terlebih dia tidak siap ketika menerima ciuman tersebut, sehingga wajah Miyuki terlihat sangat lucu saat terkejut mendapatkan ciuman dari Tristan.
Miyuki masih saja terbengong. Dia hanya menggerak-gerakkan naik turun bulu matanya yang lentik itu.
Tristan tersenyum geli melihat ekspresi istrinya yang sangat menggemaskan itu. Tangannya menyentuh bibir Miyuki dengan sangat lembut. Serta matanya yang masih memandang bibir istrinya itu seolah dia sedang kelaparan.
"Manis. Ini milikku dan tidak boleh menjadi milik orang lain," tukas Tristan yang masih memandang bibir istrinya.
Seketika Miyuki tersadar. Dia menoleh ke arah lain agar tidak bertatap mata secara langsung dengan suaminya yang wajahnya masih berada tepat di depannya.
Tristan mengerti kegugupan istrinya. Dia keluar terlebih dahulu dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil istrinya.
"Silahkan Nyonya Tristan," ucap Tristan sambil membuka pintu mobil tersebut.
Terlihat semburat merah pada wajah Miyuki saat ini. Tanpa kemauannya, hatinya sendiri yang tersentuh oleh perkataan manis suaminya.
Tristan mengambil tangan Miyuki dan menggandengnya. Mereka berjalan masuk ke dalam kantor Tristan dengan sangat mesra.
Tangan Tristan berpindah tempat. Dia melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya ketika memasuki area lobi kantornya.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Seorang Tristan yang akan mewarisi perusahaan tersebut menggandeng mesra seorang wanita.
Mereka memang tahu jika Tristan sudah menikah, tapi mereka tidak tahu jika Miyuki lah yang menjadi istrinya.
Miyuki memang tidak pernah datang ke kantor Tristan selama ini, jadi wajar saja jika semua karyawan di sana tidak mengetahuinya.
Dulu, Tristan memang tidak pernah mengajak atau menyuruh Miyuki untuk datang ke kantornya karena dia tidak ingin karyawannya terlalu mengenalnya. Dengan alasan pernikahannya yang sebentar lagi akan berakhir sesuai dengan perjanjian yang mereka buat.
Namun, kini Tristan sendiri yang membawa Miyuki datang ke kantornya. Sekarang dia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Miyuki adalah istrinya agar tidak ada yang boleh mendekatinya.
Miyuki hanya menuruti saja keinginan suaminya yang tidak dikatakannya secara langsung padanya. Dia hanya bingung dengan perlakuan manis suaminya saat ini.
Tristan sangat gemas melihat wajah istrinya yang sedang malu saat ini. Rasanya ingin sekali dia memperlakukan istrinya itu seperti saat ini agar dia bisa selalu melihat wajah istrinya yang menggemaskan.
Tanpa sadar Miyuki berjalan bersama dengan Tristan hingga masuk ke dalam ruangan suaminya.
__ADS_1
"Duduklah di sini Sayang. Aku akan mempercepat pekerjaanku agar kita bisa pulang dengan segera," ucap Tristan sambil tersenyum mendudukkan istrinya di sofa yang menghadap ke kursinya.
Miyuki pun duduk di sana. Dia merasa canggung setiap Tristan melihat ke arahnya dan tersenyum padanya.
Gawat, sebenarnya yang masuk perangkap itu aku apa dia? Miyuki berkata dalam hatinya.
Tristan meraih ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar. Setelah itu dia kembali mengerjakan pekerjaannya.
Tidak berapa lama, ada yang mengetuk pintu ruangan Tristan. Tanpa melihat ke arah pintu, Tristan mempersilahkan orang tersebut masuk ke dalam ruangannya.
Masuklah seorang OB dengan membawa tray yang di atasnya terdapat beberapa box makanan dan minuman segar.
"Maaf Pak, ini pesanannya. Mau diletakkan di mana Pak?" tanya OB tersebut pada Tristan.
Tristan mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang sejak tadi menyita perhatiannya. Kini dia memandang OB tersebut seraya menunjuk meja yang ada di hadapan istrinya dan berkata,
"Letakkan saja di meja itu."
OB itu pun berjalan ke arah meja yang ada di hadapan Miyuki dan meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya pada meja tersebut.
Mata Miyuki berbinar ketika melihat makanan dan minuman yang ada di hadapannya. Bahkan dia tidak menyadari jika kini Tristan sudah duduk di sampingnya.
"Makan yuk Sayang, kamu pasti sudah lapar. Aku sengaja memesan makanan dan minuman kesukaan kamu."
Seketika hati Miyuki terasa seperti banyak bunga yang bermekaran di sana. Bahkan perutnya kini seperti digelitik mendengar perkataan suaminya dan perlakuan suaminya yang tidak biasa padanya.
Sibuk dengan apa yang dirasakannya, Miyuki hanya terdiam dan menatap malu pada hidangan yang tersaji di hadapannya.
Melihat istrinya yang masih terdiam, Tristan segera mengambil sendok dan menyendok makanan tersebut. Setelah itu dia mengarahkan sendok tersebut di depan bibir istrinya.
"Sayang, buka mulutnya," ucap Tristan dengan sangat lembut.
Lagi-lagi Miyuki menurut. Dia seperti terhipnotis oleh suara Tristan yang sangat lembut ketika berbicara padanya.
Mulut Miyuki pun terbuka dan masuklah makanan yang ada di sendok tersebut ke dalam mulut Miyuki.
Tristan tersenyum ketika istrinya itu mulai mengunyah makanannya. Dan kini dia hanya melihat istrinya yang sedang mengunyah makanannya.
"Kok Kak Tristan gak makan?" tanya Miyuki setelah menelan makanannya.
__ADS_1
Tristan tersenyum mencurigakan. Kemudian dia berkata,
"Suapin dong, gantian."
Seketika mata Miyuki terbelalak mendengar keinginan suaminya. Jujur saja jika dia teringat saat mereka saling menyuapi ketika pesta pernikahan mereka.
Mereka berdua dengan mudahnya bisa saling menyuapi tanpa ada perasaan apa pun. Dan tatapan mata mereka berdua saat itu penuh dengan permusuhan.
Berbeda dengan saat ini. Entah mengapa Miyuki merasa malu melakukannya. Dia merasa canggung dan gugup hanya untuk menyuapi suaminya saat ini.
"Sayang, ayo dong suapi suamimu ini. Kamu keberatan ya?" tanya Tristan dengan suara yang sedikit merajuk.
Sontak saja Miyuki mengambil sendok yang ada di meja dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Tristan padanya.
Tristan tersenyum senang ketika mengunyah makanan tersebut. Dia tidak mengira jika akan seindah dan sebahagia itu makan bersama dengan istrinya. Meskipun istrinya bukan Raline yang diinginkannya saat itu.
"Kamu suka semua makanan dan minuman ini kan?" tanya Tristan ketika sudah menelan makanannya.
"Iya, Yuki sangat suka sekali semua makanan ini," jawab Miyuki dengan mata yang berbinar.
"Aku sengaja menyiapkan semua ini hanya untukmu. Karena semua makanan dan minuman ini kesukaanmu. Benar kan?" tanya Tristan seolah meminta pengakuan dari istrinya.
Miyuki meminum orange jus yang ada di meja tersebut. Kemudian dia menatap suaminya dan berkata,
"Iya benar Kak. Kok Kak Tristan bisa tau semuanya?"
Tristan tersenyum senang dan mengusap sudut bibir Miyuki yang terdapat sisa bumbu dengan menggunakan jarinya seraya berkata,
"Aku bertanya pada Raline. Dan dia memberitahukan semua makanan dan minuman kesukaanmu."
Deg!
Seketika hati Miyuki sedikit merasakan sakit mendengar nama kakak iparnya disebut oleh suaminya. Terlebih lagi suaminya itu mengatakan jika dia menghubungi kakak iparnya itu yang dulu pernah ada di hati suaminya.
"Kenapa? Kamu terharu ya?" tanya Tristan dengan percaya dirinya.
Terharu apaan? Yang ada aku malah terguncang, Miyuki berkata dalam hatinya.
Namun, melihat senyum suaminya yang seperti tidak merasa bersalah, Miyuki hanya menghela nafasnya dan memberikan senyumannya agar suaminya tidak mengetahui perasaan hatinya yang terluka karenanya.
__ADS_1